KucingBetina96

Komandala Putra
Chapter #2

Bab 2

Hermas menutup aplikasi Curhat. Dan dengan mata yang penuh tekad, ia beralih ke laptop, membuka arsip para model yang pernah ia potret. 

Bukan, bukan untuk membuat portofolio klien. Tapi untuk membuat sosok wanita seksi dengan bantuan AI. 

Kini, di hadapannya, puluhan wajah cantik terpampang—profesional, dingin, dan berjarak. Namun, kursor itu mengabaikan mereka, terus bergerak seolah ditarik oleh magnet, hingga berhenti di satu folder: "RAISYA - FOTO PRODUK". Ia pun membukanya dan puluhan file high-resolution hasil kameranya segera memenuhi layar.

Entah mengapa, Hermas merasa ada getaran aneh yang menjalar di tubuhnya saat kursor itu berhenti di satu foto kandidat terbaik—senyum tulus Raisya yang ia kagumi.

Ini salah. Ini tindakan yang melanggar hukum sekaligus melanggar kepercayaan Raisya. Apalagi Raisya sangat baik padaku, suara dalam diri Hermas berusaha mencegahnya. Namun, rasa putus asa dan hasrat gelap untuk diakui ternyata jauh lebih kuat. 

Wajah inilah yang membuatku merasa tersihir. Wajah inilah yang dipuja-puja para pria sukses di Instagram. Wajah inilah yang pasti berhasil menarik perhatian di Curhat, kata suara lain dalam diri Hermas.

Setelah diam sejenak, Hermas akhirnya menyeret file foto itu ke aplikasi AI. Detik itu juga, statusnya berubah. Kini, ia bukan lagi sekadar pengagum. Melainkan juga seorang pencuri, seorang kriminal.

Lalu, dengan wajah curian itu sebagai dasarnya, Hermas menambahkan segala hal yang ia kira dunia inginkan: tubuh yang lebih menggairahkan, pose yang lebih percaya diri, serta aura yang tak terbantahkan.

Kemudian, ia memilih pakaian. Sebuah dress mini berwarna merah menyala. Warna yang berani. Warna yang dirancang untuk menarik perhatian di tengah kesuraman Curhat. Pakaian yang tidak akan pernah dipakai Raisya asli di media sosialnya.

Setelah semuanya jadi, ia pun memandangi hasil karyanya. Di balik senyum itu, ada hati yang menangis. Di balik tubuh sempurna itu, ada dirinya yang merasa cacat. 

Ya, Hermas baru saja menciptakan sebuah mahakarya kepalsuan hanya untuk menyembunyikan seorang pecundang.

Lalu, ia kembali membuka aplikasi Curhat dan membuat akun baru dengan nama KucingBetina96. Sebelum diunggah, ia potong foto itu dengan cermat—hanya hidung ke bawah—menjadikannya sebuah teka-teki sekaligus umpan. 

Waktunya mancing, ucap Hermas dalam hati. Tidak sadar bahwa yang ia lakukan bukan lagi mencari tempat bercerita. 

Ini... ini adalah sebuah balas dendam. Sebuah upaya putus asa untuk merasakan kekuasaan setelah sepanjang hidupnya merasa tak berdaya.

Dengan napas tertahan, Hermas pun mengetik status pertamanya. "Capek jadi manusia. Pengen jadi kucing aja. Dimanja, dipeluk, dikasih makan. Ada yang mau adopsi?"

Jantungnya berdebar kencang saat jarinya menekan tombol “unggah”. Sejenak... hanya sunyi yang menyiksa. Lalu, notifikasi pertama berbunyi. Seseorang menyukai postingannya. Kemudian notifikasi kedua, lalu ketiga.

Seorang pria berkomentar, "Aku adopt dong, sayang."

"Sini, jadi peliharaan gua," komentar yang lain.

Lihat selengkapnya