KRING!

gie
Chapter #19

#18. Embun di Pucuk Daun

KRING!

Suara itu begitu nyaring. Tampaknya ia berusaha menarik perhatianku. Namun, entah mengapa, aku tidak bisa memusatkan perhatian. Aku terlalu lelah, lemah, dan mengantuk.

Tubuh Marhen dan Rara masih terbujur di depanku. Aroma daging gosong masih berputar di sekitarku. Asap tebal hitam masih bisa kulihat di beberapa titik. Namun, orang-orang buas yang semula begitu liar masih saja mematung. 

Rasanya aku ingin menjerit. Rasanya aku ingin meraung. Tapi, aku hanya bisa terisak. Isakan pelan yang bahkan kupikir tak akan didengar siapa-siapa. 

Aku menyadari suatu hal yang jelas: kesendirian. Aku telah melewati waktu-waktu panjang dengan menekan kesedihan begitu dalam. Di akhir, ketika aku menyadari aku sendirian, aku hanya bisa menangis pelan.

Kuusap kepala Marhen. Betapa telah tumbuh sesuatu yang hangat di hatiku. Sesuatu yang tak pernah ada saat aku bersama Adiv.

“Marhen … katamu, kita harus bertahan. Kenapa … kenapa aku sendirian sekarang?” 

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin sendirian. Aku ingin punya teman yang membersamaiku untuk kembali pulih. Dan aku menginginkan Marhen.

Air mataku bergulir. Aku mendongak dan melihat warna merah di langit ternyata telah memudar. 

KRING! KRING! 

Bunyi itu menghentak. Seolah ia ingin menarik perhatianku. Seolah ia ingin mengajakku bicara dan mungkin menawarkan perjalanan yang luar biasa. 

Dadaku berdebar. Terasa begitu kencang hingga aku khawatir jantung yang semula aman berada di rongga dada akan meloncat keluar. Mungkin juga dia membawa serta paru-paru dan semua hal yang menopang hidupku. 

Kuusap lagi kepala Marhen. Di wajahnya yang tenang itu, aku seperti melihatnya lega usai pertarungan panjang dan berulang-ulang. Betapa melelahkan dirinya yang terus kembali ke garis waktu ini. 

Jika aku dibawa kembali ke garis waktu ini, apakah aku cukup siap? Apakah aku cukup rela kembali ke waktu ini untuk bertemu dengan Marhen sekali lagi?

KRING! KRING! KRING!

Suara itu menghentak. Memukul gendang telinga dan seolah ingin menyadarkanku. Mataku terlalu berat untuk dibuka. Aku … tidak punya kekuatan untuk melakukan itu.

Aku merindukan tanah lapang dengan rerumputan segar. Embun yang menggantung di ujung dedaunan. Basah dan menyegarkan. Jeda pertempuran panjang yang telah dan akan kulalui.

Pikiranku berkelana pada ibu, juga gudang yang menyimpan lemari tua. Bunyi-bunyi mengusik dari lemari itu menuntunku untuk mendekat. Aku ingat saat aku membuka lemari itu dengan waspada. Sebuah ponsel berdering dan nama Rara tertulis di sana. 

Aku memandang tubuh Rara yang kaku. Seandainya kusentuh tubuh itu, apakah terasa dingin? Atau tubuh itu masih menyimpan hangat?

KRIIINGGG!!!

Seruan panjang itu membuatku mengaduh. Nyeri sekali telingaku. Ini terlalu melengking, terlalu nyaring. 

Kusadari nyeri ini telah menjadi teman karibku. Saat aku terus menekan perasaanku, bahkan saat bersama Adiv. Aku selalu bilang begitu bahagia menemukan lelaki yang mengertiku. Namun, tubuhku tak pernah sepakat tentang itu.

Kugerakkan kepala. Suara itu berasal dari telepon umum di sebelahku. Siapa yang menelepon ke telepon umum? Di saat seperti ini, siapa yang kurang kerjaan menelepon?

Aku menggeser tubuh Marhen perlahan. Dengan susah payah aku berdiri dan merasa lega saat tanganku bisa berpegangan pada penutup telepon umum itu. 

Ini telepon umum koin. Jika aku akan menelepon seseorang, aku harus memasukkan koin ke lubangnya. Lalu memencet nomor dan berburu waktu menyampaikan informasi pada orang yang kutuju. 

Namun, telepon ini berbunyi. Seseorang menelepon ke sini. Entah bagaimana caranya. Aku tidak tahu dan … tidak cukup punya tenaga untuk mencari tahu. 

KRIIINGGG! KRIIINGGG!!

Telepon itu seperti menyalak. Serupa anjing galak yang menunggu terlalu lama. Kuarahkan pandang pada tubuh Rara dan Marhen yang masih terbujur dan tak bergerak. 

Hatiku terlampau hancur. Terasa sulit untuk bisa utuh kembali. 

Kuulurkan tangan menyentuh ganggang telepon. “Halo?” Aku berkata dengan kewaspadaan yang tersisa. 

Lihat selengkapnya