Hubungan itu dimulai… tanpa banyak orang tahu.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada perubahan yang mencolok.
Namun bagi mereka berdua—
Semuanya berubah.
Hari-hari setelah malam itu berjalan seperti biasa.
Latihan tetap berlangsung.
Aktivitas kampus tetap sama.
Namun di sela-sela semua itu—
Ada sesuatu yang hanya mereka pahami.
“Udah makan?”
Pesan singkat dari Raka masuk di ponsel Clemira.
“Udah.”
Jawabannya singkat.
Namun tidak lagi dingin.
Beberapa detik kemudian—
“Jangan lupa istirahat.”
Clemira menatap layar ponselnya.
Senyum kecil tanpa sadar muncul.
Hal-hal sederhana.
Namun terasa berbeda.
Di kampus, mereka tetap menjaga jarak.
Berjalan seperti tidak ada apa-apa.
Berbicara seperlunya.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada tatapan yang terlalu lama.
Semuanya… terlihat normal.
Namun—
“Lo sama Raka kenapa sih?”
Nika menyipitkan mata.
Clemira menoleh.
“Kenapa emangnya?”
“Kayak… gak kenapa-kenapa, tapi juga gak biasa.”
Clemira mengalihkan pandangannya.
“Biasa aja.”
Nika mengangguk pelan.
Namun jelas—
Ia tidak sepenuhnya percaya.
Sore itu, di parkiran belakang kampus.
Tempat yang jarang dilewati orang.
Raka berdiri di samping motornya.
Clemira datang beberapa menit kemudian.
“Kita harus kayak gini terus?”
Suara Raka terdengar sedikit menahan.
Clemira berhenti di depannya.
“Kayak gimana?”
“Seolah-olah gak ada apa-apa.”
Clemira terdiam.
“Ini yang aku mau.”
Jawabannya tenang.
Namun tegas.
Raka menghela napas.
“Kenapa?”
Clemira menunduk sedikit.
Tangannya saling menggenggam.
“Karena aku gak mau… semua ini jadi sesuatu yang gampang hilang.”
Raka memperhatikannya.
“Apa hubungannya sama kita harus sembunyi?”
Clemira mengangkat wajahnya.
Tatapannya tidak ragu.
“Aku cuma mau yakin.”