Malam harinya ….
Sekiranya bisa, kurangkai saja semua kata di atas hitam putih. Bukan di dalam kepala dan bukan juga lewat mulut. Mereka berdengung dan memaksa untuk didengarkan dalam sekali waktu. Mungkin ice cream tadi sore telah membuat dengungan menjadi kian tajam hingga merobek kantong cairan hidung, maka cairan menjijikkan yang semakin lama semakin encer, mengucur tanpa henti.
Malam telah datang. Entah sudah berapa lama salju mewarnai langit gelap di luar jendela. Kata para ahli, bentuk setiap butir salju yang turun dari langit berbeda-beda jika dilihat melalui mikroskop. Begitulah bentuk denyut kepala yang kurasa. Badan rebah meriang, kepala kutekan kuat ke headboard tempat tidur karena isinya meronta-ronta ingin keluar. Obat flu dari kotak P3K lusuh yang kutemukan di lemari dapur belum menunjukkan efeknya. Sementara itu, aku masih terus khawatir sebab telah lancang menceritakan kisah kelam kepada orang asing.
“Janet saja tidak malu menceritakan tentang pekerjaannya yang sangat tabu bagi semua orang, termasuk dirinya sendiri. Kenapa kau bertingkah seolah-olah ceritamu lebih tabu? Ada banyak manusia yang punya cerita lebih kelam, tapi tidak berlebihan sepertimu. Sok paling penting saja kamu ini.” Di tengah riuh sakit sekujur tubuh, logika menyerang.
Aku menengadah mencari alasan, tetapi denyut nyeri dan hidung yang semakin tersumbat menghambatku untuk menemukan celah di langit-langit kamar tidur.
“Biarin. Tidak semua cerita harus diceritakan,” sahut suara lain.
“Diam,” bisikku marah. Namun, perdebatan mereka semakin sengit saat membahas masa lalu. Bagai di layar bioskop, bergantian mereka berlakon menghabiskan daya dan napas.
Tok tok tok tok.
Dentam dinding yang dipukul kencang lalu melambat, memecah layar bioskop. Seksama kuperhatikan pintu kamar, bermaksud meyakinkan diri apakah itu ketukan di pintu flat sebab suaranya berbeda. Kepala terangkat sebentar, lalu rebah kalah oleh denyut yang berputar seperti gasing. “Mungkin seperti banyaknya salju yang turun dari langit, denyut kepala ini tidak mempan hanya dengan satu butir obat,” pikirku sambil bangkit dengan semua kekuatan yang tersisa. Beberapa kali aku hampir terjungkal hingga harus berpegangan pada apa pun yang ada di dekatku.
Tok tok tok tok tok.
Terdengar lagi suara dinding yang dipukul perlahan. Kali ini, kuyakin bukan dari pintu, juga bukan dari dalam kepala. Tubuhku mulai terasa kebas dan seketika denging panjang yang memekakkan telinga menguasai suara apa pun itu. Degup jantung terasa nyeri. Kotak P3K lusuh di meja tengah terlihat dari pintu kamar tidur yang berhasil kubuka dengan susah payah sampai kaki bersimpuh di lantai.
Saat hendak bangkit lagi, kaki ini pun lunglai meski sudah mencoba berkali-kali. Demam meriang, hidung yang semakin berair, dengung melengking di telinga, dan degup jantung yang menggedor-gedor telah menyerap semua tenaga. Sakit sekejap akibat benturan kepala ke lantai; itulah yang terakhir kali terasa sebelum menutup mata.
…
Pohon Natal berukuran kecil berdiri indah di atas lemari combo dresser.
Kelap-kelipnya, boks kado Natal kecil-kecil di bawahnya, dan sebuah bintang emas besar di puncaknya adalah hal pertama yang tampak jelas saat aku membuka mata. Dua hari setelah malam Natal, sepuluh tahun lalu, di dalam kamar yang lumayan luas, kulihat ibuku berjalan gelisah ke sana kemari sembari menelepon seseorang di depan pohon Natal itu. Seorang wanita tua duduk di sofa dekat pintu. Jari-jemarinya saling tertaut dan raut wajahnya khawatir mengikuti gerak-gerik ibu.
Tenggorokanku sangat kering saat hendak memanggil Ibu. Aku meraih botol vodka di atas nakas kecil di samping kasur dan ternyata genggamanku begitu lemah meski isinya tak sampai seperempat. Alhasil, botol itu pun jatuh. Tak pecah, namun isinya membasahi lantai sekaligus menarik perhatian mereka. “Kau sudah bangun, Nak? Bagaimana kepalamu? Masih sakit?” Mereka tergopoh-gopoh menghampiri, lalu menghujani berbagai pertanyaan sembari mengelus-elus tangan dan kepalaku. Tak satu pun pertanyaan kujawab. Malah kupandangi mereka bergantian. Bingung hendak menanyakan di mana ini, siapa wanita tua itu, atau apakah meminta air minum saja.
“Sudah, jangan buat dia semakin pusing dengan pertanyaanmu.”
“A … ir,” ucapku terbata. Bibir kering saling menempel hingga mengucap satu kata saja terasa nyeri.
Wanita tua itu tergesa-gesa mengambil mug biru dari meja di samping sofa dan memberikannya kepada ibu. “Dokter sebentar lagi datang, ya, Nak. Ceritakan pada dokter kronologi lengkap sebelum kau pingsan. Setelah itu ….” Sambil membantuku minum dari mug biru tua bercorak bintang-bintang kuning, ibu tetap saja tidak membiarkan telingaku damai dari ocehannya. Beberapa kali wanita tua di belakangnya juga ikut menyahut.
“Dia siapa?” tunjukku lemah pada wanita tua setelah dahaga redam.
Bukannya menjawab, mereka malah terdiam. Wanita tua itu menghela napas, kemudian memandang kesal pada ibu yang duduk menunduk. “Kau tidak pernah memberitahunya siapa aku? Dia sudah sebesar ini, tidak pernah kau sebut namaku di hadapannya, Julie?”