Kukira Pengangguran, Ternyata Juragan Tambang
Bab 1: Pilihan yang Pahit
Langkah kaki Laras terasa berat sekali saat melangkah masuk ke halaman rumah sederhana itu. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara rasa malu, kecewa, dan ketakutan yang menyelimuti seluruh pikirannya. Di usia dua puluh dua tahun, ia tidak pernah membayangkan nasibnya akan berakhir seperti ini—terpaksa menikah dengan seorang pria yang bahkan tidak diketahui secara jelas asal-usul dan pekerjaannya.
“Masuklah, Laras. Mulai hari ini, ini adalah rumahmu juga,” suara ayahnya terdengar lirih, namun ada nada tegas yang tak bisa dibantah.
Di depan pintu berdiri sosok lelaki bertubuh tegap, mengenakan kemeja katun berwarna cokelat pudar dan celana kain yang sudah agak lusuh. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat biasa saja tanpa ada kesan mewah atau berwibawa seperti pria-pria mapan yang sering ia lihat di kota. Tatapan matanya tenang, terlalu tenang seolah-olah tidak ada beban apa pun yang sedang dihadapinya.
Itu Raka. Pria yang menjadi suaminya sejak dua jam lalu dalam upacara sederhana yang hanya dihadiri keluarga inti saja.
Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan sebuah solusi terpaksa. Keluarga Laras terjerat utang yang sangat besar ke seorang juragan di desa tetangga. Jika tidak dilunasi dalam waktu seminggu, maka sawah warisan dan rumah mereka akan disita, dan lebih parah lagi—Laras sendiri akan dipersunting oleh lelaki tua beristri tiga itu sebagai istri keempatnya. Di tengah kepanikan, muncullah Raka yang diam-diam melunasi seluruh utang itu dan meminta satu syarat: menjadikan Laras istrinya.