“Raaa, ada Yoga, tuh.” Suara itu memecah keheningan antara kami. Termasuk membuatku sadar bahwa di mata Rara tidak ada gelombang air laut yang menyapu pantai dengan ganas. Itu semua memang hanya ada di imajinasiku saja.
“Iyaaa, bentar!” Rara memandangku lagi, lalu mengulas senyum. “Kukenalin sama Yoga. Ayok,” katanya seraya menarik tanganku.
Aku mengikutinya. Di teras depan, seorang laki-laki berambut ikal sebahu sedang mengamati pot-pot bunga yang dirawat ibu Rara dengan sangat baik.
“Sayang!” Rara memeluk lelaki itu. Si lelaki berbalik seraya balas memeluknya dan aku merasa ada hangat merambat di dada saat melihatnya mengecup kepala Rara sekilas. Gerakan kecil yang penuh kasih sayang.
“Udah kubilang nggak usah balik ke Jakarta dulu. Tapi, kamu nekat datang juga. Padahal nunggu di Jogja buat sementara waktu kan tidak apa-apa. Kita bisa ketemu akhir tahun seperti rencana semula, bukan?” Lelaki itu bertanya dengan nada lembut. Aku tidak menemukan kemarahan atau kelembutan yang dibuat-buat di sana.
Rara tertawa sekilas. “Aku kan kangen. Kangen ibu, bapak. Kangen kamu juga,” katanya. Nada manja itu tidak terasa memuakkan. Tak pula membuatku merasa iri.
Lelaki itu tertawa sekilas. Tangannya mengusap kepala Rara dan senyumnya tetap terulas.
“Eh, ya, Sayang. Ini Lala. Ehm… temanku. Dia dari … dari tahun 2026,” kata Rara seraya menunjukku.
Aku berdeham dan mengangguk. Aku sedikit ragu untuk mengulurkan tangan. Maksudku, apakah aku perlu berjabatan tangan dengan lelaki itu atau tidak. Aku benar-benar tidak bisa memutusakan.
Lelaki itu memandangku lalu mengulurkan tangan lebih dulu. “Yoga,” katanya.
“Lala,” jawabku. Kusambut uluran tangan itu. Kokoh. Ada ketegasan. Keberanian. Aku menyukai kedamaian yang muncul dari -entah mengapa aku menyebutnya- sikap jantan sekilas yang terasa di ujung jemariku itu.
“Dari mana tadi?” Yoga tampak mencoba mengingat-ingat. “Temen sekelasnya Rara? Temen baru?”
Rara meringis dan menggeleng. “Bukan temen sekelas, Sayang. Tapi, memang teman baru. Dia datang dari tahun 2026.”
Yoga memandangku. Alisnya nyaris bertaut. Tiba-tiba aku menyadari kewaspadaan yang nyata di ekspresi wajahnya. Mulutnya tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tapi, ekspresinya seperti bicara lantang: dari tahun 2026? Lu bercanda?
“Ini kayak agak mustahil, ya. Tapi ini beneran. Dan dia temanku. Dia baik. Aku jamin itu,” kata Rara.
“Aku pamit ke dalam dulu, ya. Kepalaku nyeri lagi,” kataku. Aku memang berniat melarikan diri dari situasi tak menyenangkan.
“Ah, iya, kamu harus istirahat. Kalau butuh obat, ada di kotak di meja dekat teh tadi. Ambil aja yang kamu butuhkan,” kata Rara. Aku mengangguk dan meninggalkan keduanya. Meski begitu, aku masih mendengar suara Rara. “Dia tadi sakit kepala. Harusnya istirahat, tapi aku ajakin ngobrol terus.”
Aku tidak bisa mendengar jawaban Yoga. Namun, suara keduanya masih samar-samar seperti suara lalat atau lebah yang berdengung-dengung. Aku merebahkan diri di ranjang, tapi tak lama duduk kembali karena merasa tidak nyaman.
Aku memikirkan pertanyaan Rara. Juga pertanyaanku sendiri. Lalu terlintas wajah ibuku. Apakah ibu mencariku? Apakah Adiv juga mencariku? Tiba-tiba aku merasa rindu.
Untuk beberapa waktu, aku bertempur dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Hingga kemudian kuputuskan membuka kotak obat yang dikatakan Rara. Ada beberapa macam obat di sana. Obat sakit kepala berbentuk puyer, minyak gosok, dan plester. Aku mengambil puyer sakit kepala dan menyadari tidak ada air putih di kamar ini.
Aku membuka pintu perlahan. Pada saat itulah kusadari Yoga dan Rara ada di ruang makan yang letaknya berdekatan dengan kamar Rara.
“Kamu yakin dia orang baik?” Pertanyaan Yoga menghentikanku keluar dari kamar.
“Aku yakin.”