Kotabuku dan Orang-Orangnya

Donny Setiawan
Chapter #2

Kisah Masa Sekolah I.J.J.

I.J.J. melengak ketika ada salah satu karyanya dapat dibeli dengan seharga 100 rupiah. Dengan uang itu akhirnya ia dapat menerbitkan karyanya di penerbit. Kemudian uang sisanya dipakai untuk keperluan sehari-hari.

Uangnya sengaja ia sisipkan di antara buku-buku R.R. Pujangga di sebelah tempat tidurnya. Perjalanannya menjadi penulis belum selesai. Ia mesti menunggu kabar terbaru mengenai karyanya yang telah dikirim itu.

I.J.J. memang sejak kecil memiliki sedikit teman. Ada salah satu kenalannya, bernama Petik. Ia mengatakan bahwa ia tak sudi berteman dengan I.J.J. karena ia menganggapnya sebagai anak yang aneh—jarang bergaul dan kurang berpengalaman.

Predikat itu pun terbawa sampai pada lingkungan sekolahnya. I.J.J. kerap dipinggirkan dan dilupakan. Kehadirannya seperti tak pernah ada. Hal ini lumrah terjadi di Kotabuku kepada anak-anak yang kurang vokal. Salah satunya I.J.J. yang telah menyukai buku-buku dan mengurung diri dalam balutan kalimat-kalimat R.R. Pujangga. Ibu dan Ayahnya sibuk bekerja, sementara ia sibuk menulis sajak-sajak yang kemudian dipasarkan. Terkadang kata-katanya terilhami oleh kata-kata R.R. Pujangga. Tak ada yang lebih arif selain menggemari tulisan-tulisan.

Karena kegiatannya yang sangat menyita waktu, ia sampai lupa pelajaran sekolah. I.J.J. kerap dihukum karena tak mengerjakan tugas. Ia pasrah tak berbuat apa-apa. Gurunya selalu menganggap dirinya bodoh.

Lihat selengkapnya