Sudah berkali-kali aku mendengar kata ‘Pembohong Besar’. Mulai dari rumah rumah masa kecilku yang besar nan mewah, sampai ke rumah sempit yang tak layak di camper van di pinggir sungai.
Ibuku. Ia yang selalu melontarkan kata itu kepada ayah. Nada suaranya selalu tinggi, melengking, kadang sambil melempar barang-barang yang ada di sekitarnya. Seolah, jika dua kata itu terlontar bersama barang-barang dan tepat mengenai Ayah, akan membuatnya berubah jadi lebih baik.
Berkali-kali aku melihat ibu meluapkan amarah, tangis, kecewa dan teriakan, seakan itu akan jadi obat mujarab. Sampai di suatu titik, di antara hari-hari yang sudah sangat biasa itu bagiku, pemahaman pun menghampiri.
Ibu hanya ingin yang terbaik untuk ayah dan aku. Kukira aku yang lebih sakit karena bekerja di usia muda di pabrik pengalengan ikan. Tapi ternyata ibu bekerja di tiga tempat, dalam sehari bergantian pagi, sore, lalu tengah malam agar kehidupan kecil di camper van tetap berjalan.
Ia ingin yang terbaik, agar ayah tidak menghabiskan uangnya di meja judi dan alkohol. Ia ingin yang terbaik hingga menepikan dirinya sendiri, menghabiskan tenaga dan pikiran di luar camper van, agar pulang dengan lelah. Agar segera tertidur saja dan tidak perlu membentak-bentak ayah lagi.
Ia menepikan dirinya sedemikian rupa. Hingga mungin juga jadi menepikan aku.
Sebab, aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku agar yang terbaik terjadi di dalam hidup kami. Aku hanya pernah melihatnya menangis memohon pada nenek saat buta sementara ke dua terjadi. Di sana aku melihat ia benar-benar tulus ingin agar yang terbaik terjadi padaku. Tidak padanya, tidak juga pada kami. Ia hanya memohon-mohon membawa namaku.
Sempat aku tersentuh oleh pemahaman itu, namun akhirnya semua kembali senyap dalam hati ini. Berkali-kali aku melihatnya lelah, tapi aku selalu menepiskan rasa iba sebab hidupku juga perih. Sekolah dan pekerjaan habiskan segala logika dan nurani untuk mengasihi dan memelihara pemahaman itu.
Mungkin karena terlalu mengasihani diri sendiri, aku jadi tidak bisa melihat semua dengan jelas. Segala hal yang menurutku akan membebani, mengusik ketenangan, mengubah alur jalanku tanpa hasil yang jelas, atau akan merepotkan di masa depan, segera kusingkirkan saja dengan sadar atau tidak sadar.
Tapi apa pun itu, aku jadi sangat membenci ‘pembohong besar’. Setiap kali ada yang berbohong padaku, atau mendengar orang sedang berbohong, yang teringat di dalam kepala adalah: wajah marah memerah ibu, urat leher menegang, suara melengking, barang-barang terlempar ke udara, dan ke dua tanganku yang gemetar tak tahan mendengar itu semua. Bahkan aroma sudut kamar yang lembab -tempatku duduk menunggu pertengkaran itu usai- berkelebat hebat. Terkadang, juga aroma dan hawa panas dalam selimut yang melingkupiku agar suara pertengkaran mereka teredam.
…
“Pembohong Besar!”