Kula : Renovasi Rumah Penuh Luka

Inna Kurnia
Chapter #5

05 Bantuan

-POV: Rendra-

Aku terkejut mendengar ucapan Kiara di telepon. Ia mendadak setuju Kula pindah ke paviliun rumah orang tuanya, sesuai ideku.

Ide yang kurang empati, memang, tapi bukan maksudku tak memahami perasaan benci Kiara pada keluarganya sendiri. Aku hanya mencari titik tengah dari semua masalah yang ada.

Kebutuhan mendesak Kula. Keluarga Kiara yang mulai kembali menjadikannya sapi perah dengan dalih papanya sakit. Dan tentunya, aku ingin Kiara sembuh dari lukanya. Menyelesaikan masalahnya, bersamaku. 

“Hei, akhirnya dateng juga. Aku udah ampir nyusul. Khawatir kamu kenapa-kenapa, Ra.” Aku berdiri begitu melihat kedatangan Kiara.

“Apaan sih, Ren. Lebay deh. Aku mesen nasgor dulu buat kita. Nggak sanggup masak buat makan malem.” Kiara tersenyum. Aku menatapnya dalam.

“Kenapa ngeliatin kayak gitu?” Kiara mengernyitkan alis.

Aku mengulum senyum. “Aku baru sadar, kempot kamu makin ke sini makin dalem. Bikin tambah lucu, cantik.”

Wajah Kiara memerah, ia spontan menunduk. “Makan di teras aja ya, Ren.” Langkah Kiara langsung menuju dapur indekosnya.

Kiara mengangsurkan piring berisi nasi goreng berlumur kecap. Aku langsung menyuapnya. “Jadi kenapa kamu bisa mutusin setuju?”

“Nggak ada pilihan logis lagi, Ren. Pindah ke Serpong, resikonya tim kita bisa bubar. Tau sendiri, Mbak Tuti, Ceu Odah.”

“Iya sih, Ra. Mana Serpongnya bukan yang deket tol. Kalaupun deket tol, tim kita banyakan pake motor atau transum, jadi nggak ngaruh. Jalurnya lumayan berat, keburu capek sebelum masak,” uraiku panjang.

“Aku juga ngerasa … sayang liat rumah Papa, kayak yang kamu bilang. Susah banget, Ren, jualnya. Papa udah mau jual dari tiga belas taun lalu. Nggak kuat perawatannya, belum pajaknya. Keluargaku udah nunggak banyak itu.” 

Kiara menghentikan kunyahannya. Ia memandang kosong ke arah halaman.

“Berarti udah bener keputusan kamu. Pelan-pelan kita beresin, Ra. Ada aku.” Aku tersenyum hangat pada gadis favoritku itu.

Kiara balas tersenyum, tipis. Ia kembali memasukkan sendok ke dalam mulutnya.

“Tapi Ren, paviliun Papa, kan, perlu direnov. Kula ada bujetnya?”

Aku mendadak merasa seret hingga terbatuk kecil. Kiara gegas menyodorkan gelas air putih. Aku meminumnya cepat. “Doain aku, Ra. Kayaknya aku mau minta … bansos.”

“Bansos?” Alis Kiara bertaut.

***

Bansos yang kumaksud bukan sembarang bansos. Ini adalah bantuan yang mengorbankan harga diriku, yang membuatku menghadap pihak berwenang paling menakutkan dalam hidupku.

“Pulang juga si anak ilang.” Papi yang sedang bermain burung, melirikku. Burung dalam sangkar, bukan burung lainnya.

Aku terkekeh geli. “Masih aja main burung, Pi.”

“Burung mahal, nih, dari Afrika. Sama burung kamu juga bagusan ini.” Papi memandang bangga binatang berbulu cerah itu.

“Rendra nggak punya burung, Pi," kilahku yang memang tak suka hobi semacam itu.

“Udah bukan laki, kamu?” Papi menatap malas padaku.

Aku melongo. Astagfirullah, Papi!

“Mau ngapain pulang?”

“Ya Allah, Papi, Rendra rajin pulang kali. Tiap dua lebaran pulang, Idul Fitri sama Idul Adha. Setidaknya dua atau tiga bulan sekali juga pulang.”

Lihat selengkapnya