KRING!

gie
Chapter #7

#6. Kupu-Kupu yang Sayapnya Rapuh

Aku memutuskan percaya padamu. 

Kalimat itu begitu indah. Jika kalimat itu bisa menjelma menjadi sesuatu, maka bisa dipastikan kalimat itu menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu itu memiliki sayap besar dengan warna biru dan totol hitam di ujung-ujungnya. Sementara itu, sembuat abu-abu menyemarakkan kupu-kupu yang tampak kokoh sekaligus rapuh itu. 

Aku sungguh menyukai caranya menyampaikan kalimat itu. Sungguh, aku mengagumi orang yang bisa dengan mudah mengucapkannya. Bahkan mungkin, sebenarnya, aku iri. Dan aku tidak menyangkal hal itu. 

Itu sebabnya, mataku terpaku lama pada gadis di hadapanku itu. Bagaimana bisa dia punya kepercayaan diri sebesar itu? Sesubur apa tanah yang membuatnya tumbuh dengan baik? Seberkualitas apa lingkungannya hingga ia bisa bersemi dengan luar biasa?

Jadi, kuajukan tanya padanya. “Apa nggak sedikit pun terbersit di kepalamu bahwa aku patut dicurigai?” Aku memandangnya dan berharap dia sungguh bisa melihat kesungguhan dalam pertanyaan itu.

“Apa kamu patut dicurigai?” Ia balik bertanya padaku. Aku spontan mengulang pertanyaannya itu dalam hati. 

Matanya menampilkan keteguhan pilihannya. Ia juga tidak berkedip seolah memberi sinyal tegas bahwa keputusan itu sungguh lahir dari kebebasannya berpikir. Betapa aku seketika merasa iri menyaksikan itu. 

“Memangnya ceritaku tentang melompat dari tahun 2026 ke tahun ini adalah hal yang masuk akal?” Pertanyaan itu kuajukan perlahan. Aku lebih merasa khawatir membuat hatiku berantakan andai ternyata dia hanya bermain kata. Tidak dipercaya adalah hal yang sangat menyakitkan. Bagiku, itu sungguh menyakitkan. 

Pada saat demikianlah aku tidak menampik kenyataan bahwa aku dilingkupi kecemasan dan kewaspadaan yang sering kali berlebihan. Aku serupa kupu-kupu dengan sayap besar yang memberi kesan kokoh dan rapuh bersamaan. 

“Memang tidak masuk akal.” Kalimat itu begitu lugas, begitu jelas. Dia pun mengatakannya tanpa ada sedikit pun petunjuk di wajahnya kalau dia sedang bercanda. 

Kami bertatapan. Wajahnya sungguh kalem. Aku kembali terpaku pada matanya yang tenang. “Tapi, kenyataannya kamu adalah orang asing yang membawa ponsel itu. Kamu juga orang asing yang memberi kesan tidak menyampaikan informasi dusta. Jadi, meski tidak masuk akal, mungkin saja kamu memang terlempar dari masamu ke masa ini. Aku mengamati pakaianmu dan juga caramu makan, caramu bersikap. Aku menyimpulkan bahwa kamu bukan orang yang berbahaya.”

Betapa sembrononya gadis ini. Aku termangu sesaat. Semudah itukah percaya?

“Percaya pada perkataanmu tuh memudahkan hidupku. Aku nggak perlu sibuk menyangkal dan menganalisa dalam-dalam. Dan jika kamu ternyata tidak bisa dipercaya, ya aku tinggal menarik kepercayaan itu, kan aku sendiri yang memberikannya padamu. Kepercayaan itu jika waktunya tiba untuk menariknya, ya, aku tinggal melakukannya,” katanya. 

Penjelasannya itu jadi lebih tidak masuk akal buatku. Apakah orang tuanya tidak menyarankannya untuk berhati-hati dengan orang asing apalagi dia hidup di perantauan begini? 

Lihat selengkapnya