Hermas tidak tahu sihir apa yang membuatnya tak mampu melepaskan sosok itu dari pikirannya. Yang ia tahu, Raisya sangat rendah hati, tak seperti fotomodel lain yang pernah ia temui. Bahkan, lebih dari itu.
Di sela istirahat pemotretan, Raisya sempat mengambilkan nasi kotak untuknya. "Ini buat Mas, jangan sampai kelaparan," katanya dengan senyum yang tulus.
Hermas pun ingat betul bagaimana gadis itu menatapnya di akhir sesi pemotretan. "Terima kasih ya, Mas, udah sabar motoin Aku," ucap Raisya. Suaranya serupa bel yang jernih.
Kata-kata sederhana itu menggantung di antara mereka, mengubah ruang profesional itu menjadi terasa personal. Hermas... Hermas hanya bisa mengangguk kaku, mulutnya terkunci oleh degup jantung yang tak karuan.
Dalam gelora jiwanya, sebuah harapan mulai bersemi.
Mengapa tidak? tanya Hermas dalam hati. Raisya sangat baik padaku. Mungkin dia juga suka. Hati Hermas berbunga-bunga.
Malam itu, di kamar kosannya yang sunyi, jarinya gemetar mengetik nama Raisya di Instagram. Hermas sudah menyiapkan berbagai topik obrolan untuk mengenalnya lebih dalam. Juga setumpuk lelucon untuk membuatnya tertawa.
Senyum Hermas merekah saat melihat foto profil Raisya yang manis dan elegan. Awalnya, Hermas ingin segera mengirim pesan. Namun, ia putuskan untuk melihat terlebih dahulu foto-foto terbaru Raisya, hasil karyanya tadi siang.
Wajah Hermas langsung berubah begitu melihat deretan komentar di bawahnya. Pria-pria dengan jas mentereng, mobil mewah, dan profil yang berteriak kesuksesan. Sorot mata mereka penuh keyakinan, sesuatu yang tak pernah ia miliki.