Kuambil Kembali Bahagiaku

Ida Kurniawati
Chapter #2

Pertemuan Dua Dunia Berbeda

Langit sore di kampus mulai berubah jingga ketika pengumuman dari biro kemahasiswaan tersebar ke seluruh organisasi.

Sebuah ajang kompetisi tingkat nasional akan segera diadakan. Bukan sekadar kompetisi biasa, melainkan sebuah kolaborasi seni yang cukup unik—menggabungkan seni teater dengan fotografi.

Setiap universitas hanya boleh mengirim satu tim yang terdiri dari dua organisasi.

Organisasi Teater.

Dan organisasi Fotografi.

Di ruang rapat kemahasiswaan, beberapa perwakilan organisasi mulai berdatangan.

Di antara mereka, Raka melangkah masuk dengan santai. Kamera tergantung di bahunya, ciri khas yang hampir tidak pernah lepas darinya.

Sebagai ketua organisasi fotografi, ia cukup dikenal di kalangan mahasiswa yang aktif di dunia seni visual.

Raka duduk di kursi paling belakang sambil memainkan tutup lensanya.

“Gue harap ini bukan rapat yang membosankan,” gumamnya pelan.

Beberapa menit kemudian pintu ruangan kembali terbuka.

Seorang perempuan masuk bersama dua anggota organisasi.

Langkahnya tenang.

Ekspresinya datar.

Namun aura kepemimpinannya langsung terasa.

Clemira.

Ketua organisasi teater.

Tanpa sadar, Raka langsung memperhatikan.

Perempuan itu duduk di kursi depan tanpa melihat ke arah siapa pun.

Ia membuka buku catatan kecil dan menunggu rapat dimulai.

Raka menyipitkan mata.

“Dia bahkan gak lihat sekeliling,” pikirnya.

Seolah dunia di sekitarnya tidak penting.

Rapat dimulai ketika seorang dosen pembina masuk ke ruangan.

“Terima kasih sudah datang,” ucap beliau sambil melihat semua peserta rapat.

“Kampus kita mendapatkan undangan untuk mengikuti kompetisi seni tingkat nasional bulan depan.”

Semua langsung memperhatikan dengan serius.

“Kompetisi ini unik karena menggabungkan dua cabang seni—teater dan fotografi.”

Beberapa mahasiswa mulai berbisik.

Dosen itu melanjutkan.

“Konsepnya adalah teater akan menampilkan sebuah cerita, sementara fotografi bertugas menangkap momen-momen emosi dari pertunjukan itu.”

Raka mulai tertarik.

Ini terdengar menantang.

“Karena itu kami memutuskan organisasi teater dan fotografi harus bekerja sama.”

Dosen itu melihat ke arah dua orang.

“Ketua Teater, Clemira.”

Clemira mengangkat wajahnya.

“Iya, Pak.”

“Ketua Fotografi, Raka.”

Raka sedikit terkejut ketika namanya dipanggil.

“Iya, Pak.”

“Mulai hari ini kalian akan menjadi koordinator tim untuk kompetisi ini.”

Ruangan mendadak hening beberapa detik.

Raka menoleh ke arah Clemira.

Clemira juga menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Namun reaksi Clemira… biasa saja.

Tidak terkejut.

Tidak penasaran.

Tidak tertarik.

Ia hanya mengangguk kecil seolah itu hal yang sangat normal.

Berbeda dengan Raka.

Tatapannya justru semakin dalam.

“Menarik,” gumamnya dalam hati.

Dosen itu kembali berbicara.

“Kalian berdua harus mulai menyusun konsep bersama.”

“Latihan teater harus disesuaikan dengan kebutuhan fotografi.”

Lihat selengkapnya