-POV: Kiara-
Aku termangu. Rendra ikut terdiam, bahkan mi instan yang sudah kubuat, tak disentuhnya.
“Ara… kamu kenapa?”
Aku melirik sengit ke arah Rendra. Bukan disebabkan marah kepadanya, tapi karena hanya padanya aku bisa melampiaskan emosiku, meski hanya sebatas itu.
“Tadi Mama kamu, ngomong sesuatu yang nggak enak lagi?” Rendra mengusap lenganku.
Aku kembali tertegun. Rahangku mengetat. Batinku riuh. Menolak situasi ini. Otakku sibuk. Repot berhitung.
Benar-benar menghitung lembaran rupiah yang harus melayang karena telepon dari Mama. Lima tahun aku telah merdeka namun satu panggilan telah kembali mengikatku dalam kekangan beracun mereka.
“Ara… Mama kamu nggak apa-apa kan? Aku anter yuk kalau memang kenapa-kenapa.” Rendra menatapku lembut.
Aku balas menatap lelaki itu. Lelaki yang selama tiga tahun ini selalu memperlakukanku dengan penuh kelembutan.
Membuatku takut bersandar kepada kelembutan itu, karena aku tahu rasa sakitnya saat semua itu mendadak pergi. Tiba-tiba tercabut tanpa permisi.
“Kamu makan aja dulu mi yang udah aku buat. Nanti jadi nggak enak, mekar.”
“Iya.” Rendra mengangguk.
“Pelan-pelan aja, Ren. Aku nggak buru-buru kok.”
Rendra meringis. “Kalau nggak cepet-cepet tambah ngembang mi-nya.”
Aku memandangi Rendra. Terkadang aku takut kebaikannya hanya di kulit saja, seperti sosok itu. Hanya di saat keadaan baik-baik saja. Bagaimana jika badai yang kini menghantam Rendra, menggoyahkan Kula, adalah pencetus tornado bagi diriku?
“Yuk, jalan. Aku udah selesai.” Rendra tersenyum. Ia keluar membawa mangkuk bekas mi instan beserta nampan dan gelas.
“Aku ganti baju dulu,” ucapku sambil bersiap menutup pintu.
“Ok,” jawab Rendra. “Eh, aku juga solat dulu di mushola seberang ya.”
“Iya.” Aku langsung menutup pintu dan lekas berganti pakaian.
Aku mengoleskan lip balm berwarna pink. Aku harus terlihat bahagia di depan mereka. Dan memang aku lebih bahagia tanpa mereka.
Aku memejamkan mata. Menarik napas panjang. Aku kalah bukan karena rindu atau memaafkan tapi karena aku tahu Mama tak akan berhenti menerorku dengan rengekan sampai aku menurutinya.
Kesediaan Rendra mendampingiku yang menjadi penguatku untuk kembali menemui mereka. Sumber lukaku.
Lima tahun aku pergi dari belenggu keluargaku, penuh dinamika. Dua tahun pertama, aku masih mengirimkan uang bagi Mama. Aku hanya menghilang secara fisik.
Berjalannya waktu, Mama merasa itu tak cukup. Adik-adikku juga ikut merasa tak cukup. Mereka terus menuntut. Hingga akhirnya aku memutuskan, total pergi. Total abai.
“Ara…” Rendra memanggilku bersamaan dengan suara ketukan di pintu.
“Ya, Ren.” Aku keluar dan langsung mengunci pintu kamar.
Aku dan Rendra berdiri di depan pintu. Ia menungguku bertindak lebih. Ia tahu kakiku masih belum mau melangkah lebih jauh.
Rendra hanya tahu aku adalah seorang pelarian. Rendra cuma tahu keluargaku toksik. Hanya sebatas itu. Aku tak pernah cerita detail, tapi dari situ ia tahu, aku enggan pergi, sore ini.
Tiba-tiba Rendra menggenggam tanganku. Aku terperangah. “Yuk,” katanya lembut. Akhirnya aku menurut, aku melangkah.
“Kita ke mana?” tanya Rendra ketika menyalakan mesin mobil.
“Rumah sakit Fatmawati,” jawabku sambil memandang ke jendela samping.
“Ok.” Hanya itu jawaban Rendra.
*
*
Aku memandang Rendra yang mengenakan kemeja lengan panjang. Tentu saja ia tampil rapi seperti biasanya karena habis bertemu pelanggan dan penyuplai.
Rendra pasti kelelahan, fisik dan mental, tapi ia memilih mendampingiku. Desir di hati ini menggila. Ada rasa tak nyaman di perutku.