-POV: Kiara-
Rendra terdiam mendengar ancaman Pak Mandra. Bahuku menegang. Ternyata Pak Mandra sekeras ini. Biasanya dia cengar-cengir saja jika kami bertemu.
Suara Pak Mandra yang menyentak, mengundang Pak Polisi tukang senyum keluar dari kandangnya. Sang Pak Polisi kembali tersenyum bahkan lengkung bibirnya tersungging lama padaku.
Silvia sampai mencolek pinggang rampingku. Aku yang disenyumi, dia yang panik.
Rendra berdeham. Sang Pak Polisi terkesiap.
“Bapak, tenang ya. Kejadian ini kan sedang diselidiki. Penyebab pastinya sedang dicari tahu. Pak Rendra sekarang statusnya masih sebagai saksi. Tidak bisa ditangkap begitu saja.”
Bibir Pak Polisi itu kembali melengkung ke atas. Matanya melirik ke arahku. Silvia makin merapat ke tubuhku.
“Pak… Mandra… tadi sudah buat laporan kan? Pak… maaf ini dengan siapa?” tanya Pak Polisi rajin senyum.
“Mamat,” jawab pria cemong itu.
“Sudah buat laporan juga?” tanya Pak Polisi lagi.
“Katanya sebentar lagi, Pak.” Mata Pak Mamat melirik ke dalam.
“Ya sudah, ditunggu saja ya, Pak.” Pak Polisi menganggukkan kepala. Ia kembali melirik ke arahku.
“Mbak Kiara, belum pulang?” Akhirnya Pak Polisi itu beraksi lebih.
Aku baru mau membuka mulut, ada suara menyela. “Pulangnya sama saya, Pak. Saya kan tunangannya.” Rendra tertawa karier.
Aku ternganga. Bisa-bisanya Rendra mengakuiku sebagai tunangannya, padahal aku tak merasa terancam atau sejenisnya. Efek stres sepertinya.
Pak Polisi itu mengangkat alisnya. Tak ada lagi senyum di wajahnya. “Oh, begitu… Ya sudah, saya masuk lagi ya.” Pak Polisi itu langsung masuk ke dalam ruangan interogasi.
“Mas Ren gara-gara stres jadi makin posesif,” bisik Silvia di telingaku.
“Ngawur kamu!” Aku memiringkan bibir.
“Mas Rendra, saya tunggu itikad baiknya 3 x 24 jam ya. Awas kalo situ kabur!” Mata Pak Mandra tampak seperti mau melompat ketika mengancam Rendra.
“Iya, Pak. Kita tunggu hasil penyelidikan ya. Kalau pihak kami yang salah, saya pasti tanggung jawab kok.” Rendra mengembuskan napas panjang.
“Ya udah, saya tunggu. HP-nya aktipin, jangan ganti nomer!” Pak Mandra mengoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah Rendra.
Rendra menipiskan bibirnya. Ia menganggukkan kepala.
Pak Mandra berjalan ke arah gerbang keluar. Pak Mamat menganggukkan kepala kepada kami lalu duduk tak jauh dari posisi kami berada.
“Kamu mau ke mana abis ini?” tanya Rendra.
“Aku kayaknya mau belanja alat-alat masak yang rusak sama Via. Biar kita bisa jalan lagi. Kamu?” Aku menatap Rendra. Ia sudah sarapan atau belum ya?
“Aku mau ke tempat Bobi. Terus ke tempat supplier sama customer yang gede-gede. Kayaknya mau bareng Ibnu.” Rendra menyebut nama salah satu penanam modal Kula.
“Ya udah,” jawabku.
“Via, lo yakin ikut belanja sama Ara? Kerjaan lo banyak.” Rendra menatap Silvia.
“Tau tuh, padahal tadi aku mau jalan sama Irma.” Aku melirik gadis yang kini meringis.
“Nggak apa-apa, Mas Ren. Buang stres aku, shopping.” Silvia melebarkan senyumnya.
Rendra menggelengkan kepala. Aku memutar bola mata. Gadis ini memang kadang absurd, untung kerjanya bagus.
“Aku sama Via berangkat sekarang ya, Ren,” pamitku.
“Ok…” Rendra menatapku. Aku menggamit lengan Silvia, berjalan cepat menuruni tangga.
“Yuk, Mas Ren,” ucap Silvia. Rendra mengangguk.
“Ara…” panggil Rendra. Aku menoleh. “Ati-ati. Kabarin kalau udah beres.” Rendra tersenyum manis. Hatiku berdesir. Degup jantungku amat kencang.