Rumah mungil nan asri pagi itu diliputi kesibukan. Segara dan Lamela bolak-balik dari dalam rumah menuju mobil, membawa tas berisi baju dan perlengkapan yang mereka berdua kira diperlukan selama dalam perjalanan. Dan, Zorro bak mandor. Dia duduk. Kepalanya menengok mengikuti gerak Lamela dan Segara yang berjalan bergantian di depannya. Rantai namanya tersambung oleh tali hitam yang dikaitkan pada satu tiang air keran setinggi empat puluh sentimeter. Keran yang biasa digunakan Lamela maupun Segara saat menyiram rumput di pekarangan rumah mereka. Pekarangan itu bersisian dengan garasi mobil sedang pintu garasi masih tertutup rapat. Garasi dan pekarangan yang bersisian itu dinaungi tanaman merambat. Mobil yang biasa parkir di garasi itu bebas dari air hujan. Kanopi melengkung menaunginya dan dirambati pula oleh tanaman merambat. Tanaman merambat itu ujung-ujungnya berjuntaian dan bergerak-gerak bila angin meniupnya.
Selagi di depan bagasi mobil yang daun pintunya terbuka ke atas, Segara berdiri sedang tangan kanannya merogoh kantong celana sesudah meletakkan satu tas kecil yang di dalamnya berisi pengisi daya gawai, sisir, sabun mandi, sampo, pewangi tubuh, minyak angin ke lantai bagasi mobil.
"Halo."
Segara tetap melangkah menuju rumah sembari bicara via gawai.
"Ya. Kamu kabari sesuai arahan saya."
Lamela berpapasan dengan suaminya di ruang tamu. Dia menggeret satu koper berisi pakaiannya.
"Kabari via grup juga bisa.
"Oke."
Segara memasukkan gawainya kembali ke kantong celana. Di kamarnya, dia memandangi sekeliling kamar tidur itu.
"Tidak ada," gumamnya. Dia tersenyum lalu ke luar dan mengunci kamar tidurnya.
"Sudah semua?" tanya Lamela di pintu depan rumah. "Enggak ada yang ketinggalan?"
Segara menggeleng sembari menutup pintu depan rumah hingga berbunyi dua kali "klek".
Berdua mereka melangkah bersama menuju garasi. Tali hitam dilepaskan dari tiang keran oleh Lamela. Zorro pun ikut berjalan. Kucing itu sendirian berjalan di depan seperti pemimpin dalam perjalanan Segara dan Lamela.
Di dalam mobil, Segara menunggu Lamela membuka pintu pagar garasi. Mobil bergerak perlahan hingga semua bodinya utuh ke luar garasi. Lamela menutup pagar itu kembali dan menguncinya.
"Sudah siap?" tanya Segara dari kursi kemudi.
Zorro mengeong. Lamela dan Segara tertawa. Kepala Zorro dielus-elus gemas oleh Segara.
Mobil itu bergerak menuju jalan raya.
Perjalanan menuju kediaman mertua Lamela lumayan jauh. Terlebih dahulu mereka harus membelah kemacetan yang sudah rutin di kotanya sebelum masuk tol menuju luar kota.
"Kalau ngantuk, kamu bilang ya, Gar."
Segara menoleh sembari tersenyum mengangguk.
Di ruas tol, Zorro fokus memandang jalan lurus di depannya. Hanya sesekali dia menoleh ke kiri ketika hijau persawahan seakan-akan mengikutinya.
"Zorro kayak menikmati perjalanan bersama kita," Lamela berkata tidak menuntut jawaban.
Namun Segara menanggapinya. "Ya. Semoga dia bisa meluluhkan hati bapak dan ibu, ya."
Kacamata Lamela terlihat oleh Segara. Ada binar harapan diliputi wajah Lamela yang berusaha tersenyum. Segara menyentuh jemari tangan Lamela. Istrinya segera menggenggam agak erat telapak tangan kiri suaminya.
Namun setir kemudi mengharuskan Segara menarik tangannya yang kiri. Kemesraan mereka berdua tertunda.
Lima jam berlalu. Lamela cekatan memarkirkan mobil. Menjelang akhir perjalanan, Segara berpindah kursi dengan Zorro berada di pangkuannya. Tidak perlu upaya keras buat Lamela memarkirkan mobil di halaman rumah mertuanya yang luas.
Dari pintu mobil yang terbuka di sisi kiri dan kanan, suami-istri itu turun dan berdiri sejenak melihat rumah besar dan terbesar di desa itu. Hawa sejuk menyapa kulit mereka bagai menyambut kehadiran pasangan itu. Syal sudah melingkar di leher mereka masing-masing. Mereka tahu kesejukan selalu hadir di tempat itu meski mereka sendiri belum dapat memastikan apakah perbincangan nanti akan sejuk atau panas diliputi kemarahan.
Kepala Zorro berada di bahu kanan Segara. Dia mengeong. Mungkin tubuhnya tetap merasakan dingin meski selimut kecil cukup tebal sudah melilit tubuhnya.
"Ayo, Lamela," ajak Segara.
Lamela mengangguk sebelum mendorong kacamata agar tidak melorot ke hidungnya yang bangir. Lengan kirinya menggandeng lengan kanan suaminya. Zorro memperhatikannya lalu mengeong. Lamela tersenyum sambil memberi isyarat 'telunjuk tegak di depan bibir' kepada hewan kesayangan mereka agar jangan berisik. Zorro tidak lagi mengeong, tetapi dia mengalihkan wajahnya untuk mengamati asrinya halaman rumah besar itu yang cukup luas.
Asisten rumah tangga membuka pintu sesudah tiga kali bel berdering. Wajahnya semringah ketika mengetahui anak majikan satu-satunya berdiri di depannya.
"Mak Er, bapak, ibu," ujar Segara dipotong Mak Er, "Ada, ... ada, Ibu juga ada. Lengkap, kok, Nak Ara." Gerak tubuh perempuan menjelang lima puluhan tahun itu berusaha lincah. Satu tangannya merentang untuk mempersilakan Segara dan Lamela masuk ke dalam rumah yang ruang tamunya lega meski berkesan lawas.
Namun Mak Er merasa aneh. "Mana barang-barang Nak Ara dan Nak Lamela?" Dia melihat dua orang itu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa satu pun barang bawaan di tangannya. Sesaat kemudian, dia menyadari bahwa yang dibawa anak majikannya hanya seekor kucing berkumis.
Lamela menjawab, "Ada, di bagasi mobil." Lengannya lepas dari memeluk lengan suaminya sebelum menjawab dan berbalik tubuh.
Dengan tergopoh-gopoh, Mak Er mendekati Lamela. "Saya ambilkan, ya."
Lamela mengangsurkan kunci mobil sembari berkata, "Ambil bingkisan di pintu belakang saja, ya, Mak Er." Senyumnya mengembang.
Mereka berdua pun duduk di sofa ruang tamu yang terasa lega karena langit-langit di rumah itu begitu tinggi.
Sekeliling sofa di ruang tamu itu berisi barang-barang lawas, tetapi bernilai menurut ukuran si empunya rumah. Nilai suatu barang memang berbeda dengan harga suatu barang.
Salah satunya adalah suling yang bambunya sudah berwarna cokelat kusam. Suling itu bagai menggantung di dinding, dan memiliki aura yang sulit dijelaskan.
Lamela pernah menanyakan tentang suling itu kepada suaminya ketika pertama kali berkunjung ke rumah terbesar di desa itu.
"Itu suling yang membuat ibu kepincut sama bapak."
Lamela mengangguk-angguk waktu itu walau belum sepenuhnya mengerti. Sebuah suling sangat bernilai di mata mertuanya. Namun, ketika Zorro menjadikan dia bertemu Segara lalu mereka berdua memutuskan menikah, dia baru merasakan akan nilai sesuatu.
Mak Er datang terburu-buru. Segara dan Lamela heran, di tangannya hanya ada sebuah kunci. Di depan Lamela, dia bertanya, "Nak Lamela, pintu mobilnya kok susah dibuka, ya." Nada bicaranya berkesan sedang mengeluh.
Segara tertawa kecil. Lalu dia meminta kunci itu dari tangan kanan asisten rumah tangga orang tuanya. Mak Er menyodorkan kunci itu dan diterima oleh Segara. Terdengar bunyi "mencicit" sesudah kunci mobil itu tertekan satu tombolnya.
"Sekarang, Mak Er bisa ambil bingkisan itu," kata Lamela dan kembali mengingatkan bahwa letak bingkisan itu ada di pintu belakang di sisi kiri mobil.
Mak Er jengah sembari menuju mobil yang parkir di halaman. Tidak ada dua menit, di tangannya yang kanan menjinjing bingkisan sedang tangannya yang lain telapaknya terbuka dan memegang bingkisan bagian bawah. Dia terlihat begitu berhati-hati ketika meletakkan bingkisan itu di atas meja ruang tamu.
"Saya panggil Bapak dan Ibu dulu, ya, Nak Lamela.
"Nak Ara mau minum apa? Teh panas?" Perempuan paruh baya itu bertanya tanpa Segara dan Lamela perlu menjawabnya. Anggukan kepala Segara adalah jawabannya.
Ruang tamu itu serasa jadi kurang sejuk saat Lamela dan Segara melihat cangkir tehnya ada di nampan yang dibawa Mak Er. Gerak tubuh pasangan itu menjadi canggung. Bukan dua cangkir teh di nampan Mak Er yang sedang diletakkan masing-masing di atas meja yang membuat mereka canggung, melainkan suara berdeham di belakang Mak Er yang agak membungkuk saat meletakkan cangkir-cangkir teh itu.
Kedua orang tua Segara melangkah pelan. Aura kewibawaan jelas Lamela rasakan sejak kehadiran mereka berdua di ruang tamu yang sekarang serasa sempit lagi sesak, menurut keyakinan, ... o, bukan, menurut apa yang Lamela rasakan.