KRING!

gie
Chapter #5

#4. Mula Petaka?

Pertanyaanku pada Adiv malam itu tak terjawab. Maka, aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kuulang-ulang pertanyaan itu saat aku sendiri. Lalu, melakukannya lagi saat sedang bersama Adiv, meski tanpa benar-benar kuucapkan.

“Aku dan luka-luka batinku itu … sungguhkah kamu bisa menerimanya?”

Begitulah aku bertanya-tanya. Lalu pertanyaan itu pun berubah wujud: apakah menceritakan luka batin pada Adiv adalah keputusan yang bijaksana? Apakah baiknya luka itu cukup menjadi sesuatu yang disimpan dalam kotak kecil, diletakkan begitu saja seolah memang tak patut untuk dibuka. Ya, diperlakukan bagai kotak pandora. 

KRING!

Aku tergagap. Lamunan begitu panjang membawaku ke masa-masa yang penuh tanya. Dan kini, aku seperti ditarik kembali pada masa saat aku berdiri canggung dan bingung di depan lemari tua berdebu. Di depanku, sebuah ponsel tua berdering. Keras. Menyentak-nyentak. 

Entah apa yang akan terjadi, baiknya, aku mulai berani memutus ragu agar tak timbul banyak tanya. Jadi, kuangkat ponsel itu perlahan. Itu lebih karena aku takut benda itu terlalu tua, terlalu rapuh. 

“Halo?”

“Haaaiii. Akhirnya nyambung juga. Ini Rara. Bisa ngobrol sebentar sama Lala? Mau tanya kapan dia bisa ke kampus? Ada tugas yang harus ….” Suara perempuan, bernada riang, seolah hatinya begitu hangat menyambut. 

Ia terus berkata-kata. Pada saat itulah, aku menyadari debu-debu bergerak pelan dan membuat pusaran kecil di hadapanku. Pusaran itu terus membesar, dengan warna pelangi yang begitu indah. Begitu memikat.

Kuarahkan telunjuk ke bagian tengah pusaran itu. Aku merasa seperti sesuatu mendorong tubuhku begitu kuat. Atau, mungkin, yang sebenarnya terjadi adalah aku terhisap masuk dalam pusaran itu. 

Ketika debu-debu bak pelangi yang membuat pusaran itu perlahan menghilang, aku menyadari tengah duduk di bawah pohon beringin yang begitu besar. Angin berhembus dan daun-daunnya berguguran. Begitu pelan. Begitu magis. 

Akar-akar yang menjulur dari atas pohon beringin besar itu bergoyang. Mereka tidak bertabrakan. Setidaknya, aku merasa demikian,

“Halo, halo. Ini bener nomornya Bang Ale, kakaknya Lala, kan?”

Aku terkejut. Perempuan yang meneleponku itu menyebut Lala. Jangan-jangan dia memang mengenalku. Tapi, aku anak tunggal. Hmn, maksudku, aku tidak punya saudara lain kalau saudara tiri tidak dihitung.

“Halo?” Aku begitu ragu. Sesaat keheningan menguasai. “Halo? Ini siapa, ya?”

“Eh, ini telponnya kakaknya Lala, kan?” Perempuan yang menelepon itu bertanya dengan nada bingung. “Atau ini pacar Bang Ale?”

“Ale siapa?” Aku balik bertanya. “Siapa pacar Bang Ale?” Aku jadi bingung dengan pertanyaanku. Maksudku, kenapa aku malah menanyakan pacar Bang Ale sementara aku sendiri tidak tahu siapa Bang Ale yang dimaksud.

“Oh, salah sambung, ya?” Suara perempuan itu tampak bingung dan ragu. “Ya, sudah, tampaknya aku salah sambung, Mbak. Jadi ….”

“Tunggu!” Aku sendiri pun kaget dengan suaraku. Begitu keras dan membuat beberapa orang yang lewat di depanku menoleh. 

Dua orang perempuan berjalan sambil menenteng semacam totebag besar di pundaknya. Di tangannya ada beberapa buku tebal. Keduanya mengenakan celana jeans high-waisted dan dipadukan dengan kaos polos dilengkapi cardigan. Tak lama kulihat seorang lelaki gondrong berkemeja kotak-kotak oversize dipadu jeans straight-leg. Dia melenggang dengan begitu santai. 

Seorang lelaki tua mengendari sepeda. Sepeda itu tampak tinggi dengan palang. Ia membunyikan bel sepedanya pada lelaki gondrong yang melambai dan keduanya bertukar tawa. Tawa renyah yang begitu riang dan ringan.

“Nanti kelas Pak Sam nggak jadi kosong, kan? Temenin aku nge-print dulu di rental, ya?” kata salah satu perempuan yang berjalan di depanku. Ia membuka totebag-nya dan mencari-cari sesuatu, “aduh, disket-ku ketinggalan di kos. Temenin ambil, dong.”

Keduanya bergegas pergi. Aku mencoba mencerna dari semua hal yang baru saja kulihat dan kudengar. Sementara itu suara dari seberang telepon kembali terdengar, “halo, halo? Ada yang bisa kubantu? Aku nelepon dari wartel ini, bentar lagi habis waktunya ….”

Aku tergagap. “Ah, tunggu.” Aku tidak bisa mencerna apakah memang itu yang ingin kukatakan. Terdengar bunyti bip panjang. “Halo, halo?” Kupandang ponsel aneh di tanganku. Tampaknya sambungan telepon itu terputus. 

Lihat selengkapnya