KRING!

gie
Chapter #9

#8. Apakah Dunia Bisa Diperbaiki?

Rara tidak menjawab pertanyaan beruntun yang kuajukan. Dia menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuterjemahkan. Lalu, perlahan, dia bangkit dari duduknya, menepuk bahuku, dan meninggalkanku. 

Suara bising di luar jadi kelewat nyata. Seorang anak menjerit, seperti kesakitan. Tapi jeritannya lekas ditimpal tawa berderai-derai, disusul suara klakson sepeda motor, dan teriakan ibu yang memperingatkan anak-anak untuk tidak bercanda di jalanan. 

Aku mendekati jendela. Kusibak sedikit tirai lusuhnya. Dari sana, pemandangan hangat, tapi sedikit kacau khas rumah yang berdekat-dekatan itu terpampang nyata. 

Kulihat seorang ibu mencari kutu di rambut anaknya yang tebal dan begitu mekar. Di dekat warung, kulihat seorang ibu muda sibuk membujuk bayi dalam gendongannya untuk diam. Dan tak jauh dari sana, anak-anak perempuan main lompat tali meski ketika ada kendaraan lewat mereka harus menepi.

Dalam kesibukan yang begitu biasa itu, aku justru menemukan kehangatan. Ekspresi kasih sayang yang tulus. Bahkan rasanya, mereka agak sedikit lupa pada badai ekonomi yang hampir (atau sudah?) menyambar negara ini. Kuingat-ingat, di pertengahan ‘98, nilai tukar rupiah bahkan menyentuh 16-19 ribu rupiah. Di tahunku, di 2026, di saat aku menceritakan kisah ini padamu, nilai tukar rupiahnya juga sudah ada di 17 ribu rupiah.

Kletak -mungkin lebih tepat kletuk

Bunyi lirih itu justru membungkam keriuhan di luar yang kusaksikan. Aku menoleh. Rara memamerkan senyum. Ia meletakkan gelas berisi teh yang hangat (kulihat asapnya yang bergerak, menggeliat-geliat, ke udara) di meja yang lengkap dengan kaca rias itu. 

“Teh hangat. Kuharap bisa bikin capekmu sedikit hilang. Mungkin juga bikin keresahan di dadamu berkurang,” katanya. 

Aku menggumamkan terima kasih. Kulepas tirai yang semula kupengang agar bisa melihat ke luar, lalu duduk di ranjang, tepat di sisi meja dengan kaca rias itu. 

Rara duduk di kursi yang menjadi pelengkap meja rias. Ia menatapku seolah ingin mencari tahu sesuatu. 

“Ada apa?” Aku mengajukan tanya. Kuambil gelas berisi teh itu. Hangat. Aku meminumnya sedikit dan rasanya terlampau segar. Ini teh ternikmat yang pernah aku rasakan. Kukembalikan gelas itu di tempatnya dengan perlahan seolah takut jika melakukannya sedikit keras, maka gelas itu akan hancur berantakan.

“Waktu bikin teh tadi, aku mikir pertanyaanmu. Kalau korban kekerasan seksual ‘98 diberi kesempatan untuk memutar waktu, apa yang akan mereka lakukan?”

Ada jeda yang tak menyenangkan di antara kami. Kami berpandangan dan tampak saling menunggu. Di masa itulah aku menyadari Rara dengan poninya yang lucu, juga rambutnya yang kali ini dikepang dua. Sungguh, di tahunku, aku nyaris tidak pernah melihat gadis berponi dan berkepang dua! Setidaknya aku dan teman-temanku tidak menata rambut kami begitu meski ada di rumah.

“La, kalau kamu bilang di tahun ini banyak perempuan mendapat kekerasan seksual dan bahkan dibakar hidup-hidup, apa mungkin mereka mau kembali ke masa ini? Apa mungkin mereka mau mengulang kisah hidup yang tragis itu untuk kesekian kali? Apakah hidup jadi penuh penderitaan seperti itu?”

Lihat selengkapnya