Kucing Hitam Putih

Andriyana
Chapter #3

Bagian Kedua

Hari keenam setelah Lamela menceritakan fakta akan dirinya, Segara belum memberikan kepastian kapan mereka akan mencari keberadaan orang tua kandung istrinya. Pikirannya masih penuh dengan berbagai hal. Ruang pikirannya bagai sekat-sekat. Ada sekat yang bertanggung jawab mencari ide segar untuk meningkatkan perkembangan Ramira. Ada sekat yang memikirkan bagaimana cara terbaik menjelaskan fakta tentang istrinya kepada orang tuanya. Ada sekat dalam pikirannya yang bertanggung jawab mencari solusi bagaimana agar Lamela hamil. Bahkan, ada Zorro, kucing hitam putih berkumis itu. Baginya, Zorro adalah pembawa keberuntungan.

Segara menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, membiarkan jemarinya memijat pelipis yang berdenyut. Di atas meja, Zorro melompat ringan, mendarat tanpa suara di antara tumpukan dokumen Ramira. Kucing itu mengeong pendek lalu mulai menjilati kakinya dengan tenang—seolah-olah beban dunia hanya sebatas bulu yang kusut.

"Kau enak, Zorro. Tidak perlu memikirkan silsilah keluarga atau tes kesuburan," gumam Segara lirih.

Pintu ruang kerja berdecit pelan. Lamela berdiri di sana, mematung dengan dua cangkir teh yang uapnya masih mengepul. Matanya yang jernih tampak lelah, ada keraguan yang menggantung. Itu tersirat dari sudut bibirnya.

"Gar masih sibuk?" tanya Lamela. Suaranya nyaris tenggelam oleh putaran kipas angin di sudut ruangan.

Segara menegakkan duduknya, mencoba mengusir ruwet di pikirannya. "Kemarilah, Ala. Maaf, aku sedang sedikit, ... terdistraksi."

Lamela melangkah mendekat, meletakkan teh itu lalu mengelus punggung Zorro yang mendengkur halus. "Kamu belum bicara soal rencana itu. Tentang ..., orang tuaku."

Segara terdiam. Di kepalanya, sekat-sekat itu seperti saling berbenturan. Bayangan wajah ibunya yang menuntut cucu, bertabrakan dengan bagaimana menemukan keberadaan orang tua Lamela yang masih gelap gulita.

"Aku tidak bermaksud mengulur waktu," Segara akhirnya bersuara, meraih tangan istrinya. Jemari Lamela terasa dingin. "Hanya saja, aku ingin memastikan semuanya rapi. Aku ingin kita datang ke mereka bukan dengan tangan kosong, tapi dengan kepastian."

"Kepastian apa, Gar? Kepastian bahwa aku bukan siapa-siapa?" Lamela tersenyum getir meski matanya mulai berkaca-kaca. "Aku hanya butuh tahu akarnya, agar aku tidak merasa seperti benalu yang menumpang hidup di pohon orang lain."

Segara menarik napas panjang. Aroma melati dari teh bercampur dengan bau kertas lama. Dia menarik Lamela ke dalam pelukannya, membiarkan keheningan mengambil alih sejenak.

"Besok," cetus Segara tiba-tiba. Suaranya lebih mantap. "Kita mulai dari panti asuhan tempatmu dulu. Aku bakal mengosongkan jadwal untuk Ramira sementara waktu. Kita cari benang merahnya bersama-sama."

Zorro tiba-tiba melompat turun dari meja, menjatuhkan sebuah pulpen hingga menggelinding ke arah tas bepergian Lamela yang tersimpan di pojok ruangan. Segara menatap kucing itu lalu beralih ke istrinya.

"Lihat? Zorro pun setuju kalau besok adalah hari keberuntungan kita," goda Segara, mencoba mencairkan suasana.

Lamela mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Segara. Beban di hatinya mungkin belum sepenuhnya terangkat, tapi setidaknya, satu sekat di pikiran Segara kini telah terbuka lebar untuknya. 

Tiga hari sesudah fakta itu terungkap, Lamela benar-benar menemukan Zorro. Di gerbang depan rumahnya, Lamela terkejut ketika menggeser pintu gerbang. Zorro sedang asyik menjilati kaki kanannya sambil duduk. Kucing itu terkejut, tapi tidak kabur. 

"Zorro!" Lamela berlari kecil menghampiri kucing berkumis hitam itu. Sesudah berjongkok, dekat dengan binatang yang setahunan ini menghilang, dia berkata, "Ke mana saja, sih, kamu."

Zorro menghentikan aktifitasnya yang asyik sejenak. Dia mengeong dan bermanja-manja di betis kanan Lamela. 

Lamela senang menemukan Zorro. Dia menggendong kucing jantan itu. Kepala Zorro berada di bahunya yang kiri. Langkahnya riang saat menggendong kucing hitam putih itu sembari menutup pintu gerbang. Buntelan sampah yang menjadikannya bertemu Zorro dia lemparkan dan tepat masuk ke dalam drum tempat sampah. 

Selagi Lamela berjalan masuk rumah, terdengar suara mengeong. Zorro cepat menoleh, mencari asal suara mengeong yang sepertinya dia kenal. Wajah Zorro tidak bergerak. Matanya menyiratkan sesuatu sesudah membalas dengan mengeong pula. Zorro seperti ditinggalkan, kehilangan, tatkala kucing lainnya yang gemulai melangkah lantas menghilang di balik genteng rumah tetangga Lamela. 

Sewaktu Segara tiba di rumah, turun dari mobil, membuka pintu, dan mendengar Zorro mengeong, dia belingsatan senang. Dia seperti melihat, ... bayi? O, bukan-bukan. Dia berlari. Zorro dia angkat, dia timang-timang. Bagai anak balita, Zorro cuma bisa celingukan. Hanya bedanya, tidak ada balita mengeong. Ketika mendengar lalu melihat suaminya bertingkah riang, Lamela bersedekap sembari menyandarkan bahu di dinding ruang tamu. 

Begitu sadar istrinya sedang memperhatikan tingkahnya, Segara menoleh dengan Zorro masih berada di kedua tangannya. Zorro mengeong, meronta-ronta. Mungkin binatang jantan itu bosan diperlakukan tidak sebagai binatang selazimnya. 

"Kamu itu ...," Lamela berkata sembari bergeleng-geleng. "Sudah magrib ini."

Segara berbalik badan. Wajahnya kikuk menghadap ke istrinya. "Zorro ketemu kamu di mana?"

Lamela refleks menaikkan alis matanya. "Zorro?" Dari bersedekap dia menurunkan kedua lengannya dan mendekati suaminya. "Kenapa harus Zorro yang menjadi subjek di kalimat kamu barusan?" Matanya melotot sambil bertolak pinggang. 

Segara melangkah untuk duduk di sofa. "O ..., jadi bukan Zorro yang menemukan kamu." Nada ucapan Segara datar sedang Zorro betah dalam pangkuan. 

Sekejap lalu wajah Segara semringah. Wajahnya menoleh. Daun pintu kamar yang tertutup menjadi fokus matanya. 

Lamela ikut-ikutan melihatnya. Dia mengerti, dan tersenyum sembari mendorong kacamatanya agar nyaman. 

Tanpa disuruh, mereka berdua kompak menuju daun pintu kamar yang tertutup. Lamela membuka pintu itu. Segara masih menggendong Zorro yang anteng-anteng saja. Kedua mata pasangan itu membelalak senang. Tanpa dia sadari, Segara membuka mulutnya. 

Lihat selengkapnya