2025
“Nggak usah dipikirin lah, Sayang. Kamu kan lihat sendiri itu akun-akun anonim semua,” kata Adiv. “Sebagaimana kamu tahu, akun anonim itu nggak jelas. Mereka berlindung di balik ketidakjelasan identitas yang mereka ciptakan sendiri.”
“Aku tahu. Tapi ….”
Adiv memandangku seraya menghembuskan napas. Kekesalan jelas terlihat dari ekspresi wajahnya. Jelas pula, ia tidak berusaha menutupi hal itu dariku.
“Aku tahu kamu bakal bilang kalau aku nggak benar-benar tahu. Kalau aku tahu, aku nggak akan ngeributin ini lagi. Begitu ‘kan?” Pertanyaanku itu jelas pertanyaan retoris. Sepertinya Adiv menyepakati itu pula dengan caranya mengangkat dua tangan dan mengangguk. Ia tidak tersenyum seperti jika ia menganggap ide atau pernyataanku benar.
“Apa kamu bakal bilang kalau aku ini perempuan gila ….”
“Sudahlah. Aku harus pergi. Aku telepon nanti, ya? Sampai jumpa,” kata Adiv. Ia mengecup keningku sekilas. Tak ada pelukan hangat seperti jika kami hendak berpisah. Tak ada senyum manis atau sekadar saling menatap seolah perpisahan sementara adalah hal yang begitu berat dirasakan.
Perubahan ini terlalu nyata. Aku seperti sebatang pohon yang kesepian. Pohon yang akar-akarnya tak kuat, siap tumbang kapan saja, dan dengan alasan sesederhana mungkin.
Adiv pergi. Sementara aku jadi termenung-menung sendiri.
Kopi yang dipesan Adiv tadi bahkan masih utuh. Seingatku, dia hanya duduk dan memandangi cangkirnya. Dia diam beberapa waktu. Mungkin sekadar menghormatiku yang terus bicara sejak kami sampai di tempat ini.
Sudah hampir enam bulan terakhir, pertemuan kami terasa menyedihkan. Setidaknya itulah yang kurasakan. Semua itu bermula sejak aku mengunggah sebuah foto.
Pada hari itu, untuk pertama kalinya Adiv mengajakku membicarakan hubungan kami. Kami seperti dua orang dewasa yang siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan ke depan. Memang tidak dalam satu dua tahun lagi kami akan menikah. Namun, pembicaraan hari itu sungguh membuatku mengerti bahwa ada akhir indah yang akhirnya disepakati bersama.
Untuk mengenang itu, aku mengunggah dua foto dengan satu caption: semoga bersama selamanya. Foto pertama adalah foto wajahku dengan setengah wajah Adiv yang tampak. Tangannya merangkul bahuku dan jika sepintas dilihat jemarinya seolah menyentuh bagian dadaku. Foto kedua yang kuungah adalah tangan kami yang saling menggengam.
Awalnya tak ada yang salah dengan itu. Setidaknya bagiku, aku tidak merasa ada yang salah. Beberapa komentar dari teman dekat pun tampak biasa saja. Aku pun menanggapi sewajarnya.
Hingga masuklah komentar dari akun yang tidak jelas. Akun yang tampaknya bukan akun utama, digunakan oleh orang yang seolah tidak sungguh-sungguh ada. Dia menulis: tip lancar LDR adalah buah dari surga yang menempel di dada. Coba tebak ukurannya!
Aku merasa komentar itu menyebalkan. Jadi, aku menghapusnya. Termasuk kemudian mengarsipkan unggahan itu.