Hari-hari setelah latihan pertama terasa… berbeda.
Bagi Raka, gedung teater yang sebelumnya terasa asing kini menjadi tempat yang tanpa sadar sering ia datangi.
Awalnya karena alasan kompetisi.
Namun lama-kelamaan, bahkan tanpa disuruh, ia tetap datang.
Jam empat sore.
Hari ini.
Besok.
Lusa.
Seolah itu sudah menjadi rutinitas baru.
“Lo lagi?!” suara Nika terdengar begitu Raka membuka pintu ruang latihan.
Raka mengangkat tangannya santai.
“Gue kan bagian dari tim.”
Nika menyipitkan mata.
“Iya, tapi lo lebih rajin dari anak teater.”
Beberapa anggota lain tertawa kecil.
Raka hanya tersenyum tanpa membalas.
Tatapannya langsung mencari satu orang.
Clemira.
Ia berdiri di atas panggung, sedang mengarahkan adegan.
Namun kali ini…
Begitu melihat Raka masuk—
Clemira tidak langsung mengabaikannya seperti sebelumnya.
Ia hanya melirik sebentar.
Lalu kembali fokus.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Ia tidak terlihat terganggu.
Bahkan… seolah sudah terbiasa.
Hari itu latihan berjalan seperti biasa.
Raka duduk di kursi penonton.
Kamera di tangannya.
Sesekali ia mengambil foto.
Sesekali hanya memperhatikan.
Namun berbeda dari hari pertama, kali ini Raka tidak hanya diam.
“Coba ulang dari langkah kedua,” ucapnya tiba-tiba.
Semua menoleh.
Termasuk Clemira.
Raka berdiri.
“Kalau dari sudut kamera, bagian tadi kurang dapet ekspresinya.”
Clemira menatapnya beberapa detik.
Biasanya ia tidak terlalu suka ada yang mengintervensi latihannya.
Namun kali ini…
Ia tidak langsung menolak.
“Bagian mana?” tanyanya.
Raka berjalan mendekat ke arah panggung.
Ia menunjukkan posisi berdiri salah satu pemain.
“Kalau dia geser sedikit ke kanan, cahaya jatuhnya bakal lebih pas.”
Clemira memperhatikan.
Lalu menoleh ke arah anggota teaternya.
“Coba.”
Adegan diulang.
Dan hasilnya…
Lebih hidup.
Lebih terasa.
Beberapa anggota mulai berbisik kagum.
Clemira kembali menatap Raka.
Kali ini sedikit berbeda.
Ada… pengakuan kecil.
“Bagus,” ucapnya singkat.
Raka tersenyum.
“Gue bilang juga apa.”
Hari demi hari berlalu.
Raka semakin sering datang.
Kadang membawa minuman untuk anggota teater.
Kadang membantu mengatur pencahayaan.
Kadang hanya duduk diam… tapi tetap hadir.
Dan tanpa disadari—
Clemira mulai terbiasa.
“Raka belum datang?” tanya salah satu anggota.
Clemira yang sedang membaca naskah berhenti sebentar.
“Belum.”
Jawabannya singkat.
Namun beberapa detik kemudian—
Ia menoleh ke arah pintu.
Seolah menunggu.
Nika yang melihat itu hanya tersenyum tipis.
Tidak berkata apa-apa.
Sore itu hujan turun cukup deras.