KRING!

gie
Chapter #13

#12. Mungkin Memang Tak Mengubah Apa-Apa

“Kamu tahu versi asli lagu itu?” Aku tak sanggup menahan rasa ingin tahu. 

Marhen menghentikan senandungnya. Dia mengulas senyum sebelum menjawab. “Tahu. Aku dengar lagu ini pertama kali dari Kakekku. Aku belajar banyak lagu dari Kakekku.”

“Kakekmu orang Italia? Bisa bahasa Italia?” Aku benar-benar ingin tahu siapa Marhen yang sebenarnya. Maksudku, bagaimana bisa dia tiba-tiba menyanyikan Bella Ciao di situasi semacam ini. Dari banyaknya lagu, mengapa dia memilih lagu itu? Apa mungkin ada yang ingin disampaikannya?

Marhen tertawa. Rara yang memberi penjelasan, “Kakeknya pelaut. Kayak kakek, eh, nenek kita semua.”

“Nenek kita semua?” Aku tidak bisa mengerti maksud Rara. 

Rara dan Marhen tertawa. “Masak kamu nggak tahu kalau nenek moyang kita seorang pelaut?” Keduanya lalu menyanyikan lagu karya Ibu Soed itu. Aku meringis karena merasa tidak berhasil menyambar jokes garing itu. 

“Ngomong-ngomong, lagu yang kamu nyanyiin tadi tentang apa sih? Aku baru denger lagu itu,” Rara bertanya pada Marhen setelah keduanya tertawa usai menyanyikan lagu anak-anak itu dengan kompak. 

“Tanya Lala tuh, kayaknya referensi lagu dia bagus. Dia juga banyak baca buku time travel kayaknya,” kata Marhen sambil mengedipkan sebelah mata. Jemarinya kembali bergerak memainkan lagu Bella Ciao

“Lagu perjuangan. Tentang orang yang ngerasa bakal mati di pertempuran,” kata Yoga. Marhen berhenti memetik gitar. Aku dan Rara berpandangan sebelum akhirnya gadis itu menggenggam tangan kekasihnya lagi. “Marhen sengaja main lagu itu buat ngingetin aku kalau dalam aksi nanti bisa aja ada banyak korban. Dia ngasih sinyal yang jelas dengan memilih lagu itu. Dan bukan nggak mungkin kalau itu juga aku.”

“Sayang ….”

“Kenapa kamu berpikir kalau aku ngingetin kamu tentang itu?” Marhen bertanya. Pertanyaan itu sekaligus memutus ucapan Rara yang tampaknya akan menyanggah kata-kata Yoga. 

“Ini bukan pertama kalinya kita ketemu, Marhen. Kamu juga beberapa kali bilang padaku bahwa akan ada kerusuhan dengan jumlah korban yang besar. Aksi tidak lagi damai. Bahkan rumah dan toko dijarah. Lalu tembok-tembok akan diberi tulisan besar-besar: milik pribumi. Dan itu juga prediksi Lala yang mengaku datang dari tahun 2026,” kata Yoga. Dia memandang Marhen tanpa berkedip. 

Aku menoleh dan terpana. Jadi, lelaki ini mengatakan itu semua pada Yoga? Bukankah itu bukti tidak terbantahkan kalau dia juga datang dari masa depan? Lalu mengapa lelaki ini menyangkalnya tadi?

Marhen tertawa sekilas. Dia mengalihkan pandang pada gitar yang ada di pelukannya dan berkata dengan suara nyaris berbisik. “Kita semua sedang frustasi. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita cuma bisa menyaksikan ini berulang.”

Aku menelan ludah susah payah. Apa maksud perkataan Marhen itu? Apakah dia benar-benar terjebak seperti yang dikatakan saat pertama kali bertemu denganku? Terjebak di tahun ini.

“Aku bisa memahami kalian mencemaskan aksi ini tidak lagi murni. Aku dan teman-teman juga memprediksi itu. Tapi, aksi massa besar, penjarahan, dan pemerkosaan? Itu terlalu jauh. Itu terlalu tidak mungkin ...."

"Sudah kubilang, kita hanya kumpulan orang yang frustasi. Nggak ada yang berubah meski aku memberi peringatan. Nggak ada yang istimewa juga dari kedatangan Lala. Apapun yang kami katakan, bakal kalian abaikan juga," kata Marhen.

Kedua lelaki itu saling pandang seperti dua hewan buas yang siap bertarung. "Jadi, sebenarnya apa maksudmu? Kamu mau menakut-nakuti kami? Mau menghentikan aksi kami? Atau jangan-jangan kamu adalah oknum yang dibilang Lala tadi, oknum yang punya kepentingan agar pemerintahan sekarang langgeng?” tanya Yoga.

Pertanyaan beruntun penuh tuntutan penjelasan itu membuatku nyaris tak bisa bernapas. Kulirik lelaki di sebelahku. Dia masih memandangi gitar dalam pelukannya. Entah mengapa aku merasa dia bukannya tidak mau menjawab. Dia tidak bisa menjawab. 

Kita semua sedang frustasi. Begitu kata Marhen tadi. Apa maksudnya itu?

“Sayang ….”

“Aku serius ingin tahu jawaban Marhen, Sayang,” kata Yoga memutus kata-kata Rara. “Jawab aku, Marhen. Kamu juga Lala ... jawab aku! Mengapa kalian datang tiba-tiba dan memberi prediksi mengerikan itu? Kenapa harus aku dan Rara?”

Aku memandang Rara mencoba mengirim sinyal bahwa aku juga tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Sekali lagi, bukan karena tidak mau. Namun, aku memang tak tahu jawabannya. 

Rara memeluk lengan kekasihnya. Dia menggumamkan sesuatu. Lalu, ia berdiri dan seperti agak menyeret lelaki itu masuk. 

Marhen menoleh padaku setelah Yoga dan Rara masuk. “Kamu juga nggak tahu jawabannya?”

“Jadi, kamu pun tahu persis peristiwa itu bakal seperti apa? Kenapa kamu menyangkal kalau datang dari masa depan dan seolah aku berhalusinasi dengan ….”

“Karena sulit sekali memberi penjelasan logis. Ini pertama kalinya kamu kembali ke tahun ini, kan?” Aku mencoba untuk tidak menebak berapa kali lelaki itu kembali ke masa ini. Marhen tampak begitu sedih dan berkata pelan, “ini kali ketigaku. Aku datang ke sini, bertemu Rara dan Yoga. Selalu seperti ini. Meski aku mencoba mengubah caraku menyampaikan pesan berjaga-jaga itu. Hasilnya selalu sama. Jangan tanya aku kenapa ini bisa terjadi. Aku sama bingungnya denganmu.”

Kurasa cukup lama aku membuka mulut. Lalu saat akhirnya bisa menutupnya, aku merasa kesulitan menelan ludah. Rasanya begitu kering. Sangat menyakitkan. “Tunggu, setidaknya ada yang sama antara kita,” kataku akhirnya. 

Lihat selengkapnya