Blurb
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat pulang yang paling aman. Namun bagi Nirmala, rumah tidak lebih dari sebuah neraka kecil yang pengap. Setiap hari, dia harus kenyang oleh makian, pukulan, dikurung di kamar mandi, hingga dipaksa mengamen di jalanan oleh bapak kandungnya sendiri. Semuanya hanya karena satu kesalahan: wajah Mala sangat mirip dengan mendiang ibunya yang dulu berkhianat. Mala dianggap sebagai kutukan yang hidup.
Di tengah pekatnya trauma dan luka lebam yang memenuhi tubuh, Mala bertemu dengan Damar. Seorang cowok sederhana yang menawarkannya tempat bernaung. Sebuah kontrakan sempit, melarat, tanpa aliran listrik, yang jika malam tiba hanya diterangi oleh sebatang lilin kecil. Di sana, Damar mengusahakan segalanya demi melindungi Mala—memberinya sepotong roti, sekotak susu, dan rasa aman yang belum pernah Mala rasakan seumur hidupnya.
Mala mengira dia telah menemukan 'rumah' aslinya pada diri Damar. Namun, ia tidak pernah tahu bahwa rumah yang melindunginya itu menyimpan rahasia gelap yang mengerikan. Rahasia berdarah yang pada akhirnya menuntut harga teramat mahal, meruntuhkan sisa waras yang Mala miliki, dan memutus garis takdir mereka tepat di depan altar pernikahan orang lain.