KRING!

gie
Chapter #2

#1. Bunyi Mengusik

KRING!

Bunyi itu menghentak. Seolah ia ingin menarik perhatianku. Seolah ia ingin mengajakku bicara dan mungkin menawarkan perjalanan yang luar biasa. 

Dadaku berdebar. Terasa begitu kencang hingga aku khawatir jantung yang semula aman berada di rongga dada akan meloncat keluar. Mungkin juga dia membawa serta paru-paru dan semua hal yang menopang hidupku. 

KRING! KRING!

Dengan tinggi nada yang sama, suara itu kembali menyapa. Aku mencoba mencari. Namun, aku masih belum menemukannya. 

Gudang di rumah lama ini memang sedikit menakutkan untukku. Lemari jati tua yang menempel di dinding seberang itu tampak begitu sabar menungguku. Dalam bayanganku, di dalamnya sudah berdiam mahluk tua yang bersiap mengeluarkan kukunya yang hitam dan keriput. Kuku itu akan membuka pintu lemari tua itu perlahan. Dibukanya pelan-pelan. Lalu pelan-pelan pula wajah berkeriput dengan bibir berwarna hitam muncul dan menyeringai.

Dari seringai yang memuakkan itu, tampaklah giginya. Gigi itu begitu tidak cocok dengan keseluruhan dirinya: terlalu putih, begitu bersih tanpa karang gigi, dan ….

Bruk! 

“Hah, aduh, aduh. Tenang, La. Tenang, Lala,” kataku pada diriku sendiri. Kuusap dada berkali-kali. “Itu cuma imajinasimu. Hasil kebanyakan nonton film hantu,” kataku lagi. Tentu saja tetap pada diriku sendiri. 

Kutahu kamu berpikir aku aneh. Untuk apa aku menyuarakan itu? Buat apa bicara begitu sementara hanya ada aku sendiri di ruangan ini. Namun, aku memang perlu bilang padamu: aku harus melakukannya. 

Aku mengamati gudang dan menyadari larik cahaya matahari membuatku bisa melihat debu-debu yang berterbangan. Mereka begitu renik. Bergerak perlahan naik. Aku ingin mengangkat tanganku di tengah larik cahaya itu. Namun, aku takut merusak perjalanan debu-debu itu. 

Jadi, mari kuceritakan awal mula kisah ini. Sejak seminggu lalu, aku diminta ibuku untuk datang ke rumah ini setelah kami selesai menguburkan ayahku yang adalah mantan ibuku. Ya, ibu dan ayah bercerai sepuluh tahun lalu. Aku memilih ikut ibu dan dengan berat hati kami meninggalkan rumah ini. 

Ayah yang tak tahu diri itu tetap tinggal di rumah ini hingga akhir hayatnya. Ia membawa serta istri baru dan anak-anaknya lahir di sini. Padahal rumah ini atas nama ibuku. Heran sekali kenapa ibuku seolah tidak punya kemampuan untuk mengusir mereka. 

Seringkali, terutama saat aku merasa pindah kontrakan itu merepotkan, aku mengeluhkan hal ini pada ibu. Aku bicara panjang lebar dan mempertanyakan sikapnya yang seperti tidak berani merebut sesuatu yang memang miliknya. Namun, ibu selalu diam. Dia hanya tersenyum mendengar keluhanku. Lalu, dengan tenang, ia memintaku istirahat. 

Lihat selengkapnya