KRING!

gie
Chapter #12

#11. Prediksi Itu, Oh Bella Ciao!

Setelah diam terpana beberapa waktu, aku merasa tanganku ditarik lelaki itu. Mungkin dia tadi memanggilku beberapa kali. Namun, aku memang merasa waktu membeku. Aku merasa semua hal berhenti mendadak. 

“Ayo, kita udah ditunggu Rara dan ibunya,” kata Marhen. 

Aku mengangguk. Kami berjalan bersisian. Masih bergandengan tangan. Masih pula tanpa kata antara kami. 

Marhen melepas genggaman tangannya saat kami masuk ke rumah Rara. Ibu Rara tidak terlihat. Rara baru keluar kamar seraya mengikat rambutnya. Dia menyambut kami dengan ekspresi gembira. 

Kami membawa kue dan minuman hangat ke teras. Kursi besi panjang yang ada di sana menjadi tempat dudukku bersama Rara. Sementara Marhen memilih duduk di kursi kayu dengan lengan bulat yang berada di dekat pot-pot bunga besar. Persis di samping kanannya, ada meja kecil dengan gitar di atasnya. Gitar itu bersandar di tembok seolah menunggu waktu yang tepat untuk dimainkan. 

Rara menanyakan perkembangan kuliah Marhen. Dari situlah aku mengetahui bahwa Marhen merupakan mahasiswa baru di kampus yang sama dengan Yoga. Rara juga menjelaskan sedikit bahwa Marhen sebenarnya lebih tua dari Yoga dan dia memang menunda masuk kuliah. 

Aku hampir saja mau mengajukan tanya mengapa Marhen memutuskan kuliah di usianya ini. Namun, aku menahan tanya itu karena pintu besi berbunyi. Yoga berdiri di sana lalu melangkah perlahan memasuki teras. Aku pindah duduk di kursi kecil dekat Marhen agar Yoga bisa duduk bersama Rara. 

Yoga dan Rara saling pandang untuk beberapa saat. Aku menyadari di mata Yoga tidak ada lagi kemarahan. Di sana hanya ada pandangan penuh kasih dan sepertinya penuh rindu.

“Jangan ciuman di depan kami,” kata Marhen tiba-tiba. Itu membuyarkan imajinasiku juga bahwa adegan selanjutnya adalah Yoga dan Rara berpelukan lalu berciuman. “Kok kamu yang mukanya merah, La?” Marhen bertanya dengan nada usil yang kental seraya menyenggol tubuhku dengan bahunya yang kekar. 

Aku memukul bahu itu. Rasanya kesal karena dia mengungkapkan sesuatu yang aku rahasiakan. Kesal dan malu lebih tepatnya. Sementara Marhen malah terkekeh-kekeh saja.

Yoga dan Rara duduk bersebelahan. Mereka bertiga mulai bertukar kabar. Sementara perhatianku justru terpusat pada seekor kupu-kupu berwarna hijau yang terbang berkitar di dekat Bunga Pukul Sembilan yang ada di tembok setinggi pinggang yang mengitari teras. 

Aku jadi ingat seorang teman yang sangat menyukai bunga bernama asli Portulaca Grandiflora itu. Tanaman itu berbentuk sukulen panjang (mungkin sekitar 10 atau 30an cm) dan bercabang-cabang. Daunnya runcing, sekitar 10 sampai 30an mm, dan berdaging. Warna bunga kuning, pink, dan putih tampak semarak di antara daun-daun runcing hijau itu. 

Kupu-kupu berwarna hijau terang yang menyita perhatianku itu semula kulihat hinggap di bunga berwarna putih. Dengan demikian warnanya yang kontras tampak menarik minatku. Lalu kupu-kupu itu berpindah ke bunga warna merah muda untuk kemudian terbang berputar-putar di satu pot ke pot yang lain. 

“La, bener, kan?” Suara Marhen dan bahunya yang kembali menyenggol tubuhku membuatku kembali pada percakapan di antara kami. 

“Eh? Apanya yang bener?” Aku tidak tahu apa yang baru saja mereka katakan. Menurutku akan lebih baik kalau bertanya daripada aku langsung mengiyakan sesuatu yang tak kupahami. Aku melirik pada pot bunga Pukul Sembilan dan kecewa karena kupu-kupu tadi menghilang.

“Hedeh, ternyata ngelamun dia,” kata Marhen. Dia memandangku dan menggeleng dengan ekspresi prihatin yang dibuat-buat. “Mikirin apa sih kamu?”

Aku meringis. Aku memang tidak memperhatikan obrolan mereka. “Maaf, tadi memangnya kalian bahas apa?”

“Aku bilang ke Yoga dan Marhen soal anggaplah ini prediksimu tentang kerusuhan di bulan Mei. Menurutku dan Marhen, tidak ada salahnya buat berjaga-jaga,” kata Rara. Dia memberi penekanan pada kata prediksi. Aku menangkap itu sebagai upaya untuk tidak memperuncing perdebatannya dengan Yoga tentang kehadiranku dari masa depan. Aku mengangkat alis dan mengangguk. Tidak perlu berkomentar. 

“Mengapa kamu memprediksi bakal ada kerusuhan besar nanti?” Pertanyaan itu diajukan Yoga dengan nada penuh rasa ingin tahu. Kami bertatapan dan aku melihat matanya yang jernih.

“Aksi massa yang melibatkan banyak orang. Bukankah logis kalau misal ada satu merasa didorong, lalu balas mendorong, akhirnya jadi dorong-mendorong?” Aku tidak punya penjelasan yang lebih baik dan hanya itu yang terlintas di pikiranku. 

“Masuk akal. Tapi, kalau hanya saling dorong, apa mungkin akan ada kerusuhan besar? Orang-orang yang terlibat aksi tentunya punya tujuan yang sama, bukan?”

Aku menghela napas. Selain Rara, ternyata Yoga juga lugu. Bahkan kurasa dia lebih naif daripada Rara. 

“Bukankah kalian sedang memperjuangkan reformasi?” Aku mengajukan tanya itu tanpa berniat menjawab pertanyaan polos yang diajukan Yoga. Mereka bertiga mengangguk. 

Lihat selengkapnya