Aku suka kucing. Istriku juga suka kucing. Kami berdua memiliki kenangan manis masing-masing terhadap kucing. Kucing menyatukan, atau membuat hati kami mudah terpaut. Mungkin kalau bukan karena kucing, pernikahan kami takkan ada. Dan, mungkin kalau kami berdua tidak ditakdirkan untuk menikah, cerita ini juga takkan ada.
Kucing Zorro, begitu aku menamakannya. Bulunya hitam dan putih. Hitam yang melingkari kedua bola matanya mengingatkanku akan tokoh Zorro. Hitam di antara hidung dan mulutnya serupa kumis tipis kian memantapkan aku untuk memberi nama hewan menggemaskan itu: Zorro. Ganteng. Berbiji. Aku yakin Zorro adalah kucing jantan.
Zorro pertama kali bertemu denganku macam dua lawan yang saling datang berhadapan. Dari kejauhan, Zorro melangkah gagah dengan menegakkan lehernya, mengamatiku. Dia berhenti melangkah sejenak. Di jalanan perumahan, sore waktu itu, di situlah aku yakin dia kucing jantan. Aku jadi ikut pula terpaku dua detik, agak membungkuk, dan menghentikan langkahku sebentar untuk memperhatikan hewan itu. Zorro melangkah lagi, aku pun sama. Hingga akhirnya, Zorro dan aku saling mendekat. Kucing hitam putih itu mengeong. Suaranya tidak manja. Terdengar penuh wibawa, menurut keyakinanku.
Aku berjongkok. Dia tidak terintimidasi oleh gerakanku. Dia tetap tenang. Bahkan wajahnya dari menengadah menatapku hingga aku berjongkok, tidak ada rasa takut sama sekali. Kucing pemberani.
Aku tersenyum, mengelus kepalanya. Zorro diam. Lalu aku berdiri dan melangkah meninggalkannya di belakang.
Itulah pertama kalinya aku bertemu Zorro. //