Waktu berjalan lebih cepat dari yang disadari.
Beberapa minggu berlalu sejak hari-hari latihan yang terasa panjang itu.
Gedung teater, yang dulu hanya menjadi tempat kerja bagi Clemira, kini berubah menjadi ruang yang menyimpan banyak momen kecil—yang entah sejak kapan… mulai terasa berarti.
Dan hampir di setiap momen itu—
Raka selalu ada.
“Lo capek?”
Suara Raka terdengar pelan di sampingnya.
Clemira yang sedang duduk di kursi penonton menoleh sedikit.
“Iya.”
Jawabannya singkat.
Namun tidak seperti dulu.
Tidak lagi dingin.
Raka menyerahkan sebotol air minum.
“Minum dulu.”
Clemira menerimanya.
Tidak menolak.
Hal sederhana yang dulu pasti akan ia abaikan.
Nika yang duduk tidak jauh dari mereka hanya memperhatikan sambil tersenyum kecil.
Perubahan itu… terlihat jelas.
Latihan semakin mendekati hari kompetisi.
Kolaborasi antara teater dan fotografi mulai terlihat hasilnya.
Setiap adegan terasa lebih hidup.
Setiap momen terasa lebih kuat.
Dan di balik itu semua—
Ada dua orang yang tanpa sadar semakin dekat.
“Coba ulang dari bagian ini,” ucap Clemira.
Raka berdiri di samping panggung.
“Kalau dari angle sini, ekspresinya lebih dapet.”
Clemira mengangguk.
“Ulang.”
Tanpa banyak perdebatan.
Tanpa ego.
Seolah mereka sudah memahami ritme satu sama lain.
Hari kompetisi akhirnya tiba.
Lampu panggung menyala terang.
Penonton memenuhi ruangan.
Suasana tegang terasa di belakang panggung.
Clemira berdiri diam.
Matanya terpejam.
Menarik napas pelan.
Tiba-tiba—
Seseorang menyentuh bahunya.
“Lo pasti bisa.”
Clemira membuka mata.
Raka berdiri di belakangnya.
Tatapannya tenang.
Meyakinkan.
Tidak berlebihan.
Namun cukup untuk membuat Clemira merasa… stabil.
“Terima kasih.”
Untuk pertama kalinya—
Ia mengatakannya lebih dari sekadar formalitas.
Pertunjukan dimulai.
Cerita mengalir.
Emosi terbangun.
Dan seperti yang Raka lihat pertama kali—
Clemira berubah total di atas panggung.