-POV: Kiara-
“Ya Allah, gimana ini kita Ceu Odah, kerjaan kita aman nggak ya? Ini sih alamat kita dipecat.”
“Ih, Odah juga nggak tau, Irma. Padahal lagi enak-enak ya, kita kerja. Musibah teh ada aja.”
“Lagian kenapa bisa dah, kebakaran kayak gini? Gara-gara siapa? Susah kalo kayak gini, mau nyalahin siapa.”
Aku menghela napas mendengar obrolan ketiga rekan kerjaku, Ceu Odah, Irma, dan Bang Jaka. Suara mereka mendesis namun tetap menjalar ke telingaku.
“Gila sih ini, Mas Ren! Nggak ada yang nyisa! Freezer kita udah jadi artefak, kulkas jadi bangke, stok bahan udah pada gosong, alat masak juga nggak ada yang selamet.”
Silvia, bagian administrator merangkap keuangan plus sekretaris, yang kadang juga bagian pengemasan, melaporkan hasil penelusurannya. Silvia bukan haus jabatan. Namanya juga UMKM. Rangkap jabatan adalah jamak.
Netraku menyapu sekeliling dapur yang biasa menjadi arena kami berjibaku. Benar-benar seperti gorengan lupa diangkat, hitam berjelaga, kering mengerak.
Bau sangit menusuk hidungku, namun rasa pahit yang kini lebih kucecap. Ketakutan dan kebingungan atas nasib kami semua.
Aku jongkok, mengambil sisa kertas stiker yang terbakar. Tercetak tulisan “KULA” di sana. Aku mengambilnya. Sesak muncul di dada.
“Catet semua, Vi. Estimasi sama lo berapa total kerugian kita.” Itu suara Rendra, bos kami semua.
“Siap, Mas Ren.” Silvia manggut-manggut sambil mencatat di buku tebalnya.
“Kita semua ikut ke kantor polisi, Ren?” tanyaku.
“Tadi sih kata mereka gitu, Ra.” Suara Rendra terdengar lesu. Siapa juga yang tak lunglai jika usaha kebanggaannya habis dilalap si jago merah?
Rambut Rendra yang biasanya dipoles pomade, tampak kusut. Ia hanya mengenakan kaus rumahnya. Sandal pun sandal jepit karet. Tanda tergesa untuk tiba di sini. Bukan Rendra, si rapi jali, seperti biasanya.
Aku paham apa yang kini sedang dirasakan oleh Rendra. Sebagai rekan yang membersamainya merintis katering ini, mendapati ladang nafkahnya menjadi tinggal abu, adalah hal yang sulit diterima.
Kula adalah nama Katering Rendra. Rendra sendiri yang menamainya. Katanya plesetan dari kata “laku”. Memang soal kreativitas, pria itu jawaranya.
Sebenarnya dalam bahasa Sanskerta, kata kula memiliki arti kumpulan atau komunitas. Bagiku Kula memang kumpulan. Kumpulan dari orang-orang yang kuanggap keluarga. Hal yang aku merasa tak memilikinya.
Rendra selalu bilang, Kula adalah milik kami berdua. Jika Kula adalah anak, maka Rendra adalah ayah dan aku ibunya.
Tapi aku tahu diri, modal seratus persen dari Rendra, jadi otomatis dialah pemilik Kula. Aku hanyalah motor penggerak. Kalau versi Rendra, justru aku adalah jantung Kula. Terserah dia saja. Yang punya uang, bebas mau apa.
Sebagai pemilik, Rendra bertindak menjadi Direktur, bagian pemasaran, head of media, model, dan kadang sebagai sopir. Berbagi peran dengan Bang Jaka. Seperti yang sudah kubilang, namanya juga UMKM rintisan. Efisiensi posisi selalu terdepan.
Aku sendiri adalah head chef alias ketua tukang masak. Tak bisa menyambi, karena tanpa rangkap jabatan pun pekerjaanku sudah menggunung, bak tumpeng tujuh belasan.
Anak buahku ada tiga, Ceu Odah, Irma, dan Mbak Tuti. Yang terakhir belum tampak batang seledrinya, eh, maksudku hidungnya.
Aku kesal padanya, tukang terlambat. Kalau tak karena kasihan sebab ia janda beranak tiga dan hasil masakannya sangat enak, ia sudah kutendang jauh-jauh dari timku.
“Vi, customer udah clear semua kan? Jangan lupa catet ganti rugi yang mesti kita keluarin berapa.” Suara Rendra memutus lamunanku.