Perkara keselamatan Rara menjadi prioritas kami usai pembicaraan itu. Itu sudah jelas.
Keputusan Rara pun sudah jelas. Dia memutuskan melakukan sesuatu untuk perempuan-perempuan yang kami katakan -anggaplah kemudian kami menggunakan kata meramalkan- akan menjadi korban dalam kerusuhan Mei ‘98.
“Ada musim di mana daun-daun berguguran, Ra. Pada saat itu, kita tidak bisa berharap ada buah yang bisa kita petik. Bahkan selembar daun hijau pun tidak bisa kita harapkan kehadirannya,” kata Rara di malam setelah perdebatan dengan ibunya itu. Itu terdengar sedikit puitis. Sungguh.
Aku tidak paham maksudnya. Jadi, aku diam saja meski berharap dia menjelaskan padaku. Namun, perempuan manis itu menatap bayangan dirinya di cermin dan menyisir rambutnya perlahan.
“Sebuah keberuntungan tahu ada musim begitu. Kita jadi bersiap menghadapi musim itu, sembari berharap musim semi lekas datang,” katanya pelan. “Tapi, musim disaat daun-daun berguguran itu mengajarkan kita banyak hal. Kamu tahu apa itu?”
Aku menggeleng. Rara menatapku dari cermin. Kulihat senyumnya terulas. Namun, senyum itu terasa begitu pedih. Seperti senyum dari orang yang hatinya terlalu terluka.
“Tahu kalau aku memiliki akhir hidup yang tragis itu … ehmn, sesungguhnya, itu sungguh menakutkan.”
Kami berpandangan melalui cermin. Kulihat ia kembali mengulas senyum. Masih senyum yang pedih itu.
“Tapi, kalau memang ini waktunya daun-daun berguguran, aku tidak bisa ….” Rara diam. Ia tampak kembali menghela napas. Seperti tengah menyingkirkan beban besar.
“Aku ingin membesarkan harapan. Harapan kalau di musim selanjutnya. Tidak hanya daun hijau yang muncul, tapi juga bunga-bunga, buah-buah, dan … aku ingin betul merawat harapan itu. Harapan bahwa ada masa baru, meski harus melalui masa penghancuran yang … mengerikan.” Suara Rara makin lirih di ujung kalimatnya.
“Tapi, aku beruntung karena kamu dan Marhen, aku jadi tahu bahwa begitulah akhir hidupku. Setidaknya, aku bisa melakukan sesuatu untuk mengubah akhir bagi perempuan-perempuan lain. Meski ….” Rara kembali menghela napas, lalu tersenyum dan menggeleng.
Ia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya malam itu. Ia juga tidak pernah membahas lagi tentang musim ketika daun-daun berguguran dan maksudnya menyebutkan itu. Dan … entah mengapa, aku juga tidak ingin bertanya.
Sejak itu Rara menjadi lebih sibuk. Aku mengikutinya tentu saja.
Dia menemui banyak orang seperti ketua RT dan RW. Dia juga menghubungi banyak temannya yang bekerja di bidang kesehatan. Dia bahkan belajar pertolongan pertama untuk luka bakar. Di waktu lain, biasanya di waktu petang di lorong-lorong kampus, dia bersua dan berdiskusi dengan Yoga, kekasihnya.
Pada saat demikian, aku bisa bertemu kembali dengan Marhen. Biasanya kami lalu menjauh sejenak, sekadar duduk di pojokan dan berbisik-bisik. Marhen menjelaskan rencana aksi yang akan dilaksanakan Yoga dan teman-temannya. Ia juga membocorkan sedikit informasi dari yang disebutnya sebagai ‘bos’.
Kami mencocokkan itu semua dengan potongan-potongan ingatan yang menempel di otak kami. Kami memprediksi kerusuhan dan aksi yang akan dilaksanakan, mencoba melihat pola yang sama. Kami kerap hanya berpandangan tanpa kata saat menyadari bahwa apa yang terjadi masih sama seperti yang kami ingat tentang tahun ‘98.
Melihat Marhen yang serba memberitahu informasi kedua sisi begitu membuatku merasa dia sedang menjadi agen ganda. Meski, sampai awal Mei yang mencekam itu, aku masih saja tidak tahu siapa ‘bos’ yang dimaksud Marhen.
Pada suatu petang, usai aku dan Rara berkoordinasi sekali lagi dengan teman-temannya, kami memutuskan bertemu dengan Yoga dan Marhen. Di lorong kampus itu, tempat biasa kami bertemu di waktu petang yang rawan, aku dan Rara menunggu.
“Kamu yakin Yoga bakal ke sini, Ra?” Aku bertanya ragu. Dengung nyamuk terasa begitu nyaring. Lampu di lorong ini pun hanya menyala satu di ujung dekat pintu keluar. Tempat kami duduk menunggu ini terasa begitu sunyi dan gelap. Biasanya, ada lampu menyala di sini, tapi entah mengapa petang ini lampu itu tidak menyala.
“Bukankah kita janjian ketemu di sini? Kemarin dia bilang mau ke sini sama Marhen, kan?”
Aku mengangguk. Kukibaskan tangan berharap dengung nyamuk itu berhenti. “Tapi, ini kok lama, ya? Apa jangan-jangan mereka batal ke sini?” Aku bertanya sambil mencoba menepuk nyamuk.
“La, apa yang harus kamu lakuin biar bisa balik ke tahun 2026?” Rara balas bertanya. Aku batal menepuk nyamuk. Kucoba menerka emosi di wajahnya dalam remang.
“Ehmmm ….”
“Kamu nggak bermaksud tinggal di sini kan?” Pertanyaan itu diajukannya cepat, seperti tidak ingin aku menjawab atau memulai jawaban dengan keraguan.
“Eh?”
“Maksudku, kamu pasti rindu dan ingin pulang.”
“Tentu saja,” jawabku cepat. Siapa yang tidak ingin lekas pulang? Siapa yang tidak ingin lekas mengakhiri situasi tidak menyenangkan di sini?
Namun, aku menyadari bahwa situasi yang kuhadapi saat ini sepertinya pun sama saja dengan yang aku hadapi di 2026. Beda pencetusnya saja, meski memang terasa mirip sedikit. Di 2026, ada aksi massa besar bergelombang dimulai tahun sebelumnya.
Di akhir Agustus 2025 ada demo besar-besaran. Ada pula kerusuhan di beberapa tempat. Pemicunya penolakan kenaikan gaji/ tunjangan DPR, PHK massal, dan RAPBN.
Di 2026 pun ada demo. Aksi yang dilakukan mahasiswa di berbagai daerah itu menyoroti lemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM non-subsidi dan juga ketidakpuasan dan protes atas program pemerintah yang dinilai tidak tepat.
Jadi, aku mengulang pertanyaan dalam hatiku itu: Siapa yang tidak ingin lekas pulang? Siapa yang tidak ingin lekas mengakhiri situasi tidak menyenangkan di sini? Tapi, apa bedanya situasi di hari ini dan di hari dimana aku seharusnya berada?
Aku menghela napas. Meski begitu, dadaku masih saja terasa sesak. Entah untuk alasan apa, angin terasa berhembus pelan. Seperti sebuah tangan besar yang dingin dan mengusap sekujur tubuhku. Perlahan bulu kudukku meremang.
Rara tampak menoleh padaku. Tapi, entah mengapa aku yakin ia tidak sedang menatap ke arahku. Dia seperti tengah fokus pada sesuatu yang ada di samping belakangku. Di sebelah kiriku, sekitar dua atau tiga langkah di belakangku. Aku menahan napas. Siapa yang berdiri di sana dan menahan pandangan mata Rara?