Ku kira kau rumah

Devia Pebriyanti
Chapter #1

Halaman 01.

Sedari tadi aku mematung di ambang pintu. Tanganku ragu-ragu untuk mengetuk, hingga akhirnya kutarik kembali. Langit malam sudah berubah gelap gulita. Aku mondar-mandir, didera bimbang antara ingin masuk ke dalam rumah atau tetap di luar.

​Hujan turun semakin deras. Begitu telingaku menangkap suara petir yang menggelegar, kedua tanganku spontan menutup telinga. Kilatan petir yang menyambar ke segala arah memaksa kedua mataku terpejam rapat.

​Cepat-cepat aku membuka pintu lalu menyelinap masuk sebelum petir kembali membahana. Kututup daun pintu rapat-rapat tanpa menimbulkan bunyi derit sedikit pun. Seperti biasa, rumah ini terasa begitu sepi dan sunyi. Langkahku bak seorang maling—mengendap-ngendap sembari celingukan cemas.

​Baru saja aku menginjakkan kaki di depan pintu kamar, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram ranselku dari belakang. Tubuhku diseret kasar sampai terjungkal di atas lantai. Aku enggan mendongak. Di hadapanku, sudah berdiri tegak sepasang kaki. Tanpa melihat pun aku tahu, wajah pria itu pasti sudah memerah dengan mata melotot setajam elang.

​Sapu lidi yang sejak tadi digenggamnya erat-erat langsung dihantamkan ke tubuhku. Aku meringis, refleks mengangkat kedua tangan demi menghalau pukulan. Kulitku terasa perih dan panas saat bilah-bilah lidi itu mengenai lengan.

​"Kenapa jam segini kau baru pulang?!" Teriakan itu selalu berhasil membuat gendang telingaku berdenging ngilu. "Kau sengaja, kan? Pulang selarut ini!"

​"Enggak, Pak! Bukan sengaja... Mala... Mala..."

Brakkk

​Mataku mengerjap kaget saat Bapak tiba-tiba melemparkan sapu lidi itu ke sembarang arah. Hantaman kerasnya mengenai bingkai foto keluarga di atas lemari, membuatnya jatuh dan hancur di lantai.

​"Biasanya kau selalu pulang sekolah jam dua belas siang, tapi kenapa hari ini pulang jam tujuh malam?! Kau kemana saja?!"

​"Pak, Ma... Mala bisa jelasin." Aku berdiri tertatih-tatih, menatap nanar Bapak yang masih menatapku penuh amarah. "Mala telat pulang karena ada tugas kelompok, Pak..."

​"Alasan!" bentaknya, membuatku menarik napas gusar. "Kau sengaja menghindari mengamen, kan? Makanya kau sengaja pulang selarut ini agar tidak perlu turun ke jalan!"

​"Pak... bukan begitu! Mala beneran kerja kelompok." Aku mencondongkan tubuh, meraih tas ransel yang basah kuyup akibat kehujanan. Dengan tangan gemetar hebat, kubuka ritsleting tas dan kuambil buku catatan kumal dari sana. Kusodorkan halaman-halaman yang penuh tulisan itu ke depan wajah Bapak.

​Aku sempat tersenyum kecil saat melihat Bapak bersedia menerima dan membaca bukuku. Ini bisa dibilang kali pertama Bapak sudi melihat hasil catatanku. Namun, senyum itu seketika luntur. Dadaku terasa sesak luar biasa saat Bapak dengan tega merobek buku itu menjadi dua bagian.

​Melihat separuh hidupku terjatuh ke lantai, tubuhku langsung terkulai lemas. Aku merintih kesakitan ketika Bapak dengan sengaja menginjak buku itu—tapi yang diinjaknya justru tanganku sendiri yang tengah berusaha menyelamatkan lembaran kertas tersebut. Cepat-cepat kutarik tanganku yang mulai terasa panas dan berdenyut.

​"Apa dengan menulis catatan di buku-buku bodohmu ini kau bisa kaya? Bisa jadi pengusaha? Miliarder?!"

​Enggan menjawab, aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. Berusaha menyembunyikan sepasang mataku yang sudah memerah digenangi air mata. Tiba-tiba, Bapak berjongkok dan menjambak rambutku kasar, memaksaku menatap wajah garangnya.

​"Dengarkan baik-baik!" Sentakan kuatnya membuatku terpejam, membiarkan air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh membasahi pipi. "Kalau besok kau pulang selarut ini lagi, hukumannya akan kutambah!"

​Sekuat tenaga Bapak menghempaskan kepalaku hingga tubuhku sempoyongan.

​"Ta-tapi... kalau ada tugas kelompok, Mala terpaksa pulang telat, Pak..." lirihku. Apakah aku salah mengatakan kebenaran itu?

plakk

​Satu tamparan mendarat mulus di pipiku, memutus keberanianku untuk mendongak lagi.

​"Kau berani melawan?!"

​Aku menggeleng pasrah. Mataku kembali memanas saat melihat Bapak dengan sengaja menginjak buku catatanku sekali lagi sebelum melenggang pergi, meninggalkan bekas tapak sepatu yang kotor di atasnya.

​Tak lagi memedulikan buku yang sudah rusak, aku bangkit dan menghampiri bingkai foto yang masih tergeletak di lantai. Perlahan aku berjongkok, mengambil bingkai kotor itu lalu mengusapnya dengan ujung rok abu-abu seragamku yang masih basah. Setelah bersih, kupajang kembali foto itu di atas lemari tua.

Aku menyampirkan seragam sekolahku di dekat jendela agar besok bisa kering dan dipakai kembali. Langkahku berlanjut ke depan cermin. Kutarik kursi kayu, lalu kududukkan bokongku di sana. Menatap pantulan wajah sebatang kara yang terlihat begitu malang dengan kedua mata sembap.

​"Lagi-lagi nangis," bisikku pada diri sendiri.

​Aku menoleh sedikit ke kiri, meraba pipi yang tampak memerah di cermin. Rasanya masih panas dan nyut-nyutan. Saat menunduk, mataku langsung tertuju pada lenganku yang dipenuhi bilur kemerahan akibat cambukan sapu lidi tadi.

​Sebuah handuk kecil kucelupkan ke dalam wadah stanles berisi air hujan yang dingin. Aku tidak punya kulkas, jadi air hujan selalu menjadi alternatif terbaikku untuk mengompres luka. Setelah handuk dirasa cukup dingin, perlahan kuusapkan ke bekas luka baret. Sesekali aku meringis saat rasa ngilu dan perih menyergap.

​Di luar, hujan masih turun dengan deras. Tiba-tiba, telingaku menangkap suara langkah kaki mendekat.

Brakkk!

​"Nirmala, kau tuli?!"

​Begitu melihat pintu kamarku ditendang terbuka, aku segera bangkit berdiri. Tanpa memedulikan mangkuk stanles yang tersenggol jatuh dan menumpahkan isinya, aku bergegas menghampiri Bapak.

​"Kau malah enak-enakan santai di dalam kamar?! Apa kau lupa?!"

​"Kalau Bapak mau mandi, Ma... Mala sudah siapkan air hangat di atas tungku, Pak."

​"Bukan itu!"

​Aku kebingungan mendengar jawaban Bapak. Otakku dipaksa berputar cepat mencari kesalahan apa lagi yang kuperbuat, sampai akhirnya Bapak kembali membentak, "Kau tidak masak?! Mau makan apa aku kalau kau tidak masak?!"

​Mendengar itu, aku langsung berjalan cepat melewati Bapak. Aku benar-benar lupa kalau belum menyiapkan makan malam untuknya. Tubuhku sempat sempoyongan saat Bapak mendorong punggungku dari belakang. Beruntung, aku masih bisa menahan bobot tubuhku agar tidak tersungkur.

Kring... Kring... Kring...

​Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Suara yang paling dirindukan oleh seluruh murid, kecuali aku. Bagiku, bertahan di dalam kelas jauh lebih nyaman ketimbang pulang ke rumah yang rasanya tak ubahnya seperti kandang singa.

​"Kita nongkrong yuk di kafe," suara Nadin terdengar begitu antusias dari meja sebelah.

​Aku mencoba mengabaikannya dan memilih fokus mengeratkan pegangan pada pulpen. Tanganku kembali menari di atas kertas, menyalin ulang materi kemarin karena buku catatanku sudah dihancurkan Bapak.

​"Kalau aku sih, ayo-ayo aja," timpal Kirana sembari mengemas tasnya.

​"Aku juga ikutan deh," Sindi berjalan cepat dari bangku belakang, menghampiri Nadin dan Kirana. "Mumpung tidak ada tugas sekolah."

​"Aku juga ikutan!"

​"Aku juga!"

​"Mala, kamu nggak ikut?"

Lihat selengkapnya