Kula : Renovasi Rumah Penuh Luka

Inna Kurnia
Chapter #4

04 Setuju

-POV: Kiara-

Tenggorokanku tercekat mendengar ucapan Rendra. Wajahku mengeras, bahuku pun menegang. Apa-apaan Rendra?

Senyum yang sempat terukir di wajah Rendra, raib ketika menatapku. “Eh, hhmm … maksud aku … aku nggak nyangka rumah kamu sebesar ini, Ra.”

“Rumah Papa,” koreksiku ketus.

“Iya, rumah Papa kamu luas banget. Sayang kalau nggak dimanfaatin.” Rendra meringis sambil menggaruk tengkuknya. “Paviliun ini dulunya apa, Ra?”

Aku terdiam membuat Rendra menipiskan bibirnya. Ia tersenyum tipis dengan salah tingkah.

“Ruang kerja Papa,” jawabku lirih.

“Oh.” Rendra manggut-manggut. “Bagus, ya, konstruksinya. Temboknya keliatan kuat banget. Terus langit-langitnya tinggi. Pake arsitek, ya, dulu bikinnya?”

Aku memalingkan wajahku. “Aku ke mobil duluan, ya, Ren.” Aku melangkah cepat ke arah mobil yang ada di luar pagar.

Ketika aku terduduk di mobil, kulihat Rendra menundukkan kepala. Ia menghela napas panjang lalu menyusulku. 

Selama sekitar lima belas menit perjalanan, kami membisu. Deru AC mengiringi kesunyian di dalam mobil.

“Maaf ya, Ra, kalau aku nyinggung kamu. Pake ngide Kula pindah ke rumah kamu.” Suara Rendra akhirnya memecah keheningan itu.

Aku menatap nanar ke jendela samping. “Aku ke sana aja kepaksa, Ren. Aku nggak bisa kalau harus kerja juga di sana. Jangan bikin aku jadi nggak nikmatin masak, Ren.” 

“Iya, Ra, maaf. Maksud aku, sih, manfaatin ruang yang nggak kepake di rumah kamu, sayang banget soalnya. Sekalian juga, bisa jadi pemasukan buat orang tua kamu.”

Aku bergeming. Rahangku terasa ketat. Aku menarik napas panjang. Rendra tak paham mendalam, aku yang harus maklum.

***

“Tuti, kamu, teh, ya, telat terus! Mikir atuh, jangan alesan di sini lebih jauh jadi kamu bisa telat!” Ceu Odah muntab melihat Mbak Tuti kembali terlambat. Mulutnya mengomel, tetapi tangannya bergerak cekatan mengupas kulit wortel.

“Mas Ren kemarin bilang apa kalau Mbak Tuti telat lagi?” tanyaku dengan nada rendah.

Pisau di tangan Mbak Tuti bergetar. “Tuti boleh cari kerjaan lain yang mungkin lebih fleksibel daripada di sini.”

“Aku nggak akan lapor kejadian hari ini. Tapi kalau Mbak Tuti besok-besok telat lagi, aku nggak akan belain lagi. Hari ini terakhir!” Aku membalikkan badan dengan wajah dingin.

Rendra dan aku harus tegas. Toleransi yang diberikan pada Mbak Tuti sudah cukup besar. Bagaimanapun ini adalah pekerjaan, profesionalisme tetap diutamakan.

Mbak Tuti mengangguk. Ia segera memotong kentang yang telah dikupas sebelumnya.

Tak terasa kami sudah separuh kontrak alias dua minggu di cloud kitchen. Sepertinya kami kurang berjodoh dengan dapur yang sebenarnya sangat membantu bagi UMKM itu.

“Ya Allah, ini siapa yang nyimpen kardus di sini? Tuh kena noda saos. Kotor banget. Ck, mana banyak lagi!” 

“Kenapa, Ma?” tanyaku. Irma menunjuk kardus yang sudah siap pakai namun ternoda.

“Ya udah, siapin gantinya. Ayo, cepet!” perintahku cepat.

“Maaf, tadi, mah, nggak ada saos di atas meja, pas Odah nyimpen kardus. Siapa yang mindahin mangkok saos ke sana?” 

“Aduh, Tuti tadi yang mindahin. Terus kesenggol sama Tuti kali, ya, pas tadi nyimpen panci sayur, jadi tumpah.”

“Ih, Tuti kamu tuh, ya, nggak ati-ati banget!”

Aku termangu melihat keadaan ini. Sudah kedua kali masalah serupa terjadi.

“Ya, gimana dong, kan meja yang laen penuh. Kalo disimpen di lantai, nggak higienis. Bisa-bisa dimarahin Kak Ara.” Mbak Tuti tak terima terus disalahkan Ceu Odah.

“Udah! Kalian, kan, tau sekarang tempat kita terbatas. Jadi laen kali lebih ati-ati!” Aku memotong perdebatan mereka.

Aku memejamkan mata, memijat pelipisku yang berdenyut. Aku menoleh ketika ada suara piring jatuh. 

Lihat selengkapnya