KRING!

gie
Chapter #14

#13. Kalau Kita Memang Manusia

“Lagi dan lagi?”

Marhen menatapku. Matanya seperti mata hewan kurban yang siap disembelih. Bila boleh kukatakan, di mata itu tak kutemukan bayangan diriku yang berdiri di hadapannya. 

Matanya begitu kelam. Mata Marhen seperti sebuah senja di kota yang semrawut, memburu-buru diri dengan pembangunan yang serba kedodoran. Kota yang sekilas tampak ramai, tapi sebenarnya kota yang paling sunyi dan menyedihkan. 

“Dan kamu cuma diem di sini, nyanyi Ciao Bella di depan mereka?”

“Aku bisa apa?”

Aku bisa apa? Dia bisa apa?

Entah mengapa kini di mata Marhen tampak bayangan samar. Kucoba berkonsentrasi mencari tahu bayangan apa yang ada di matanya itu. 

Aku mencelos. Bayangan itu adalah bayangan tubuh Rara yang meliuk. Gerakan itu begitu pelan. Ia seolah menghindar panas api yang membara di sekitarnya. 

Aku menarik napas dalam-dalam. Pada saat itulah aku menyadari aroma anyir yang datang bergelombang. Memang semula pelan. Namun, ia berubah bergulung-gulung jadi gelombang pasang yang mematikan. 

Aroma itu makin lama makin tidak bersahabat. Ia mengaduk perutku. Lalu menyesakkan dadaku. Bahkan terasa seperti memukul kepalaku. Kurasa, aku bisa mati berada di sini dengan aroma anyir yang mengelilingi ini. 

“Bilang sama aku, Ra? Apa yang bisa kulakukan buat Yoga? Dan terutama apa yang bisa kulakukan buat Rara?” Pertanyaan yang diajukan Marhen itu bergaung berulang di kepalaku. 

Lelaki itu seketika tampak kuyu. Ia tak tampak tampan, muda, dan sehat. Sebaliknya, ia tampak begitu menyedihkan. Seperti pohon tua lapuk yang siap hanyut saat banjir badang datang.

“Aku … tidak tahu. Tapi, aku merasa kita harus melakukan sesuatu,” kataku pelan. Aku seperti seekor ikan yang terperangkap di akar-akar pohon tua lapuk itu. Ikan kecil yang rapuh dan berusaha bergerak agar hidup bisa lebih panjang sedikit. 

Tiba-tiba aku merasa ada nyeri yang merambat di kepalaku. Lalu kepalaku seperti berada di antara dua balok kayu besar yang bergerak perlahan. Pelan -pelan kedua balok itu mendekat dan kepalaku terhimpit di sana. 

Meski aku berteriak nyaring, menolak, atau melakukan beragam upaya untuk lepas dari himpitan itu, kedua balok terus menekan kepalaku. Geraknya memang pelan. Tapi sungguh itu mematikan. 

“Bilang sama aku, Ra. Kasih tahu caranya jadi manusia yang bener. Aku sudah tiga kali ditarik masuk di waktu ini. Kau tahu … ini membuatku frustasi,” kata Marhen. 

Pohon tua itu -Marhen maksudku- tampak begitu menyedihkan. Seketika aku ingat pada pohon beringin tempatku menyadari berada di garis waktu yang berbeda. Betapa berbedanya Marhen dengan pohon beringin yang itu.

Kami bertatapan lagi. Kali ini aku merasa menemukan diriku di matanya yang sedih. Kuperhatikan tangan Marhen mengepal. Urat di tangannya terlihat jelas. Ia tampak seperti orang yang kesulitan bernapas normal. Di situlah aku paham badai di hatinya tengah berkecamuk. 

Entah bagaimana dan dengan alasan apa, aku membuka tangan. Marhen memandangku ragu. Lalu ia melangkah pelan. Kami berpelukan seperti dua orang yang ingin saling menguatkan. 

“Bahkan saat aku sadar, kalau aku sekali lagi melihatmu di kafe itu, aku sudah mulai frustasi, Ra. Rasa putus asa itu makin lama makin kuat ada di dadaku. Aku berusaha menghindari waktu kita bertemu lagi, tapi entah mengapa aku selalu melihatmu.”

“Aku ingat pernah bertemu denganmu di kafe di garis waktu masa depan. Kamu mengaku sebagai teman Adiv tanpa memberitahuku secara jelas tentang itu,” kataku. 

Dari jarak sedekat ini, aku menyadari betapa kokoh bahu Marhen. Ini sedikit berbeda saat tadi aku melihatnya seperti pohon tua yang layu. 

Dalam pelukanku, bahu Marhen sekuat pohon beringin tempatku muncul di garis waktu ini. Namun, entah mengapa, aku merasa bahu itu memikul sesuatu yang berat. Otot di bahu itu terasa terlalu tegang. 

Tanganku mengusap punggung Marhen perlahan. Itu terjadi begitu saja. Meski ada terselip rasa janggal, tapi entah mengapa aku merasa nyaman. Apalagi saat Marhen juga mengusap punggungku perlahan. Aku merasa seperti kembali di pelukan ibu yang tenang. Seperti berada di pelukan orang yang berani menjadi tameng untuk kegaduhan dan kekacauan di luar sana. 

“Aku melihatmu setiap kali akan masuk ke garis waktu ini. Di tempat yang sama, dengan adegan yang sama. Saat pertama kali melihatmu, aku ingin bicara banyak hal. Aku seperti pernah melihatmu di suatu tempat yang tidak kuketahui. Di sikapmu yang serba ragu dan kelewat hati-hati, aku menemukan teman dan rumah. Dan saat kutahu tentang lagu kesukaanmu, luka batinmu, dan bagaimana relasi orang tuamu, aku merasa kita adalah orang yang sama. Kita sama-sama menjalani hidup yang tampak sial. Sama-sama melalui jalan hidup yang belum kita mengerti.”

Lihat selengkapnya