Kucing Hitam Putih

Andriyana
Chapter #2

Bagian Pertama

Segala kenangan itu membuat Segara terdiam beberapa lama. Dia berselonjor di atas tempat tidur sedang punggungnya tersandar di dinding. 

Resepsi pernikahan Segara dan istri sungguh meriah. Para tamu undangan hadir silih berganti. Hiruk pikuk. Keramaian selayaknya pada acara resepsi pernikahan. Musik romantis. Obrolan basa-basi antara para tamu terdengar meriah. Suguhan prasmanan ramai dikerubungi para tamu undangan. Bahkan, beberapa tamu tak diundang sekerlingan terlihat menyelinap lalu bersembunyi di bawah meja prasmanan. Rupanya bukan hanya Segara yang melihat tamu tak diundang itu, Lamela, istri yang baru dia nikahi juga melihatnya. Dari pelaminan, sembari bersalaman dengan para tamu undangan, sempat pasangan berbahagia itu saling pandang sebentar kemudian tersenyum bahagia. Ternyata, kebahagiaan mereka berdua juga dihadiri beberapa tamu tak diundang itu. Meski suara khas para tamu tak diundang itu kalah santer dari musik romantis, Segara-Lamela tahu mereka juga ingin memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua yang baru saja menikah, sah menjadi suami-istri.

Sudah hampir setahun mereka menikah hingga detik diamnya Segara pecah oleh suara Lamela. 

"Suamiku, kamu kok bengong?"

Zorro pergi sejenak dari pikiran Segara. 

Lamela perlahan naik ke atas tempat tidur, beringsut gemulai, menggoda renjana Segara. Hingga rambut hitam legamnya berada di bahu suaminya, tak jua mereka berdua bergerak. Sepertinya mereka menikmati berbagi kehangatan tubuh. 

Kamar tidur mereka pun hening. 

Masih dengan tubuh mereka bersisian, Lamela bicara, "Aku sudah buatkan sarapan. Kamu kenapa, sih, Gar? Sampai aku masuk kamar, kamu enggak ngeh." Manja sekali suaranya. Suara mengeong kucing betina masih kalah manja dengan suaranya. 

Segara menoleh, tersenyum. Telapak tangannya yang kanan mengelus legam rambut Lamela. 

"Aku kangen Zorro."

Sontak Lamela menatap wajah suaminya. Kepalanya tidak lagi bersandar di bahu Segara. Dia cengengesan. Namun raut wajahnya cepat berubah. Bibirnya mengatup, matanya melihat sprei bermotif ubur-ubur.

"Aku cemburu," ujarnya pelan. 

"Cemburu?"

"Aku cemburu juga curiga!"

"Curiga?" Mata Segara menatap aneh wajah istrinya. "Curiga kenapa?"

"Jangan-jangan kamu biseksual." Masih dengan wajah cemberut, Lamela lugas berkata. 

"Apa!?" Intonasi tinggi suara Segara seolah-olah berpendar di seputar kamar. Wajahnya tegang. Namun sebentar kemudian, dia merengkuh Lamela. 

Istrinya berteriak, meronta-ronta, tapi Segara enggan melepasnya bahkan membuat tubuh mungil itu merebah di atas kasur. 

"Akan kubuktikan kalau ucapanmu itu salah."

"Caranya?" goda Lamela. 

"Pertama."

"Apa?"

"Kacamata Zorro permanen."

"Apa hubungannya?"

"Kacamata kamu bisa dilepas." Segara menarik kacamata Lamela lalu meletakkannya di nakas.

"Apa lagi?" tanya Lamela masih menggoda walau ekspresi wajahnya tersipu. 

"Zorro dikotil. Kamu monokotil."

Lamela terbahak. Bahunya terguncang-guncang meski tubuhnya terlentang. 

"Ketiga."

"Apa?"

"Zorro hitam-putih, kamu kuning langsat." Selesai berkata begitu, punggung jemari kiri Segara mengelus pipi istrinya. 

Bulu kuduk Lamela meremang. Tawanya perlahan-lahan lenyap. Matanya memejam. 

Lamela bertanya dengan lirih, "Apa lagi?"

Segara tidak menjawab. Yang terdengar adalah suara kecupan mesra dan balasan desah Lamela. 

Sesudah kacamata teronggok di nakas, "kacamata" Lamela yang lain terlempar, celana dalam bergambar SpongeBob terdampar di lantai kamar. Celana dalam berwarna putih harus pasrah terlepas untuk sementara dari tempatnya dan tersangkut di pucuk lampu tidur di atas nakas. 

Dan, ubur-ubur pun lambat laun menjadi kisut.

Sinar matahari pagi hari itu masih hangat sehangat kemesraan mereka berdua.

Gawai Lamela berdering. Dia mengangkat gawai itu dan berbicara dengan lawan bicaranya. Tiga menit gawai itu berada di telinga kanannya. 

Selesai berbicara, gawai kembali diletakkannya di atas nakas. 

"Siapa yang telepon?" tanya Segara

"Ibu."

"O .... Ada apa?"

"Nanti siang ibu ditemani ayah mau kemari."

Segara tersenyum, mengangguk. 

"Yuk, sarapan." Lamela lagi berkata, "Gara-gara kamu (Lamela menjentik hidung suaminya), sarapan jadi dingin."

Segara berkilah, "Demi pembuktian, ya enggak apa-apa, dong." Segara bersedekap. "Sudah terbukti, kan?" Matanya menjeling.

"Ih, ganjen." Lamela tersipu. 

Mereka berdua bangkit dan meraih piyama jaket lalu mengenakannya di tubuh masing-masing lantas menuju ruang makan. 

Pukul sebelas siang. Ayah-ibu Lamela sudah bercengkerama bersama Lamela di ruang tamu. 

Segara sempat bertemu mertuanya sebelum pamit untuk menyambangi usaha kuliner lungsuran orang tuanya. 

Lihat selengkapnya