I.J.J. tumbuh menjadi remaja yang ambisius. Keinginannya menjadi penulis semakin kuat di masa ini. Ia jadi jarang berteman dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
Suatu ketika, saat rawikara merekah mencolok matanya, keinginannya menjadi penulis semakin kuat lagi. Ia teringat R.R. Pujangga, dengan kebiasaannya dalam menulis.
I.J.J. tak sadar bahwa ia juga sebenarnya dikaruniai keberuntungan sama dengan R.R. Pujangga. Waktu luangnya semakin ia optimalkan untuk menulis karya-karya terbarunya.
Pernah suatu ketika, ia membuat peraturan, sehingga mengakibatkan ia menaikan standar batas halaman cerita-cerita menjadi tiga puluh halaman per hari.
Ia sangat produktif dari sistem ini saat dipakai. Berbeda dengan ia waktu dulu, yang menulis hanya berjalan sesuai kemauan dirinya. Saat ini ia harus bergerak sesuai dengan sistem yang ia buat sendiri. Mesin perangkat di rumah ia matikan. Tak ada buku-buku waktu menulis. Tak ada waktu keluar rumah waktu menulis. Menulis harus tetap menulis. Berada di dalam ruangan adalah suatu keharusan dan I.J.J. tak mu melanggarnya.
Ia sukses menerapkan sistem yang ia buat sendiri. I.J.J. bahkan menulis cerita-ceritanya hanya dengan tangannya sendiri. Tak ada menggunakan mesin tik mengikuti sistemnya.