KRING!

gie
Chapter #11

#10. Permasalahan dari Masa Depan

Entah berapa lama aku akhirnya tertidur. Aku bangun dengan badan yang lebih bugar. Rasanya begitu enteng. Dan hal pertama yang kusadari adalah debu-debu serupa pelangi yang berterbangan di dekat meja dengan kaca di sisi ranjang. 

Dadaku berdebar. Perlahan kujulurkan telunjuk. Aku berusaha fokus agar bisa menemukan titik tengah di debu-debu berkilau itu. Bukankah aku terlempar ke waktu ini karena menyentuh titik tengah debu itu? Jadi, aku akan menyentuhnya, dan kembali ke 2026. Itu rencanaku. 

“Sudah bangun? Udah baikan?”

Pertanyaan Rara membuyarkan segalanya. Debu-debu berkilau yang kuanggap ajaib itu menguap. Hanya ada larik cahaya matahari sore yang muncul dari dinding yang berlubang di dekat jendela. Aku bergumam, setengah memaki sebenarnya. Kuharap Rara tidak mendengar makianku itu.

“Kamu tidur cukup lama. Ngeliat wajahmu, kayaknya kamu bener-bener udah baikan,” kata Rara lagi. Aku kembali bergumam. Dia meninggalkan kamar, dan aku mengikutinya. Di dapur, ibu Rara tampak sibuk memasak. Dia menoleh dan tersenyum lebar padaku. 

“Sudah baikan?” Kutemukan matanya berkilau indah. Mata yang jernih seperti milik Rara. Tubuhnya mungil dan ia memakai celemek dengan gambar beruang di tengahnya. Rambutnya semburat keperakan dan ia memakai bando besi tipis berwarna hitam untuk menahan rambut ikalnya menjuntai ke depan.

“Sudah, Tante. Terima kasih,” kataku. Aku duduk dan menuang air putih di gelas. Saat hendak meminum air itu, seseorang mengetuk pintu. 

Rara membuka pintu dan terdengar suaranya yang ceria. “Marhen! Ah, apa kabar? Kamu kok tahu aku pulang?”

Suara bercakap-cakap di depan tidak membuatku terganggu. Aku menandaskan air putih di gelas dan bersiap membantu Ibu Rara jika diperlukan. Namun, Rara dan seorang laki-laki memasuki ruangan. 

“Marhen! Kok bisa banget kamu datang pas Rara juga pulang?” Ibu Rara menyapa dengan nada riang. Dia membuka kedua tangannya dan menyambut pelukan pemuda yang dipanggil Marhen itu dengan senang. Perempuan itu seperti tenggelam dalam pelukan lelaki muda yang dipanggil Marhen itu.

Celemek yang terkena noda masakan, pelukan hangat, dan nada riang menjadi jelmaan nyata dari kasih sayang yang tulus. Kurasa, dari ibu yang demikianlah Rara bisa menjadi gadis yang mudah percaya dan hati yang bersih. Aku mengamati pelukan itu dengan iri. Rasanya, sudah lama aku tidak memeluk ibu seperti itu. Juga tidak pernah dipeluk ibu seperti itu. Mungkin, kalau aku bisa kembali ke 2026, aku akan memeluk ibu, meski tidak sehagat pelukan itu. 

Pemuda tinggi itu menoleh. Rasanya kepalaku terbentur sesuatu. Bahkan kupikir jantungku berhenti sesaat. Dia, lelaki itu! Lelaki bernama Marhen yang mengaku sebagai teman Adiv di tahun 2025 lalu, setahun sebelum aku ditarik masuk ke tahun ini!

Lelaki itu memandangku tanpa ada percikan keterkejutan di matanya. Senyum manisnya terulas dan telapak tangannya yang lebar sudah ada di depan mataku, terasa terlalu dekat dengan mataku. “Hai, aku Marhen,” katanya. 

“Lala.”

“Temennya Tinky Winky, Dipsy, dan Po? Udah jelas kamu yang kuning.” Matanya berkedip sebelah.  

Wait! Dia tahu Teletubbies! Dia dari masa depan juga! Teletubbies belum ada di tahun 1998!

“Hah? Siapa itu Tinky Winky, Dipsy, dan Po? Dan kenapa Lala itu kuning?” Pertanyaan beruntun disampaikan Rara.

Marhen tertawa. Dia menaikkan satu alisnya seraya menatapku. Bibirnya masih saja mengulas senyum yang itu. 

“Ish, kamu kok rahasia-rahasiaan gitu sih. Ini temen baruku lho. Jangan digoda-godain gitu. Awas aja dibikin jatuh cinta dan patah hati ya. La, kamu harus banget waspada sama Marhen. Dia playboy,” kata Rara memberi peringatan. Meski aku bisa menangkap nada canda di ucapannya. 

Aku dan Marhen berpandangan. Rara membelakangi kami dan berdiri bersisian dengan ibunya. 

“Kamu ….”

Lihat selengkapnya