Ternyata, pria bernama Aldi itu beberapa menit lalu sudah berdiri di balkon, menimbang-nimbang cukup lama. Di satu sisi, ia terlalu sedih membayangkan wajah ibunya jika ia berakhir seperti ini. Namun di sisi lain, ia juga terlalu pedih dengan semua pengkhianatan yang terjadi.
Dengan batin yang berkecamuk, Aldi akhirnya memberi satu kesempatan terakhir pada hidup. Mungkin... mungkin masih ada sesuatu dalam hidup ini yang layak dijalani.
Ia pun kemudian membuka kembali aplikasi Curhat yang ia install beberapa bulan lalu.
Bukan, bukan untuk menulis puisi putus asa atau memaki siapapun. Tapi, untuk mencari satu pertanda. Jika yang ia temui hanya kegaduhan, kebencian, atau kesendirian seperti yang selama ini ia rasakan, maka itulah pertanda akhir. Namun, jika ia mendapati pertanda baik, berarti Tuhan memang masih menghendaki keberadaannya di dunia ini.
Di situlah, di antara ratapan jiwa-jiwa yang terluka, senyum Raisya seperti berbicara langsung pada jiwanya. Dan inilah pertanda yang ia cari.
Malam itu, Aldi tidak tahu mengapa ia bisa membagikan kisah pilunya pada seorang asing. Padahal, selama ini, dunia mengenalnya sebagai sosok maskulin yang tak punya kerentanan.
Dari ceritanya, Hermas tahu bahwa Aldi seharusnya menikah enam bulan lalu. Tapi, seminggu sebelum pernikahan, Aldi mendapati wanita yang ia jadikan definisi cinta dan tujuan hidup itu ternyata baru saja bercinta dengan mantan kekasih.
Saat itu, dunia Aldi hancur seketika. Tak ada lagi api dari dalam diri. Tak ada lagi alasan untuk melanjutkan hari.
Dalam kubangan depresi yang sangat menyiksa, Aldi meninggalkan berbagai hal yang semula ia sukai, termasuk kejuaraan binaraga yang sudah lama ingin ia ikuti. Bahkan, gym tempat ia mencari nafkah sehari-hari pun tak lagi ia datangi. Aldi... ia lumpuh secara sosial.