Kuambil Kembali Bahagiaku

Ida Kurniawati
Chapter #3

Ketika dia di atas panggung

Angin berhembus pelan melewati pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan menuju gedung kesenian.

Raka berjalan santai dengan kamera yang menggantung di lehernya. Langkahnya terlihat tenang, tetapi pikirannya dipenuhi rasa penasaran.

Ini pertama kalinya ia benar-benar datang ke latihan teater.

Biasanya ia hanya berkutat dengan kamera, lensa, dan dunia fotografi yang menurutnya sudah cukup menarik. Namun sejak rapat kemarin, satu hal terus mengganggu pikirannya.

Clemira.

Perempuan yang tampak dingin dan datar itu entah mengapa membuatnya ingin tahu lebih banyak.

Raka berhenti di depan pintu gedung teater.

Suara dialog terdengar dari dalam.

Ia membuka pintu perlahan.

Ruangan latihan itu cukup luas. Di bagian depan terdapat panggung kecil dengan beberapa lampu sorot yang masih menyala. Beberapa anggota teater duduk di kursi sambil memegang naskah.

Namun perhatian Raka langsung tertuju pada seseorang yang berdiri di tengah panggung.

Clemira.

Rambut panjangnya diikat sederhana. Ia mengenakan kaos hitam dan celana panjang biasa.

Penampilannya sederhana.

Namun saat ia berdiri di panggung… sesuatu terasa berbeda.

“Tidak semua orang bisa pergi begitu saja,” ucap Clemira dalam dialognya.

Suaranya terdengar kuat.

Penuh emosi.

Tatapannya tajam mengarah pada lawan mainnya.

“Kalau kau pergi sekarang, jangan pernah kembali.”

Nada suaranya bergetar tipis, seolah menyimpan luka yang sangat dalam.

Raka terdiam.

Ia berdiri di dekat pintu tanpa sadar menonton.

Perempuan yang kemarin terlihat begitu dingin… sekarang berubah sepenuhnya.

Gerak tubuhnya hidup.

Ekspresinya begitu nyata.

Seolah cerita yang ia mainkan bukan sekadar akting.

Seolah itu benar-benar perasaan yang ia rasakan.

“Kenapa kamu diam saja?” lanjut Clemira dalam adegan.

“Bukankah kamu yang ingin semuanya berakhir?”

Lawan mainnya mencoba menjawab dialog, namun Clemira masih mendominasi panggung.

Beberapa anggota teater yang menonton terlihat benar-benar fokus.

Tidak ada yang berbicara.

Semua memperhatikan.

Raka perlahan mengangkat kameranya.

Klik.

Suara kamera terdengar pelan.

Ia mengambil beberapa foto.

Clemira yang berdiri di bawah cahaya lampu panggung terlihat sangat berbeda melalui lensa kameranya.

Tatapan matanya kuat.

Ekspresinya tajam.

Seolah seluruh emosi di ruangan itu berpusat padanya.

Klik.

Klik.

Klik.

Raka bahkan tidak sadar ia sudah mengambil banyak foto.

Tiba-tiba Clemira mengangkat tangannya.

“Stop.”

Latihan berhenti.

Ia menghela napas pelan lalu menutup naskahnya.

“Bagian tadi kurang terasa.”

Salah satu anggota teater mengangkat tangan.

“Kurang bagaimana, Mir?”

Clemira berpikir sebentar.

“Kalian masih terlihat seperti membaca naskah.”

Ia berjalan perlahan di depan panggung.

“Penonton harus percaya dengan cerita kita. Kalau kita sendiri tidak percaya, mereka juga tidak akan percaya.”

Lihat selengkapnya