-POV: Kiara-
Aku meremas tanganku. Dadaku serasa ditimpa beton. Aku memejamkan mata, mengatur napas yang terasa berat.
Rendra menatapku sendu. “Udah siap?” Ini pertanyaan kedua kalinya.
“Iya ….” Aku menjawab pelan.
“Yuk.” Rendra membuka pintu mobil.
Kami berjalan bersisian menuju pintu rumah Papa. “Assalamualaikum.” Serempak suara kami keluar begitu tiba di ambang pintu.
“Waalaikumsalam.” Wajah lelah Mama menyambut kami.
Rendra mencium tangan Mama. Mama tersenyum. “Nak Rendra … sehat?”
“Sehat, Tante. Tante sehat?”
“Sehat, alhamdulillah.” Mama menatap Rendra dengan mata berbinar-binar.
“Semua udah kumpul, Ma?” tembakku tanpa basa-basi.
Mama terkesiap lalu manggut-manggut cepat. “Eh, udah, Kak. Sesuai pesen Kakak.”
Aku mengangguk kecil dengan ekspresi datar. Langkahku mendahului Mama dan Rendra menuju ke dalam rumah. Papa di kursi roda, menatapku dengan pandangan yang tak dapat kuartikan.
Kirana, adik keduaku, masih menggunakan seragam minimarket biru, melengos ketika netraku bersirobok dengannya. Kama, adik bungsuku, melihatku pun tidak.
“Terima kasih udah pada dateng. Jadi a–”
“Udah kabur nggak jelas lima taun, tiba-tiba sok kayak bos nyuruh kita semua kumpul. Apa hak kamu?” Kirana memotong ucapanku.
Kama tertawa kecil sinis dengan tatapan geram ke arahku. “Awas aja kalo nggak jelas.”
Rendra terlihat menahan napasnya. Mulutnya terkatup rapat dengan rahang agak kencang.
Mama menunduk sambil meremas dasternya. Ia sempat melirik kepadaku, tetapi langsung menekur setelah sempat beradu pandang denganku.
Aku mencengkeram tas di pangkuanku. Ingin rasanya kulayangkan bogem mentah pada adik-adikku yang tak tahu diri itu.
“Hak aku, sebagai anak tertua, yang masih punya hak di rumah ini. Anak yang lima tahun lalu pergi, tapi masih berkontribusi. Bahkan sekarang, di saat ada dua anak yang tinggal di sini.” Aku menatap nyalang kedua adikku secara bergantian.
Kirana mencebikkan bibirnya, sementara Kama menguap lebar. Aku mengepalkan tangan hingga buku jariku memutih.
“Jadi aku datang ke sini untuk memberitahu kalian, paviliun bakal aku pakai untuk usaha aku dan Rendra.” Aku sejenak menoleh ke arah lelaki itu.
Kepala Kirana mengikuti arah mataku. Tiba-tiba ia memperbaiki posisi duduknya. Rambutnya ia selipkan ke daun telinga. Tak lupa ia sunggingkan senyum manis yang aku yakin itu palsu.
Kama masih dengan pose berbaring, melirik malas ke arah Rendra. Tak lama, ia kembali memejamkan matanya.
Papa menatap Rendra, antara tatapan kosong atau tak bersahabat. Wajah Papa datar.
Rendra menganggukkan kepala sopan kepada semua anggota keluargaku. Senyum tipis terpasang di bibirnya tipisnya.
“Usahanya katering. Aku udah minta izin Papa, lewat Mama. Diizinin," lanjutku dengan menekan kata terakhir.
“Ya itu, kan, karna Papa nggak bisa ngomong. Siapa tau sebenernya nggak setuju.” Kama bicara sambil tetap mengatupkan mata. Seringai tercetak di bibirnya.
“Ya udah, kita tanya aja. Papa setuju, kan?” tegasku pada lelaki yang terlihat ringkih itu.
Papa hanya menatapku, tak lama memalingkan wajah. Kama tertawa merasa menang atas diriku. Kirana tersenyum sinis, mengejek.
“Papa setuju kok. Papa cuma nggak mau bahas terus.” Mama bersuara membelaku.
Aku mendengus kasar. Mama tersenyum sekilas kepadaku, tetapi aku melengos malas.
“Aku sama Rendra bakal renov paviliun supaya sesuai standar. Karena operasional tetap harus jalan, untuk sementara tim aku bakal masak di dapur dalem rumah. Nggak lama, maksimal sebulan. Ya, kan, Ren?”
Aku kembali menengok ke arah Rendra. Ia mengangguk kecil.