Kuambil Kembali Bahagiaku

Ida Kurniawati
Chapter #7

Chapter tanpa judul #7

Mobil itu melaju cukup cepat meninggalkan area kampus.

Di dalamnya, suasana terasa tegang.

Raka duduk di kursi belakang, sementara pria yang tadi menjemputnya duduk di depan, di samping sopir.

“Sejak kapan kamu jadi sulit dihubungi?”

Nada suaranya dingin.

Raka tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap ke luar jendela.

Lampu jalan berkelebat satu per satu.

“Ayah nyuruh kamu pulang dari tadi,” lanjut pria itu.

“Penting.”

Raka menghela napas pelan.

“Aku lagi ada urusan.”

“Dengan perempuan itu?”

Kalimat itu membuat Raka langsung menoleh.

Tatapannya tajam.

“Jangan bawa dia ke sini.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Kenapa? Takut?”

Raka mengepalkan tangannya.

“Aku bilang jangan.”

Suasana di dalam mobil semakin menegang.

Pria itu akhirnya bersandar.

“Kamu tahu kan siapa ayah kamu?”

Raka diam.

“Dan kamu juga tahu… dia bukan orang yang suka dibantah.”

Raka menatap lurus ke depan.

“Aku gak lagi ngebantah.”

“Lalu?”

Raka menarik napas panjang.

Sejenak ia teringat Clemira yang tadi berdiri sendirian di pinggir jalan.

Hujan.

Malam.

Dan ekspresi yang sulit ia baca.

Tanpa berpikir panjang—

“Berhenti.”

Sopir sedikit terkejut.

“Mas?”

“Berhenti di sini.”

Mobil melambat.

Pria di depan menoleh.

“Kamu serius?”

Raka membuka pintu.

“Iya.”

“Kamu mau ke mana?”

Raka turun tanpa menjawab.

Pintu tertutup.

Mobil kembali melaju meninggalkannya.

Raka berdiri beberapa detik.

Lalu mengeluarkan ponsel.

“Ambil motor gue. Antar ke lokasi.”

Sekitar tiga puluh menit kemudian—

Mobil yang tadi kembali ke area kampus.

Namun tidak berhenti di tempat yang sama.

Raka sudah berada di sana.

Bersandar di motornya.

Tatapannya mengarah ke satu titik.

Dan benar saja—

Clemira masih berdiri di sana.

Sendirian.

Lampu jalan menerangi siluet tubuhnya.

Ia terlihat diam.

Seolah masih memikirkan sesuatu.

Raka tersenyum kecil.

“Gue tau lo masih di sini.”

Namun ia tidak langsung mendekat.

Ia berhenti di tempat yang tidak terlalu terlihat.

Mengamati sebentar.

Seolah memastikan.

Bahwa Clemira baik-baik saja.

Lalu—

“Clemira.”

Suara itu membuat Clemira tersentak.

Ia menoleh cepat.

Matanya sedikit membesar.

“Raka?”

Raka berjalan mendekat.

Ekspresinya lebih santai dari sebelumnya.

“Maaf.”

Clemira masih terlihat kaget.

“Lo… balik?”

Lihat selengkapnya