Matahari perlahan turun berganti dengan bulan. Seorang ksatria berjalan lunglai menyusuri semak belukar di sebuah hutan dengan belati di tangan kanannya.
Pakaiannya nampak compang camping akibat gigitan hewan buas. Keringat nampak mengucur disekitar pelipisnya. Namun tak membuat langkahnya berhenti, menapaki jalan setapak nan penuh bebatuan.
Dari jauh ia melihat sebuah rumah mewah dengan pagar cokelat setinggi kurang lebih dua meter. Cahaya lampu dari dalam rumah itu terasa menyilaukan mata sang ksatria. Dalam batinnya, ia bertanya "bagaimana mungkin ada rumah ditengah hutan belantara?" Terlintas pikiran buruk akan kemungkinan sosok yang tinggal dirumah itu, makin membuatnya dilema. Namun perutnya yang mendadak berbunyi nyaring membulatkan tekadnya untuk mendekati rumah itu.
Si ksatria sempat sedikit kesulitan saat mencoba membuka pagar. Setelah berhasil, betapa terkejutnya ia ketika melihat seekor serigala berwarna hitam terbaring disekitar pintu masuk.
"Aaay.. aya... ayam... eh kok ayam sih. SERIGALA."
Untuk beberapa saat, si ksatria memperhatikan serigala itu dengan seksama dalam diam. Samar-samar terdengar dengkuran halus keluar dari mulut si serigala yang agak terbuka.
Ksatria itu melangkahkan kakinya lebar-lebar agar tidak mengusik kenyamanan si serigala. Jantungnya mendadak berdebar kencang, takut salah gerak yang bisa membuat serigala itu membuka matanya. Ia menghela napas lega setelah berhasil melewati serigala itu dan tidak membangunkannya.
Cengkraman tangan si ksatria perlahan memegang gagang pintu, ragu sejenak sebelum menekannya pelan. Begitu pintu terbuka, ia tidak langsung masuk. Matanya menyapu ruangan yang didominasi warna hijau pada bagian dinding dan beberapa perabotan lain seperti kursi dan sofa. Rumah ini nampak sangat bersih, berbeda sekali dengan pemandangan hutan diluar sana yang gelap dan berlumpur.
Dari kejauhan nampak seorang wanita duduk di kursi goyang. Wanita itu memakai gaun panjang berwarna biru laut, menyapu lantai yang terbuat dari bahan beludru tebal. Potongan gaun yang dikenakan wanita itu nampak sederhana, namun jatuh dengan indah di tubuhnya yang terlihat bagai jam pasir.
Tak beberapa lama, wanita itu pun menoleh perlahan. Tak nampak sedikit pun raut keterkejutan di wajahnya.
Ksatria itu sempat terpaku untuk sesaat. Wanita dihadapannya ini memancarkan aura kecantikan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ksatria itu mencoba mengalihkan pandangan, namun matanya malah tertuju pada kumpulan payet kelap kelip yang membentuk pola rumit menyerupai motif rasi bintang di sepanjang kerah dan ujung lengan gaun wanita itu. Mata besar wanita itu menatap si Ksatria dengan rasa penasaran.
"Permisi," kata si ksatria.
Jemarinya masih refleks mencengkeram erat gagang belati, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik compang-camping jubahnya.
"Perkenalkan namaku Vanny. Selamat datang."