KRING!

gie
Chapter #8

#7. Mencari Tempat untuk Kembali

“Menurutmu, apa yang bikin kamu dibawa ke tahun ‘98?” 

Pertanyaan itu diajukan Rara dalam perjalanan kami dengan kereta menuju Jakarta. Hal itu diajukannya di antara deru gerbong-gerbong yang penuh sesak.

Aku sudah lama kehilangan rasa nyaman. Itu sejak pertama aku duduk dan menyadari situasi hiruk pikuk ini. Pedagang asongan yang berteriak, naik sembarangan, dan setengah memaksa penumpang untuk membeli dagangannya.  Ada begitu banyak, terlalu banyak, penumpang. Aku yakin sebagian dari mereka tidak punya tiket resmi. 

Panas dan pengap membuatku tidak bisa memikirkan jawaban untuk Rara. Dia tampak mengamatiku yang berusaha menutupi bagian depan tubuh dengan tas ransel milik Rara. Aku juga sibuk melotot ke arah laki-laki di samping kiriku yang sedari tadi sengaja menempelkan tubuh, meski memang karena situasinya penuh sesak. 

Aaargh! Menyebalkan! 

Perjalanan kereta ini sungguh menyiksa. Dan aku menyadari bahwa kenyamanan yang kudapatkan saat berkereta di masaku, di 2026 maksudku, mulai muncul sejak kepemimpinan Ignasius Jonan sebagai direktur utama PT KAI sekitar tahun 2009-an. Sterilisasi peron dari calo tiket, salah satunya, membuat perjalanan dengan kereta jauh lebih nyaman dan menyenangkan. Aku sangat yakin, Rara bakal sungguh menikmati perjalanan Jogja-Jakarta di tahun 2026. 

Sementara kini, aku benar-benar mengakui kalau perjalanan ke Jakarta itu sungguh tidak bisa kunikmati. Kukatakan berkali-kali bahwa perjalanan ini sungguh tidak nyaman, sungguh tidak bisa kunikmati.

Aku lebih banyak diam, sebagian besar karena aku merasa was-was. Terlampau waspada. Dan kurasa Rara mencoba memahami situasiku. Dia hanya bertanya hal kecil seperti apakah aku mau makan atau minum, menawarkan untuk tidur, dan selebihnya diam. 

Aku juga kesulitan menyesuaikan diri ketika kereta berhenti. Kami pun mesti bergegas, setengah berlari, melintasi rel. Debu tebal dan pekik kereta berbaur dengan semua orang yang berlari-lari, dan berteriak-teriak.

Rara menggandengku, setengah menyeretku kurasa. Aku sempat mengamati situasi stasiun sekilas, betapa kotor, kumuh, dan … aku melihat orang-orang duduk di atap kereta. Aku jadi ingat salah satu adegan di film “Daun di Atas Bantal” karya Garin Nugroho yang di tahun 2026 bisa ditonton di youtube. Aku menggeleng mengusir bayangan kepala orang yang duduk di atap dan kemudian terbentur terowongan.

“Ayooo, sini. Agak cepet!” Rara menggoyangkan genggaman tangannya membuatku mengalihkan pandang dari atap kereta ke wajahnya yang manis itu. Aku mengangguk dan mengikutinya. 

Entah untuk berapa lama kami berjalan, rasanya agak berputar-putar. Rara lalu mengajakku naik bajaj yang begitu berisik. Rasanya kepalaku akan meledak karena terlalu banyak suara bising sejak kami naik kereta tadi. 

Serius, aku nggak bisa menerima semua suara bising ini!

Itu sebabnya, ketika akhirnya kami sampai rumah Rara, tak terbilang rasa legaku. Aku bahkan tidak malu-malu untuk lekas mandi, meminjam baju Rara, dan membaringkan diri di kasurnya yang empuk. Meski ada jerit anak-anak atau lalu lalang kendaraan, rasanya kamar Rara menjadi tempat ternyaman untukku. 

“Kamu butuh apa? Mau teh panas?” Rara melongok setelah membuka sedikit pintu kamarnya. 

“Enggak. Aku butuh tiduran bentar. Serius, kepalaku sakit banget. Aku nggak ….”

Lihat selengkapnya