Kota Angera

myht
Chapter #14

Dia Bukan Nala!

Dua belas tahun lalu, ada seorang gadis kecil yatim piatu berdiri hampir tiga puluh menit di depan pintu sebuah rumah besar nan mewah di kota Langerfield. Dua kota jauhnya di utara kota Angera. Ia membawa tas keranjang kecil berisi boneka kelinci, lengkap dengan beberapa boneka wortel kecil dan sayuran hijau.

Di belakangnya, seorang pria tua berkacamata dan berpakaian rapi khas pegawai pemerintah sedang tergopoh-gopoh membawa koper tua coklat terbuat dari kulit. Tangan kiri menuntun koper kain dengan ukuran lebih besar

“Rene, sebentar lagi bibimu akan datang, kamu tunggu di sini saja. Aku sedang ada janji. Kau membuatku terlambat,” ucapnya kesal setelah selesai menurunkan semua barang.

“Tapi kata suster Arnate, pak Ernest harus menemani sampai bibi Gertrude datang,” protes gadis kecil bernama Rene itu.

“Bagaimana kalau kau menunggu saja di sini sambil memakan chocolate bar dan beberapa bungkus Freddo ini? Nanti akan kuberikan lebih banyak, asal kau patuh jadi anak baik.”

“Ok,” ucap Rene tanpa ragu, tersenyum lebar sambil membuka kemasan Freddo dan duduk di front steps. Sebelum pergi, pak Ernest memintanya tersenyum ceria untuk keperluan foto dokumentasi panti sosial.

Namun, sampai langit gelap dan Rene kedinginan memeluk lutut di kursi taman rumah, tak ada yang datang. Seorang warga yang lewat melihatnya lalu melaporkan ke polisi. Begitulah akhirnya ia kembali ke panti sosial, dan pak Ernest pun dipecat.

 

Menjelang usia enam belas tahun, setelah melewati penolakan tiga rumah foster, Rene kembali dipanggil ke rumah bibi Gertrude. Bedanya, kali ini ia disambut oleh seorang perawat wanita. Di ruang tamu, seorang wanita tua berambut putih duduk lemah di atas kursi roda.

Seorang pria tua berpakaian formal datang dari arah dapur, tergesa menyambut lalu mempersilahkan duduk. Agar tamu tidak semakin bingung, Gerald memperkenalkan diri sebagai pengacara keluarga bibi Gertrude, dan menjelaskan alasan mereka berkumpul di sana.

“Bibimulah yang membiayai pemakaman orangtuamu dan meminta dinas sosial membawamu ke sini setelah urusan administrasi selesai. Tapi Philippa, putri bibimu, tidak setuju dan akhirnya terpaksa kamu harus kembali ke panti sosial,” ia menutup rangkaian penjelasannya dengan nada simpatik.

Namun Rene tidak bereaksi, hanya memandangi bibinya tanpa ekspresi. Bibi yang dulu selalu ia harap akan datang membawanya keluar dari panti, kini persis ada di hadapan. Orang yang pernah beberapa kali masuk ke dalam mimpi tanpa wajah, memberikan banyak makanan, pakaian, dan sebuah kamar hangat nan megah. Lalu pupus sudah semua angan, sebab belasan tahun nama bibi Getrude hanya jadi pengisi cheque untuk biaya sekolah yang rutin dikirimkan untuknya.

“Ini memang bukan urusan saya, tapi saya rasa kamu perlu mendapatkan penjelasan resmi apa alasan Philippa. Bukan untuk membenarkan perbuatan mereka, tapi karena tidak adil rasanya kamu berada di sini tanpa tahu apa-apa,” perawat ikut menambahi.

“Takut warisannya kurebut?” sinis Rene bertanya.

“Bukan. Kamu pasti tahu selama di panti mereka masih membiayaimu, kan? Sebelum meninggal, Philippa bahkan mencantumkan namamu jadi pewaris harta ibunya, menggantikan namanya sendiri.”

Wajah Rene menengang, seperti tersiram air dingin tiba-tiba. Gerald meletakkan surat wasiat dan foto-foto Philippa di rumah sakit ke meja. “Philippa meninggal karena kanker otak,” ucapnya kemudian. “Dan … sangat menyesal telah menolakmu, tapi tidak bisa berbuat banyak karena masih sakit hati dengan pernikahan orang tuamu. Ayahmu, tunangannya, meninggalkannya demi menikah dengan ibumu. Dia depresi lalu sakit-sakitan setelah perpisahan itu. Saat orang tuamu kecelakaan, dia datang ke rumah sakit, tapi tetap tidak bisa mengalahkan luka hatinya dan pergi dari sana.”

“Bibimu tadinya masih sehat. Sampai dua minggu lalu, sebulan setelah kepergian Philippa, dia terkena stroke dan harus memakai kursi roda. Mungkin kamu bisa memikirkan untuk kembali ke rumah ini ….”

“Kalian ingin aku membantu merawat orang yang sudah menelantarkanku, begitu?” sambar Rene. “Untuk apa? Balas budi? Membayar kesalahan orang tuaku? Demi harta warisan? Atau jangan-jangan itu syarat dari mereka? Asal kalian tahu saja, apa pun itu aku sudah tidak peduli. Kalian saja yang merawat.”

“Rene, kami tahu kehidupan di panti sosial tidak lebih baik dari kehidupan di rumah ini. Saya dan perawat bibimu hanya ingin menjembatani. Menolak atau menerima, keputusan tetap ada ditanganmu. Dan … untuk warisan, bisa kau dapatkan saat sudah berumur 20 tahun. Bibimu bersedia tinggal di panti jompo agar kau bisa mendapatkan sebagian besar warisannya. Kenapa sebagian besar? Karena uang pensiun pamanmu akan digunakan untuk membiayai biaya panti jompo, selebihnya bisa kau miliki. Tidak ada syarat lain selain itu.”

“Maksud kami, sebelum itu, mungkin kau bisa membuka hati untuk bibimu. Aku yang akan melakukan perawatan utama, tapi tidak bisa menginap. Hanya datang di hari dan jam tertentu. Mungkin kau bisa bersamanya di luar jam kunjunganku.”

“Dia masih punya banyak uang. Bagaimana kalau gunakan saja untuk menambah gajimu agar bisa merawatnya 24 jam? Simple, kan? Jadi, aku tidak perlu susah-susah membuang ego demi manusia yang tidak punya belas kasihan seperti mereka.”

Perdebatan mereka mendadak berhenti oleh suara tangis bibi Gertrude. Tubuhnya mengejang, mulut bergerak tak beraturan, air mata berlinang membasahi sampai leher baju. Perawat segera bangkit menenangkan. Sementara Rene yang masih terkejut, seketika iba kala mata mereka bertemu tatap.

“Bibimulah yang memaksa Philippa untuk tetap membiayaimu di panti sosial, Rene,” ucap Gerald lembut. “Dia menggunakan uang pensiun pamanmu, sebelum akhirnya Philippa setuju,” tambahnya lagi.

“Aku menyaksikan setiap hari betapa bibimu sangat menyayangi kamu. Sebelum sakit, dia selalu menceritakan tentangmu. Setiap malam, sebelum tidur selalu bertanya jika seandainya kalian bertemu lagi apakah kau akan memaafkannya dan Philippa.”

Lihat selengkapnya