Usia tidak menjadikan penghalang bagi I.J.J. untuk terus bergelut di dunia kepenulisan. Ia sudah tak merasa gamang dengan persoalan penerbitannya. Ia bersikukuh menjadi penulis sekaligus berambisi membantu penulis-penulis muda untuk bisa bersinar. Tujuannya satu, yaitu untuk menyingkirkan nama penulis paling terkenal yaitu R.R. Pujangga.
Suatu pagi, ia terbangun dari tempat tidurnya di kamar kosannya. Tiba-tiba termaktub ide untuk mendirikan sebuah badan pencari bakat. I.J.J. gemas dengan karya-karya penulis yang disebar pemerintahan. Isinya hanya cerita-cerita cabul dan kisah bujangan yang puber.
Untuk itu, ia bahkan turun langsung sebagai pengulas. Ia memilih kawasan paling terbelakang di Kotabuku. Dari sana ia memasang papan bertuliskan 'menerima naskah apa saja'. Awalnya sepi, namun lama-kelamaan mulai ramai. Ia membaca hampir seratus karya dalam sehari. Hanya beberapa yang dipilihnya untuk diterbitkan di penerbitannya.
Rupanya cukup banyak karya yang bagus di pedalaman itu. Dan I.J.J. senang semasa melakukan ini. Ia pun berniat melakukannya lagi kemudian hari.