KRING!

gie
Chapter #18

#17. Bukan Anak Sapi yang Menarik Pedati

“RARAAA! TIDAAAKKK!”

Entah darimana kekuatan itu berasal. Aku mampu menggerakkan bibirku dan teriakanku membahana. 

Semua berhenti tiba-tiba. Pakaian dalam Rara yang terakhir dilempar ke udara itu masih berhenti di sana, sekitar satu meter dari tubuhnya. Tangan Rara mencengkram jalanan yang keras. Matanya melotot dan kengerian amat sangat terpatri di sana.

Lelaki-lelaki itu pun membatu. Ada yang membungkuk dengan celana terbuka di depan kaki Rara yang dikangkangkan. Ada yang mengepalkan tangan meninju udara yang beku. Ada pula yang menuding tubuh telanjang Rara dengan ekspresi lapar tak main-main. 

Aku bernapas. Kutarik napas. Kuembuskan. Berulang. 

Semua beku. Hanya aku yang bergerak. Gerak kecil napasku menunjukkan hal itu. 

“Nggak bisa gini …. Kenapa begini?” Aku bertanya pelan. Kutebah dadaku berkali-kali. “Kenapa kayak gini, Tuhan?”

Kesadaran kecil mampir di otakku yang juga kecil. Aku kembali pada Tuhan saat semua situasi di luar kendaliku. Dan aku kembali hanya di saat-saat begitu. Betapa … betapa aku hanya mengandalkan diriku dan apatis pada kekuatan di luar diriku. Oh, betapa sombongnya aku!

Aku mati-matian menggerakkan kaki. Berhasil! Langkah pertama dari kaki kanan. Aku ingin menuju Rara mumpung waktu berhenti. 

Aku harus menyelamatkan Rara! Aku harus membawanya pulang dalam kondisi baik ke pelukan ibunya! Aku harus bisa meminimalkan luka di tubuh dan jiwanya sebagai ucapan terima kasih karena ia telah menyelamatkan banyak perempuan di rumahnya yang menjadi posko bersama itu. 

“Rara … maafkan aku. Rara, bertahan … sedikit lagi,” kataku. Aku mengatakannya berulang seolah itu mantra yang harus kurapalkan.

Sesuatu berkobar di dadaku. Aku berpacu dengan waktu yang berhenti ini. Entah kapan waktu kembali berjalan. Aku harus melakukan sesuatu pada tubuh perempuan yang kini seperti tak ada harganya di hadapan para penyamun itu. 

Dalam upayaku melangkah satu-satu itu, aku mendengar petikan gitar. Sialan! Itu Marhen? Kenapa dia malah main gitar dan bukannya membantuku menyelesaikan ini dengan baik?

Namun, aku tidak bisa menoleh. Jadi, orang yang memainkan gitar bisa saja bukan Marhen. 

Langkah lambat dan beratku itu malah seperti gerak pelan sebuah film dengan iringan musik. Aku merasa seperti berada di sebuah adegan film, dengan visual film yang bergerak pelan diiringi sebuah lagu. Aish, kenapa malah dramatis seperti ini? Aku butuh sesuatu yang lebih nyata dan berdampak daripada situasi yang dramatik!

Intro lagu itu kukenal. Itu pula yang membuatku merasa sakit betul. 

Donna, Donna karya Sholom Secunda dan Aaron Zeitlin yang dibuat tahun 1941. Lagu ini populer dibawakan Joan Baez pada tahun 1960. Namun, kurasa yang sedang bergaung sekarang lebih mirip Donna, Donna yang dibawakan Sita Nursanti. 

Sungguh, aku merasa tengah merepresentasikan lirik lagu itu. Aku serupa seekor anak sapi dengan mata yang menyedihkan. Anak sapi itu membawa gerobak menuju pasar. Di atasnya ada seekor burung layang-layang. Burung itu mengepakkan sayap dan dengan cepat melintasi angkasa.

Sial. Sungguh sial. 

Aku masih melangkah lambat dan berat. Di depan sana, tubuh Rara membeku dengan ketelanjangan yang nyata. Juga masih berdiri pemangsa-pemangsa yang menunggu mengoyak tubuh dan mematikan jiwa. 

Air mata bergulir. Namun, lekas pula mengering. Aku serupa tanah tandus yang cepat-cepat menyerap air. Lalu terbanglah petrikor yang kerap dirindukan para penyair. 

“Rara … bertahan. Bertahanlah sebentar lagi ….” Aku mengucapkan itu berulang. Seolah itulah mantra yang mesti kurapal. Dan kesedihan mencengkram hatiku, terasa meremukkan dadaku, dan perlahan membungkam bibirku. 

Sementara lagu itu masih saja bergaung. Dengan tempo lambat. Lengkap dengan suara Marhen yang berat.

Lihat selengkapnya