KRING!

gie
Chapter #16

#15. Memupuk Rindu Hingga Musim Semi

“Lala!” Suara Marhen menghentak. 

Oh, bagaimana bisa ada Marhen di sini? Di mana dia? 

“Lala … Lala! Ini aku, Marhen.” Suara itu berulang dan aku mulai menyadari pipiku ditepuk-tepuk lembut. 

Aku lega seketika. Lelaki itu tiba-tiba berdiri di depanku. “Lala, kamu oke?”

Aku mengangguk. Lalu menggeleng. Kemudian … aku berdiri dan memeluk Marhen. “Aku takut. Aku takut sekali, Marhen!”

Marhen balas memelukku. Aku merasa dia pun menggigil sepertiku. Apakah dia baru saja masuk ke danau yang sama denganku? Apakah dia yang menyelamatkanku dari danau yang gelap itu?

“Aman, La. Kamu sudah aman.” Marhen mengulang kata-kata itu seraya menepuk lembut punggungku. 

Aku aman? Sudah aman? Dari apa? Dari siapa?

“Aku takut banget, Marhen. Ini membingungkan. Aku … aku takut,” kataku. Aku mulai merasa ada dorongan untuk menangis. Maka, aku pun menangis terisak dalam pelukan kokoh Marhen yang kini mulai terasa hangat.

“Aku tahu. Aku tahu kamu takut. Tenanglah. Tidak apa-apa. Tidak ada hal buruk yang terjadi.” Aku mengangguk mencoba percaya. “Kita harus akhiri ini dengan baik-baik, La. Harus!” Suara Marhen bergetar. 

Aku mengangguk lagi. Berkali-kali. Dalam pelukannya yang semula begitu dingin, kami seperti dua manusia yang baru saja masuk dalam danau yang begitu dalam dan pekat. 

“Eh, sorry, sorry ….” Suara itu membuatku dan Marhen melepas pelukan. Itu suara Rara. Aku menoleh dan menemukannya berdiri bersisian dengan Yoga. 

Lorong yang semula kuyakin gelap, hanya satu lampu menyala di ujung lorong, telah terang benderang. Persis seperti yang biasa terjadi saat aku dan Rara menemui Yoga dan teman-temannya di kampus ini. 

“Mulai ada kisah cinta di sini rupanya,” kata Yoga. Kali ini kutemukan senyum jahilnya. Ia bahkan mengedipkan sebelah mata ke arah Marhen. 

“Ah, bukan, bukan begitu ….” Aku dan Marhen berlomba menyangkal. 

“Sudah, ah. Begitu-begitu juga tidak apa-apa,” kata Rara. Gadis itu dan kekasihnya saling pandang. Lalu keduanya berbagi tawa yang renyah. 

Aku terpesona pada tawa keduanya. Perlahan aku menoleh dan menemukan tatapan Marhen pada pemandangan di hadapannya: tawa Rara dan Yoga. 

Rara dan Yoga berjalan bersisian. Yoga merangkul pundak kekasihnya. Ia seperti lelaki yang waspada, tapi tak pernah kehilangan kelembutan. Mereka berjalan bersama melewatiku dan Marhen. 

“Tawa mereka ….”

Telunjuk Marhen mampir di bibirku. Dia menggeleng dengan sedih. “Tawa terakhir?” Aku mengajukan tanya setelah menyingkirkan telunjuk Marhen. 

Marhen mengangguk pelan. Kutemukan bayanganku di matanya, begitu mungil dan terkesan rapuh. 

“Biar kita simpan tawa itu di pikiran kita. Kata Rara, ini musim daun-daun berguguran. Tapi, dia ingin menyimpan harapan tentang musim semi yang baru,” kataku pelan. 

“Kita sudah bikin sedikit kemajuan, La. Ini juga harapan kita. Semoga ada musim semi itu. Dan kita bisa lihat tawa mereka. Lebih banyak lagi,” kata Marhen. 

Aku mengangguk. Kami berjalan bersisian menyusul langkah ringan Rara dan Yoga. Setelah beberapa langkah, aku menyadari Marhen menggenggam tanganku. Aku bersyukur dia melakukan itu. Aku jadi merasa berjalan bersama seseorang. Aku tidak sendirian. 

Begitulah. Seperti yang kami prediksikan -kami sampaikan dengan jelas sebagai potongan ingatan tentang ‘98- kerusuhan benar-benar terjadi. 

Ketika empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas, situasi memanas. Kemarahan rakyat terasa begitu kuat dan tak terbendung. Kemarahan itu menjalar seperti api yang semula kecil, lalu merambat, dan akhirnya kota menjadi lautan merah yang begitu panas. 

Asap hitam mengepul. Begitu tinggi dan pekat. Di berbagai sudut kota, asap-asap itu seperti berlomba. Mereka seperti sesuatu yang angkuh, ingin menunjukkan yang paling besar dan hebat. 

Lihat selengkapnya