KRING!

gie
Chapter #4

#3. Burung Kecil Peragu di Dahan yang Patah

Aku selalu dihantui rasa ragu. Seolah ragu adalah nama tengahku. 

Kurasa-rasa, aku akhirnya menerima ragu itu sebagai bagian dari diriku. Seakan-akan itu memang sebuah identitas yang tidak bisa kutolak. Sebuah takdir. 

Dengan segala keraguan yang ada, aku merasa bahwa hidupku berlompatan. Seperti tidak ada sesuatu yang pasti urutannya. Bagai tidak ada rencana yang tepat. 

Lama-kelamaan aku terbiasa. Aku siap menjadi orang yang diliputi keraguan, tanya, dan ketidakpastian.

Begitulah, ketika Adiv hadir dalam hidupku, dia kuanggap sebagai bagian dari itu. Keraguan, tanya, dan ketidakpastian itu. 

Itu sebabnya, Adiv pernah bertanya padaku. Pertanyaan sederhana yang diajukannya saat kami menghabiskan waktu berdua di sebuah kedai kopi tempat kami biasa berjumpa. “Kenapa sih kamu begitu peragu? Misalnya, kamu tahu apa yang sebenarnya kamu pengen. Tapi, kamu selalu berpanjang-panjang mempertimbangkan. Aku ngeliatnya tuh, jadi … gimana ya, kayak kamu itu lebih banyak mikirnya. Padahal, kadang kamu bisa langsung ambil keputusan.”

Aku tersenyum saja. Dalam pikiranku pun sudah ada pertanyaan: ini aku jawab sekarang atau nanti aja? Mana tahu Adiv mau menanyakan sesuatu lagi

Kurasa, karena melihatku hanya tersenyum, Adiv jadi mendesakku. “Jadi, kenapa?”

“Memangnya orang harus bisa buat keputusan dengan cepat? Kan, tiap orang beda-beda. Ada yang bisa langsung berani memutuskan, ada yang belum berani. Ada yang bisa mengkalkulasi dan memprediksi banyak hal dalam tempo singkat. Tapi, kan, ada juga orang yang nggak bisa gitu. Aku salah satunya,” kataku. 

Adiv memandangku. Mungkin ia berusaha memahami jalan pikiranku. Atau mungkin dia masih belum menemukan jawaban untuk pertanyaan yang diajukan. 

Aku mengalihkan pandang dan melihat daun-daun berguguran dari jendela besar yang ada di dekat meja kami. Tak lama, kereta lewat. Deru panjangnya membuatku punya kesempatan untuk menunda pembicaraan. 

“Apa karena … maaf, apa karena ibu dan bapakmu?” Pertanyaan itu diajukan Adiv setelah deru kereta menghilang. Samar-samar terdengar suara petikan gitar dari panggung pertunjukan di bagian timur kedai kopi ini. 

Aku mengangkat bahu. “Entah. Tapi, bisa jadi. Ibu dan bapak berpisah saat aku masih kecil. Aku belum benar-benar memahami situasi yang terjadi saat itu. Aku hanya tahu bahwa aku terlalu sering mendengar suara teriakan. Dan pada waktu-waktu tertentu, ibu memintaku untuk masuk ke kamar. Dari balik pintu, aku bisa mendengar suara-suara itu. Benda jatuh, sesuatu mengenai tubuh, erangan, … dan berakhir dengan dering telepon yang begitu panjang.”

Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku tidak merasa sesak napas. Saat mengatakan itu pada Adiv, mulanya, kupikir tubuhku tidak bereaksi apa-apa. Toh, semua sudah berlalu. Semua sudah ada di masa yang jauh ada di belakangku. 

Lihat selengkapnya