Gadis itu berlari ke arahku. Entah bagaimana aku yakin bahwa dia adalah gadis yang tadi bicara denganku di telepon.
Rambutnya panjang sepunggung, bergelombang, dan berkilau bagai air ditimpa cahaya matahari. Ia mengenakan kaos biru polos dengan jeans cutbray berwarna senada. Ada tas punggung mungil yang bergerak mengimbangi gerak larinya.
Aku terpana melihatnya. Lebih terpesona lagi saat ia berhenti di hadapanku. Telunjuknya mengarah padaku sesaat, lalu ia membungkuk dengan kedua tangan menyangga pahanya. Mungkin ia ingin memberi ruang di dada yang sesak karena harus berlari cepat ke sini.
“La … Lala?” Ia bertanya sambil menepuk dadanya. “Aku Rara,” katanya. Ia mengulurkan tangan.
Aku terkesima. Mata itu begitu hidup dan bercahaya. Begitu indah. Bulu matanya bergerak saat kelopak matanya mengerjap. Gerak lentik bulu mata itu seperti penari balet yang bergerak anggun, berputar dengan satu kaki, lalu melompat kompak dengan menepukkan telapak kaki mereka.
Kuterima uluran tangan itu. Tangan yang halus dan lembut. Aku sempat melihat kukunya yang pendek dan bersih. “Aku Lala,” kataku. Lalu kulepas tanganku dari tangannya yang hangat itu.
“Kamu sudah makan?”
Dari semua hal yang ingin kuketahui dan mungkin ingin dia ketahui, mengapa makan adalah pertanyaan pertamanya? Aku memandangnya bingung. Mungkin itu yang menyebabkannya tertawa. Ia menutup mulutnya saat tertawa meski tetap bisa kulihat giginya yang rapi dan bersih.
“Ngobrol sambil makan. Itu pilihan yang menarik, bukan?” Lalu tanpa menunggu jawabanku, dia menarik tanganku.
Gadis itu pun berubah menjadi pemandu. Dia menunjuk gedung, bercerita sekilas tentang gedung yang ditunjuknya. Ia juga menunjuk jalan-jalan dan menyebut arah serta namanya. Aku hanya diam dan sesekali mengangguk saja.
Langkah kaki kami terhenti sebentar di mulut gang yang sempit. Beberapa orang keluar dari rumah makan. “Di sini enak makanannya. Selalu rame dipenuhi mahasiswa. Dan yang penting murah. Bener-bener warung makan yang berpihak pada kantong mahasiswa,” katanya.
Ia memberi kode untuk mengikutinya. Kami menyusuri gang itu dan tak lama bersua dengan warung makan yang dimaksudkannya. Rumah makan itu sedikit ramai. Hanya tersisa beberapa meja yang kosong. Ia mengambil piring dan menggerakkan kepala sebagai kode agar aku mengikutinya.
Kami mengantri. Mula-mula mengambil nasi sesuai kebutuhan kami. Lalu berdiri di depan kaca besar yang memisahkan kami dengan deretan makanan yang tampak menggiurkan.
Kami makan dalam diam. Dia tidak mengajakku bicara dan aku juga lebih suka tidak bicara saat makan. Usai makan, ia memberi kode untuk meninggalkan tempat itu. Sesekali langkah kami terhenti karena dia berbicara dengan temannya atau menyapa satu dua orang yang berpapasan dengan kami.
Kami berjalan pelan menuju jalan yang lebih lebar. Di sisi kanan jalan, ada deretan pohon cemara sementara di sisi kiri berdiri sebuah sekolah dengan pagar besi yang kokoh.
Kami berjalan bersisian sekitar sepuluh menit. Hingga akhirnya berbelok di sebuah gang kecil lagi yang dipenuhi dengan deretan kos. Dia mengambil kunci dari tas punggung mungilnya dan membuka pintu. “Masuklah,” katanya.
Aku masuk seraya mengedarkan pandangan. Di dalam kamar itu hanya terdapat satu kasur di lantai. Tidak cukup tebal meski juga tidak bisa dibilang tipis. Ada satu meja kecil dari kayu yang penuh dengan buku. Ada beberapa lembar kertas di dekat meja itu. Di ujung dekat kamar mandi, sebuah rak buku bersebelahan dengan keranjang tertutup yang kuduga berisi pakaian kotor.
Jika ini memang tahun 1998, gadis ini pasti berasal dari kelompok menengah ke atas. Pilihan kamar kos dan isinya menunjukkan hal itu.
Sebuah poster besar ada di dinding. Aku mengenal sosok yang ada di poster itu. Kurt Cobain, penyanyi yang meninggal bunuh diri pada tahun 1994. Mungkin, ini penyanyi kesukaan Rara. Aku jadi bisa menduga jenis musik yang disukainya.
Di bagian bawah poster itu tertempel foto Rara dan seorang lelaki gondrong. Di bibir lelaki itu terselip sebatang rokok. Tangan kanannya tidak sekadar merangkul Rara, lebih tepatnya telapak tangannya ada di kepala gadis itu. Aku melihat ada tato di tangan lelaki itu.
Rara tampak berdiri dengan merangkulkan tangannya ke pinggang si lelaki. Sementara tangan satunya terangkat dan jemarinya membentuk huruf v. Ekspresi ceria yang menakjubkan itu tercetak sempurna di sana.
Menilik gaya dan ekspresi keduanya, aku punya keyakinan kalau Rara dan lelaki dalam foto itu memiliki hubungan spesial. Mungkin lelaki itu pacarnya.