Hari-hari setelah malam itu berjalan… tidak banyak berubah.
Namun di saat yang sama—
Semuanya terasa berbeda.
Raka tetap datang ke latihan.
Tetap duduk di tempat yang sama.
Tetap membantu seperti biasanya.
Seolah tidak pernah mengatakan apa pun.
Seolah tidak pernah menunggu jawaban.
Dan justru itu yang membuat Clemira… semakin tidak tenang.
“Mir, lo belum jawab juga?”
Nika duduk di sampingnya sambil menyeruput minuman.
Clemira menatap naskah di tangannya.
“Belum.”
“Kenapa?”
Clemira terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya… tidak.
“Gue cuma… butuh waktu.”
Nika mengangguk pelan.
Namun matanya masih menatap Clemira, seolah tahu ada sesuatu yang lebih dalam.
Sore itu latihan berjalan seperti biasa.
Raka berdiri di dekat panggung.
“Coba ulang dari situ.”
Clemira menoleh.
“Kenapa?”
“Ekspresi lo sudah dapet. Tapi blocking-nya kurang pas.”
Clemira mengamati sebentar.
Lalu mengangguk.
“Ulang.”
Tanpa perdebatan.
Tanpa ego.
Seperti biasanya.
Namun kali ini—
Clemira lebih sering memperhatikan Raka.
Cara dia berbicara.
Cara dia menunggu.
Cara dia tidak pernah memaksa.
Dan itu justru membuatnya berpikir.
Malamnya, Clemira duduk sendiri di kamarnya.
Lampu redup.
Suasana tenang.
Namun pikirannya tidak.
Ia memejamkan mata.
Dan tanpa sadar—
Kenangan lama muncul.
Suara di ruang makan.
Tawa kecil.
Dan kalimat yang selalu sama.
“Adikmu lebih dulu ya, Mir.”
“Atau nanti saja, kamu kan bisa.”
“Atau… kamu mengalah dulu.”
Clemira membuka mata.
Tatapannya kosong.
Sejak kecil—
Ia terbiasa menjadi yang kedua.
Bukan yang dipilih pertama.
Bukan yang diutamakan.
Ia harus berusaha lebih keras.
Lebih sempurna.
Lebih tidak boleh salah.
Hanya untuk… diperhatikan.
Hanya untuk… dianggap penting.
Tangannya mengepal pelan.
“Kenapa harus aku lagi yang nunggu dipilih…?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Pelan.
Namun terasa berat.
Keesokan harinya.
Clemira datang lebih awal ke gedung teater.
Seperti biasa.
Namun kali ini—
Raka sudah ada di sana.
Duduk di kursi penonton.
Tanpa kamera.
Hanya diam.