Segara membuka daun pintu kamarnya tanpa suara. Bulan purnama bak mengawasinya menjelang subuh. Kakinya berjinjit meski titik-titik air sisa mandi basah jatuh ke lantai keramik selama dia menuju dapur.
Namun, dia meloncat kaget ketika bahunya ditepuk seseorang dari belakang.
"Lapar, Nak Ara?" Mak Er cengengesan, menebarkan bau khas manusia kala bangun dari tidur.
"Aduuuh, Mak Er," pekik tertahan Segara. Tangannya mengelus-elus dadanya yang bidang.
Pekik itu membuat kedua orang tua Segara hadir di dapur. Mereka tersenyum penuh arti melihat basah rambut Segara dan Lamela yang juga ke luar menuju dapur karena mendengar pekikan suaminya.
"Kalian lapar?" tanya bapak Segara.
"Mak Er," panggil ibu Segara.
"Iya, Bu."
"Buatkan sar—" Ibu Segara sebentar melihat jam dinding persis di depannya. "Buatkan apa yang Ara dan Mela mau."
Titahnya segera dilaksanakan oleh Mak Er dengan sopan bertanya, "Nak Ara, Nak Mela mau makan apa?"
Dengan bersungut-sungut, Segara asal bicara: "Steik ikan."
"Setik ikan?" Kedua alis Mak Er merapat. "Ikan apa?"
"Sapu-sapu!"
Kedua alis Mak Er makin rapat. "Memangnya ada ikan sapu-sapu disetik?"
Lamela dan kedua orang tua Segara tertawa melihat Segara merajuk.
Hanya Mak Er yang tidak ikut tertawa. Dia merasa seperti dibohongi dan baru tahu ada macam makanan seperti yang anak majikannya inginkan semenjelang subuh kali itu.
Lamela berkata sesudah mengikat rambut legamnya yang masih basah, "Biar saya saja yang bikinkan, Mak." Rambutnya yang terikat meneteskan beberapa titik air hingga jatuh ke lantai dapur.
Mak Er menatap wajah ibu Segara dengan mimik ragu dan minta persetujuan.
Ibu Segara mengangguk tegas.
Mereka bertiga meninggalkan pasangan yang mandi basah menjelang subuh itu berduaan di dapur.