-POV: Kiara-
“Alhamdulillah, jadi juga dua ratus nasi kotak buat acara pengajian selebtok. Bang Jakaaa, angkuut!”
Irma memanggil Bang Jaka bagai Tarzan. Bang Jaka yang baru berganti baju karena sehabis membantu Rendra di paviliun, langsung menghampiri Irma.
“Sabar, Ma. Jangan tereak awuwooo yaa!” Bang Jaka tersenyum menggoda. Yang lain terkekeh.
“Ih, emang Irma, Tarzan!”
“Lah, emang,” seloroh Bang Jaka.
“Tarzan versi almarhum Benyamin Sueb tapinya, bukan yang bule,” Silvia ikut menyiram bensin untuk mengolok-olok Irma.
“Via, diem lo! Gue kasih virus laptop lo!” Irma mendelik ke arah Silvia yang duduk di atas ambal.
“Gue rekam omongan lo. Nanti kalau kenapa-kenapa, lo tersangka utama.” Silvia menjulurkan lidah. Yang lain tergelak.
Aku menggelengkan kepala. Kalau urusan bercanda dan bertengkar, timku ini memang juara.
“Bang Jaka, jalan sih! Ngapain ngikutin dua cewek ajaib ini?” Aku berkacak pinggang melihat Bang Jaka malah duduk sambil cengar-cengir.
Bang Jaka meringis lalu berdiri dengan sigap. “Hahaha, maap Kak Ara, siap-siap. Semua, adindaku, kakanda berangkat ya.” Bang Jaka mengangkut nasi kotak itu ke mobil operasional.
“Ih, kakanda. Amit-amit,” cetus Mbak Tuti. Kami kembali tertawa.
“Ok, food prep buat besok. Jangan kendor!” Aku menginstruksikan mereka.
“Siap, Kak Ara!” jawab timku serempak, kecuali Silvia, beda urusan.
“Heh, berisik banget! Papa nggak bisa tidur siang, tuh, jadinya!” Kirana keluar dari kamar Papa dengan wajah keruh. Ia berjalan ke arah tangga.
Silvia melirik sinis kepada Kirana. Timku yang sedang mempersiapkan bahan menu besok, saling berpandangan.
“Adek kakak bisa laen gitu, ya,” bisik Ceu Odah. Yang lain manggut-manggut.
Mama mendorong kursi roda Papa menuju teras. Papa minta berhenti di depan dapur. “Eeh … eehh ….” Erangan Papa terdengar.
Mama menghentikan kursi roda. Papa melihat dapur, tepatnya memandangi diriku yang sedang mengecek anak buahku.
Aku melirik ke arah Papa dan langsung membalikkan badan, lebih baik mengecek isi freezer. Ketika aku memutar tubuh kembali, Papa sudah pergi. Aku menghela napas panjang.
Ada rasa tak nyaman mendengar suara rintihan Papa. Suara menggelegar yang kerap membuatku harus menutup telinga, benar-benar raib.
Suara besar yang sering mengundang gunjingan tetangga, membicarakan kekacauan keluargaku. Keluargaku sempat jadi selebritis di lingkungan kami. Buah bibir yang gurih para ibu-ibu sambil membeli sayur.
Gemuruh teriakan Papa ketika kembali gagal bangkit dari keterpurukan, berputar bagaikan rekaman suara yang rusak di telingaku.
“Kenapa, Allah?”
“Kenapa Kau tak izinkan aku kembali sukses?”
“Aku tak butuh seperti dulu, tapi jangan buat aku segagal sekarang!”
Aku sering mendengar raungan-raungan itu di malam hari. Lalu, tak lama menyusul suara tonjokan di dinding paviliun.