KRING!

gie
Chapter #17

#16. Tak Sesuai Waktu Sebelumnya

“Ini salah. Bukan malam ini!” Suara Marhen terdengar begitu frustasi. Dia mencoba menarikku, tapi aku tetap terpaku. 

“Tapi, gimana bisa? Kenapa bisa?” Aku tergagap. 

“Enggak, La. Ada yang salah. Waktunya bukan malam ini. Aku yakin sekali.”

Kami berpandangan. Kutemukan luka di matanya. Kepedihan dan kengerian. Ia seolah tak siap menjalani bagian akhir ini. Dia seakan berada di persimpangan, di mana dia akan kembali ke masa ini atau kembali ke masa depan. 

Kami sama-sama menggeleng pelan. Rasanya semua hal terlalu tiba-tiba. Aku tidak siap. Tidak pernah siap. 

Marhen kembali menarik tanganku. Aku tahu dia ingin aku pergi dari tempat ini. Mungkin bersembunyi, atau lari kembali ke rumah Rara. 

Bantuan! Apakah aku harus mencari bantuan?

Tapi, bagaimana ini? Kakiku tak bisa digerakkan. Seperti ada paku besar menancap dan membuatku tak bisa berpindah meski sedikit saja. Aku menatap Marhen tak kalah putus asanya. 

“Lala … Lala, please. Lari, La! Pergi dari sini!”

Semua hal terasa berjalan terlampau pelan. Seperti sebuah video yang berputar dua kali lebih lambat. Itu membuatmu bisa melihat detail ekspresi yang menyakitkan hati. 

Rara menoleh padaku. Matanya terbeliak. Mulutnya bergerak pelan. 

“La … La … la … ri!!!”

Rambutnya yang bergelombang panjang itu seperti menari pelan. Begitu gemulai. Bergerak perlahan. Bola matanya bergeser lambat dari kiri ke kanan, lalu pindah ke kiri dan kanan lagi. 

Tiga, mungkin empat, lelaki menarik tangan kanannya. Jumlah yang hampir sama menarik tangan kirinya. Dia serupa kain usang yang ditarik dari kedua sisi. Oh, apakah kain inilah yang tengah dijahit di monumen Prasasti Mei 98 di TPU Pondok Rangon? Inikah kain yang hendak dijahit dengan sebuah jarum besar itu?

“La … riii!!!” Teriakan dalam gerak terlampau perlahan itu sayup-sayup mampir ke gendang telingaku.

Lihat selengkapnya